Nikah dengan Kakak Angkat #05

0
178
views

Dava dan Dewi, mereka berdua adalah sahabatnya Bunda Melati. Sekaligus karyawan, di restoran milik Ayah Reyhan. Kalau Dewi, itu sudah seperti saudara bagi Bunda Melati. Karena mereka tumbuh bersama-sama, bisa dibilang sebagai anak jalanan. Dava maupun Dewi, mereka adalah orang baik. Teman yang selalu ada, di saat temannya kesusahan. Persahabatan Bunda Melati dengan Dava maupun Dewi, sudah terjalin sangat lama. Bahkan Ayah Reyhan pun, juga akrab dengan mereka.

Dava dan Dewi, awalnya hanya berteman. Namun, takdir menyatukan mereka sebagai pasangan suami istri. Mereka berdua menikah, saat Zaidan berumur 10 tahun. Saat Zaidan masih kecil, mereka begitu tulus menyayangi Zaidan. Sebagai sahabatnya Bunda Melati, mereka juga menganggap Zaidan sebagai anaknya.

Tidak lama setelah menikah, mereka juga akhirnya diberikan amanah. Dewi hamil, setelah sembilan bulan menunggu. Akhirnya, lahir bayi perempuan yang begitu cantik. Dia adalah Adelia, anak dari pasangan Dava dan Dewi, yang tidak lain adalah sahabatnya Bunda Melati.

Namun, takdir berkata lain. Saat setelah melahirkan, mereka pulang dari rumah sakit. Saat itu semuanya terjadi, kecelakaan yang merenggut nyawa mereka. Dava dan Dewi, dinyatakan berpulang ke Rahmatullah. Sedangkan bayinya, alhamdulilah selamat.

“Jadi orang tua Adel, meninggal saat Adel baru dilahirkan?” tanyanya pada Bunda Melati.

Bunda Melati mengangguk. “Iya, Sayang. Setelah pemakaman kedua orang tua kamu, Ayah dan juga Bunda memutuskan untuk merawat kamu. Ayah dan Bunda menjadikan kamu anak, karena memang kita menginginkan anak perempuan,” jawabnya.

Bukan hanya itu, sebelum kedua orang tua Adelia pergi untuk selamanya. Mereka sempat mengatakan sesuatu, bahwa mereka ingin Ayah Reyhan dan Bunda Melati yang merawat Adelia. Awalnya Ayah Reyhan dan juga Bunda Melati, tidak menyadari apa yang mereka katakan. Namun, setelah kejadian itu, merupakan baru sadar arti perkataan itu.

Air mata Adelia luruh, isakan kecil keluar dari mulutnya. Satu fakta lagi yang ia ketahui, bahwa kedua orang tuanya telah tiada. Mereka telah meninggalkan Adelia, bahkan baru saja ia melihat dunia ini. Adelia belum sempat melihat mereka, Adelia juga tidak tahu bagaimana rupa mereka. Mereka sudah tiada, sekarang ia hanya mendengar cerita dari Bunda Melati. Tentang, bagaimana kedua orang tuanya.

“Menjaga kamu adalah sebuah amanah, Sayang. Sampai kapan pun, kamu adalah tanggung jawab Ayah dan Bunda. Kamu jangan pernah meragukan, kasih sayang Ayah dan juga Bunda.”

“Adel belum sempat melihat mereka, Bunda. Adel tidak tahu, bagaimana rupa mereka.” Air mata Adelia, tidak ada henti-hentinya mengalir.

Bunda Melati langsung menarik Adelia ke dalam pelukannya. “Jangan nangis, Sayang! Bunda ada di sini, yang akan selalu ada untuk kamu. Walaupun kamu tidak pernah melihat mereka, tapi kamu tetap bisa mendoakan mereka. Agar kedua orang tua kamu, bisa di tempatkan di tempat terindah di sisi Allah Swt.”

“Bunda—-”

Bunda Melati mengusap lembut punggung Adelia. “Sudah, Sayang! Jangan seperti ini, Bunda tidak ingin melihat kamu bersedih. Kamu tidak sendirian, ada Ayah, Bunda dan juga Abang Zaidan yang selalu ada untuk kamu.”

Adelia mengangguk. “Iya, Bunda. Terima kasih, ya! Karena sudah mau merawat Adel, sampai seperti sekarang,” ujarnya.

Bunda Melati tersenyum. “Iya, Sayang. Kamu itu anak Bunda, sudah seharusnya Bunda menjaga kamu.”

Kini Adelia beralih, menatap makam kedua orang tuanya. “Bapak, Ibu, Adel minta maaf, ya! Karena baru ke sini, Adel baru tahu kalau kalian orang tua kandung Adel.”

Adelia kembali terisak. “Adel selalu mendoakan kalian, agar kalian tenang di sana. Adel sayang kalian, walaupun Adel tidak pernah melihat kalian.”

“Dava, Dewi … Adelia sekarang sudah besar. Dia tumbuh jadi anak yang baik, dan juga pintar. Dia begitu membanggakan, bahkan sekarang Adel ingin masuk fakultas kedokteran.” Kali ini Bunda Melati yang berbicara.

Mata Bunda Melati juga berkaca-kaca, bagaimana tidak kedua orang tua kandung dari Adelia adalah sahabatnya. Mereka sudah seperti saudara, jadi wajar saja kalau Bunda Melati juga merasakan kehilangan.

“Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua, agar tenang di sisi Sang Maha Kuasa.”

***

Isakan kecil masih keluar dari mulut Adelia, masih tidak mudah untuk menerima semuanya. Namun, Adelia harus berusaha, ia yakin kedua orang tuanya pasti sudah tenang di sisi Allah Swt. Adelia juga tidak boleh seperti ini, masih ada Ayah Reyhan dan Bunda Melati yang ada untuk dirinya.

Lama berada di pemakaman bapak dan ibunya, akhirnya Adelia menuruti ajakan Bunda Melati untuk pulang.

“Sudah jangan sedih lagi! Kan masih ada Ayah dan Bunda. Adel tidak sendiri, kita semua sayang dengan Adel,” ujar Bunda Melati.

Adelia tersenyum. “Terima kasih, Bunda.”

Adelia mengikuti Bunda Melati masuk ke dalam mobil, di dalam mobil juga Bunda Melati tidak ada henti-hentinya untuk menghibur sang anak. Bunda Melati menceritakan berbagai macam, kegiatannya menjadi dokter. Karena Bunda Melati paling tahu, kalau sudah membahas tentang kedokteran Adelia kembali semangat. Dan memang benar saja, Adelia kembali ceria lagi.

“Kita makan siang dulu, ya! Kebetulan sudah masuk, jam makan siang,” usul Bunda Melati.

“Iya, Bunda,” sahut Adelia.

“Bang, kita mampir ke restoran, ya!” suruh Melati, pada Zaidan.

“Iya, Bunda.” Zaidan pun langsung menjalankan mobilnya, menuju restoran yang terdekat.

Sekarang mereka sudah sampai di restoran, Zaidan, Adelia, maupun Bunda Melati langsung menuju salah satu meja yang ada di restoran ini.

“Kita tunggu Ayah dulu, ya! Ayah bilang, lagi berada di dekat ini. Biar kita bisa makan sama-sama,” ujar Bunda Melati.

Zaidan dan Adelia hanya mengangguk saja.

Tidak berselang lama, Ayah Reyhan datang. Dia langsung duduk, di samping Bunda Melati. “Kalian sudah pesan makanan?” tanyanya.

“Belum, Yah! Kita semua nungguin Ayah,” jawab Bunda Melati.

“Ya sudah, kalian pesan makanan! Adel, mau makan apa?” tanya Ayah Reyhan lagi.

“Adel apa aja, Yah,” jawabnya.

“Kalau Bunda dan Zai, mau pesan apa?”

“Samain aja, Yah.” Bunda Melati mulai memasang semua makanannya.

Tidak berselang lama, makanan yang mereka pesan sudah datang. Mereka mulai memakan makanan itu, dan kembali lagi di sini terlihat kasih sayang Ayah Reyhan dan Bunda Melati. Mereka sangat memperhatikan makanan Adelia, bahkan sampai Bunda Melati menyuapi anak perempuannya itu.

Ayah Reyhan dan Bunda Melati memang sangat menyayangi Adelia, mereka tidak pernah menganggap Adelia sebagai anak angkat. Bagi mereka, Adelia anak mereka. Sampai kapan pun akan seperti itu, tidak ada yang bisa menggantikan. Hal itu semakin membuat Adelia bersyukur, karena memiliki orang tua seperti mereka. Adelia tidak pernah kekurangan kasih sayang, karena Ayah Reyhan dan Bunda Melati selalu memberikannya.

“Mau es krim, Del?” tawar Ayah Reyhan.

Adelia menunduk. “Mau, Yah. Kalau dibeliin,” sahutnya.

Ayah Reyhan tersenyum. Ia langsung memanggil pelayan di restoran ini, dan memesankan es krim untuk sang anak.

“Zai, kamu juga mau es krim?” tanya Ayah Reyhan.

“Nggak, Yah! Memangnya Zai seperti Adel, yang suka makan es krim,” sahutnya.

Adelia mengerucutkan bibirnya. “Bilang aja Abang iri! Karena Adel dibeliin sama Ayah, kalau Abang nggak dibeliin,” protesnya tidak terima.

“Siapa juga yang iri? Saya bukan anak kecil, kalau sedih langsung disogok sama es krim langsung diam. Makan tuh es krim, biar pipi kamu makin bengkak.”

“Abang!”

Zaidan tertawa, karena berhasil membuat adiknya itu kesal.

Ayah Reyhan dan Bunda Melati, hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau kedua anaknya sedang berkumpul, pastilah akan seperti ini. Sayang, mereka berdua bukan kakak adik kandung. Andai saja Zaidan dan Adelia … Ah sepertinya tidak mungkin.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here