Nikah dengan Kakak Angkat #04

0
216
views

Sesuai rencana, hari ini Bunda Melati akan memberitahu Adelia tentang orang tua kandungnya. Namun, Bunda Melati tidak mengatakan, akan mengajak ia pergi ke mana. Bunda Melati hanya menyuruh Adelia untuk siap-siap, karena mereka akan berangkat pagi. Selain itu juga, Adelia disuruh harus benar-benar mempersiapkan diri. Dan juga berjanji, apa pun yang terjadi tidak akan pernah meninggalkan Ayah Reyhan dan Bunda Melati.

Entahlah, Adelia tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan sekarang. Rasanya begitu campur aduk, sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas sekarang, terselip rasa bahagia di hatinya. Karena akhirnya, ia bisa mengetahui di mana orang tua kandungnya. Namun, tidak bisa dipungkiri, ada sedikit rasa kekhawatiran. Adelia hanya takut, kalau orang tua kandungnya tidak sesuai dengan apa yang ia bayangkan.

Setelah menyematkan bros pada jilbab pasminanya, Adelia kembali duduk di kasur. Ia memeluk boneka Doraemon, pemberian dari Abang Zaidan. Bicara soal Abang Zaidan, Adelia jadi teringat tentang kakaknya itu. Adelia jadi penasaran, dengan laki-laki itu. Apakah kakaknya itu sudah lama tahu, kalau ia bukan adik kandungnya? Atau kakaknya itu, memang baru tahu? Sama seperti dirinya.

“Kalau dilihat dari sikapnya Abang Zai sih, dia sudah lama tahu. Bahwa aku, bukan adik kandungnya.”

Adelia tiba-tiba teringat sesuatu, kalau kakaknya itu sama sekali tidak pernah menyentuhnya. Tepat setelah Adelia akil balig, kakaknya itu seakan menjaga jarak dengan dirinya.

Adelia ingat betul, bagaimana laki-laki itu selalu menjaga jarak dengan dirinya. Bagaimana ia selalu menghindar, saat Adelia ingin memeluknya.

Saat itu Zaidan baru saja pulang dari luar kota, seperti biasanya laki-laki itu pasti selalu membawakan oleh-oleh untuk adiknya. Karena terlalu senang mendapatkan oleh-oleh, Adelia hendak memeluk Zaidan sebagai ucapan terima kasihnya. Namun, dengan cepat laki-laki itu menghindar.

“Jangan dekat-dekat dengan Abang!” peringatinya.

“Kenapa, Bang?” tanyanya kebingungan.

“Ya, tidak apa-apa! Hanya saja, Abang risih kalau kamu peluk,” jawabnya.

“Kok gitu sih, Bang? Emang badan Adel bau apa?” Awalnya Adelia sempat bingung, pasalnya waktu kecil kakaknya itu selalu bahagia kalau ia peluk. Namun, akhir-akhir ini kakaknya seakan terus menghindar. Setiap kali, Adelia ingin bermanja-manja dengannya.

“Iya, kamu bau! Makanya jangan dekat-dekat dengan Abang, nanti Abang ketularan bau kamu.”

Adelia mengerucut bibirnya. “Abang kok ngeselin! Adel tidak bau, wangi gini dibilang bau.”

“Wangi apaan? Orang bau gitu.” Saat itu Adelia hanya kesal, karena dikatakan bau. Namun, sekarang ia mengerti, itu cuma alasan kakaknya saja. Mereka sebenarnya bukan mahram, dan tidak bisa bersentuhan.

Adelia juga menyadari satu hal, bukan hanya kakaknya yang menjaga jarak dengan dia. Namun, sang ayah juga, tidak pernah mau menyentuh dia. Bodohnya di sini, Adelia tidak menyadari apa pun. Ia sama sekali tidak menaruh curiga, atas sikap ayahnya dan juga kakaknya.

Tetapi, walaupun mereka selalu menjaga jarak dengan Adelia. Ayah Reyhan, atupun Abang Zaidan selalu memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya. Mereka begitu perhatian terhadap Adelia, bahkan selalu memperlakukan Adelia sebagai ratu. Adelia di rumah ini, memang selalu dimanja. Baik Ayah Reyhan, Bunda Melati, dan Abang Zaidan tidak pernah membuat Adelia bersedih. Mereka selalu memprioritaskan kebahagiaan Adelia, itulah sebabnya Adelia bahagia bisa berada di tengah-tengah mereka.

“Sekarang aku tahu, alasan Ayah dan juga Abang. Mereka menjaga jarak, karena memang kita bukan mahram. Secara tidak langsung, mereka sangat menghargai aku. Mereka tidak ingin, aku disentuh seseorang yang bukan mahramnya.”

“Aku bersyukur, bisa menjadi bagian dari keluarga mereka. Aku tidak tahu, apa jadinya hidup ini kalau tidak ada mereka. Kasih sayang yang mereka berikan selama ini, rasanya sudah cukup. Aku seharusnya, tidak perlu mencari tahu orang tua kandungku lagi.”

“Namun, di satu sisi. Aku sangat penasaran, siapa orang tua kandung aku? Apakah mereka, sebaik Ayah dan juga Bunda?”

***

Pintu kamar terbuka, Bunda Melati masuk seraya tersenyum manis. Bunda Melati duduk di sebelah Adelia, yang masih terlihat diam saja.

“Kamu sudah siap?” tanyanya lembut.

Adelia hanya mengangguk.

“Kalau sudah siap, terus kenapa tidak keluar? Bunda nungguin kamu dari tadi lho.”

Adelia menatap sang Bunda. “Adel takut, Bunda,” cicitnya.

“Takut kenapa, Sayang?” tanya Bunda Melati lagi.

“Takut kalau—-” Adelia tidak bisa melanjutkan ucapannya.

Bunda Melati tersenyum, dia mengusap lembut kepala Adelia. Saat Adelia sedang gelisah seperti ini, Bunda Melati paling bisa menenangkannya. Seperti sekarang ini, hanya mendapatkan sedikit perlakuan manis dari sang Bunda. Hati Adelia, yang sedari tadi gelisah. Kini mulai bisa tenang, dan itu semua karena bundanya.

“Bunda mengerti apa yang kamu rasakan. Tapi, kamu harus percaya dengan Bunda. Tidak ada yang perlu kamu takutkan, orang tua kandung kamu itu orang baik.”

Adelia menatap bingung ke Bunda Melati. Orang baik? Itu artinya, Bunda Melati mengenal orang tua kandungnya?

“Bunda kenal dengan orang tua kandung Adel?” tanyanya akhirnya.

Bunda Melati mengangguk. “Iya, Sayang. Ibu kamu itu, adalah sahabatnya Bunda.”

Sahabat Bunda Melati? Apa mereka menitipkan Adelia ke Ayah Reyhan dan juga Bunda Melati? Tapi kenapa? Apa alasannya? Ah, Adelia semakin dibuat bingung saja.

“Sahabat, Bunda?”

“Iya, Sayang.”

“Tapi, kenapa mereka menitipkan Adel ke Ayah dan Bunda? Apa mereka, tidak ingin mempunyai anak seperti Adel?” Jujur saja, mata Adelia sudah berkaca-kaca.

Adelia awalnya sempat mengira, bahwa ia anak yang diambil dari panti asuhan. Namun, ternyata dugaannya salah, ia adalah anak dari sahabatnya bundanya.

Bunda Melati langsung menggeleng. “Bukan begitu, Del. Kamu lebih ikut bunda saja, dan setelah itu kamu akan tahu semua. Jangan mudah berprasangka yang tidak-tidak, kamu harus percaya bahwa orang tua kandung itu sangat menyayangi kamu.”

Menyayangi? Lalu kenapa mereka tidak merawat Adelia? Adelia semakin dibuat bingung dengan semuanya.

“Kenapa tidak kasih tahu Adel sekarang saja, Bunda?” desaknya.

Bunda Melati mencubit gemas pipi Adelia. “Kamu itu keras kepala, ya! Abang Zaidan di luar sudah menunggu, kasih dia kalau terlalu lama menunggu kamu.”

Adelia pun mendesah pasrah. Ia mengikuti sang bunda untuk keluar.

Mereka sekarang sudah berada di depan rumah, di garasi sudah ada Zaidan yang menunggu.

“Lama banget sih! Ngapain aja di dalam?” tanya Abang Zaidan, seraya menatap Adelia kesal.

“Sabar, Bang. Jadi orang nggak sabaran banget sih! Pantesan jomblo, jadi laki-laki galak begitu,” sahutnya.

Zaidan melotot tajam. “Apa kata kamu? Jangan sembarangan bicara!”

“Adel memang benar ‘kan? Abang Zaidan, sudah tua masih saja jomblo! Gimana nggak jomblo, orang galak seperti itu. Mana ada perempuan yang mau, sama laki-laki galak,” ledeknya.

“Anak kecil tidak usah ikut bicara!”

“Abang Zaidan jomblo! Ble.” Adelia semakin gencar meledek sang kakak.

“Sudah! Zaidan, Adel!  Jangan ribut, lebih baik kita berangkat sekarang.” Bunda Melati melerai kedua anaknya.

Zaidan maupun Adelia, langsung menurut perkataan bundanya. Karena memang, mereka paling tidak berani kalau sang bunda sudah marah.

Mereka masuk ke dalam mobil, dan Zaidan pun mulai menjalankan mobilnya ke tempat yang sudah diberitahukan Bunda Melati.

Setelah hampir satu jam perjalanan, kini mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di tempat tujuan.

Namun, di sini Adelia kembali dibuat bingung. Bunda Melati, mengajak ia pergi ke pemakaman. Mendadak ada perasaan aneh di hati si Adelia, berbagai pertanyaan memenuhi isi kepalanya.

Kenapa bundanya mengajak ke tempat ini? Bukankah tadi katanya, ingin mengajak ia mengetahui kedua orang tua kandungnya? Atau jangan-jangan ….

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here