Nikah dengan Kakak Angkat #03

0
67
views

Setelah memarkirkan mobilnya, Zaidan langsung mengajak Adelia untuk turun. Menemui ayah dan bundanya, yang sudah menunggu kedatangan dirinya sendiri tadi. Zaidan yakin kalau ayah dan bundanya pasti sangat bahagia, saat Adelia kembali lagi ke rumah. Zaidan tentunya dapat melihat, raut kekhawatiran di dalam diri kedua orang tuanya. Saat Adelia pergi dari rumah, untuk meninggalkan mereka. Cemas tentu saja, apalagi Adelia tidak bisa jauh dari mereka.

Namun, sepertinya di sini, Adelia masih enggan untuk masuk ke rumah. Entahlah, apa yang ada dalam pikiran perempuan itu. Zaidan juga tidak tahu, yang jelas terlihat mata adiknya itu memancarkan kesedihan.

Zaidan tahu, apa yang dirasakan Adelia. Pasti tidak mudah untuk menerima semuanya, tapi ini sudah takdir dari Allah Swt. Siapa pun, tidak bisa menolaknya. Bagi Zaidan, walaupun ayah dan bundanya bukan orang tua kandung Adelia. Tetapi, kasih sayang yang mereka berikan, tentunya tidak kalah besar. Zaidan dapat melihat itu, orang tuanya begitu tulus menyayangi Adelia. Zaidan yakin, Adelia juga mengetahui itu.

“Masuk, Del! Ayah dan Bunda, sudah menunggu kamu,” suruh Zaidan, ketika mereka sudah di depan pintu.

Adelia hanya bisa menghembus napasnya.

“Ayolah, Del! Kasihan Ayah dan Bunda, mereka itu sangat mengkhawatirkan kamu,” ujarnya.

Zaidan jadi gemas dengan adiknya ini, bagaimana tidak sedari tadi dia hanya diam saja. Ini jelas bukan Adelia yang ia kenal, yang selalu cerewet dan juga ceria.

“Del,” panggilnya.

Adelia menoleh. “Kenapa, Bang?” tanyanya akhirnya.

“Masuk ke rumah, Del! Temui Ayah dan Bunda,” suruhnya lagi.

Adelia akhirnya mengangguk. Ia menuruti, apa yang dikatakan kakaknya itu.

Pintu rumah terbuka. Di dalam sana, sudah terlihat kedua orang tuanya, menunggu kedatangan mereka berdua. Zaidan dan Adelia, berjalan masuk ke dalam rumah.

“Assalamualaikum,” salam keduanya.

“Waalaikumsalam Warahmatullahi Wabarakatuh,” jawab Ayah Reyhan, dan Bunda Melati.

Seketika air mata Adelia tumpah, saat melihat ayah dan bundanya. Berbagai perasaan kini dirasakannya, sedih merasa bersalah dan juga haru menjadi satu.

“Adelia—–”

Bunda Melati langsung menghampiri Adelia, dan juga memeluknya erat. Bunda Melati sangat khawatir, dengan kondisi sang anak. Ia begitu takut, kalau sampai Adelia meninggalkannya. Bunda Melati tentunya tidak akan sanggup, kalau harus jauh-jauh dari anaknya itu.

“Bunda khawatir dengan kondisi kamu, Sayang,” ujarnya.

“Maafkan Adel, Bunda. Maafkan Adel, yang sudah membuat Bunda khawatir.” Isak tangis, kembali keluar dari mulutnya.

Bunda Melati semakin mempererat pelukannya. Sungguh rasanya, ia tidak sanggup kalau harus hidup tanpa anaknya. Ia tidak bisa membayangkan, kalau di hidupnya tidak ada Adelia.

“Jangan tinggalkan Bunda, Sayang. Bunda tidak ingin kehilangan kamu.” Walaupun Adelia bukan anak kandungnya, bukan anak yang keluar dari rahimnya. Namun, Bunda Melati sangat menyayanginya Adelia, sudah seperti anak kandung sendiri. Ia yang selama ini merawat Adelia, sejak dari bayi.

“Adel tidak akan meninggalkan, Bunda. Adel sayang dengan Bunda, sekali lagi maafkan Adel Bunda.”

“Bunda juga menyayangi kamu, Sayang. Tidak perlu minta maaf, yang terpenting sekarang Adel sudah ada di sisi Bunda.”

Ayah Reyhan mendekat. Ia tersenyum, akhirnya anak perempuan yang ia sayangi bisa kembali lagi. Sama dengan Bunda Melati, Ayah Reyhan pun tidak ingin kehilangan anaknya itu. Ayah Reyhan menyayangi Adelia, walaupun dia bukan anak kandungnya. Ayah Reyhan sangat khawatir, saat Adelia pergi dari rumah. Sebagai seorang ayah, tentunya dia ingin membuat anak bahagia.

“Ayah mohon, Del! Jangan pergi lagi, Ayah dan Bunda sangat mengkhawatirkan kamu,” ujarnya.

“Iya, Ayah. Maafkan Adel! Karena sudah membuat kalian khawatir, Adel janji tidak akan seperti itu lagi,” sahutnya.

“Dengarkan Ayah, Del! Kamu memang bukan anak kandung kami, tapi kasih sayang Ayah dan Bunda itu tulus sama kamu. Kami tidak pernah menganggap kamu, anak angkat. Bagi Ayah dan Bunda, Adelia itu adalah anak Ayah dan Bunda.”

Adelia tersenyum. “Iya, Ayah. Terima kasih, karena sudah sayang sama Adel.”

“Sampai kapan pun, Ayah dan Bunda akan menyayangi kamu.”

“Ya sudah, Sayang. Lebih baik kamu bersihkan diri kamu, habis itu baru makan. Bunda sudah buatkan, makanan kesukaan kamu,” suruh Bunda Melati.

Adelia lagi-lagi tersenyum. “Iya, Bunda. Adel pamit ke kamar dulu, ya!”

***

 

Malam harinya, setelah makan malam bersama ayah bunda dan juga Zaidan. Adelia hanya menghabiskan waktu, duduk di balkon kamarnya. Tatapan lurus ke depan, sambil melihat pemandangan di sekitar pada malam hari.

Pikiran Adelia masih melayang, tentang dirinya yang hanya anak angkat. Seketika Adelia bertanya-tanya, siapa orang tua kandungnya? Apa alasan Ayah Reyhan dan Bunda Melati, mengangkatnya jadi anak? Padahal, Ayah Reyhan dan Bunda Melati, sudah memiliki anak yaitu Zaidan. Lalu apa alasan sebenarnya?

Adelia penasaran, siapa orang tua kamu kandungnya? Tentunya sebagai seorang anak, Adelia hanya ingin tahu tentang mereka. Ya, walaupun ada Ayah Reyhan dan Bunda Melati, yang selalu menyayanginya dengan tulus. Tapi, tidak ada salahnya ‘kan ia tahu tentang orang tuanya?

“Kalau tanya sama Ayah dan Bunda, apa mereka akan mau kasih tahu siapa orang tua kandung aku?”

Tidak berselang lama. Bunda Melati masuk ke kamar Adelia, Bunda Melati membawakan susu hangat untuk anaknya itu.

“Minum susu dulu, Sayang!” suruh Bunda Melati.

Adelia tersenyum. Bundanya selalu saja perhatian, walaupun Adelia hanya anak angkatnya.

“Seharusnya tidak perlu repot-repot, Bunda. Adel bisa ambil sendiri nanti,” ujarnya.

Bunda Melati menggeleng. “Iya. Tapi, kali ini Bunda mau mengambilkannya untuk Adel,” sahutnya.

“Terima kasih, Bunda. Sudah selalu sayang sama Adel. Walaupun Adel, bukan anak kandung Bunda,” ucapnya terdengar lirih.

“Kamu bicara apa sih, Sayang? Kamu itu anak Bunda, dan tidak ada namanya bukan anak kandung. Yang Adel harus tahu, Ayah dan Bunda adalah orang tuanya Adel. Yang akan selalu sayang sama Adel, dan kamu harus percaya itu.”

Adelia lagi-lagi tersenyum. Beberapa detik kemudian, ia langsung berhambur ke pelukan sang Bunda. “Adel sayang banget sama, Bunda. Terima kasih, ya, Bunda. Karena sudah merawat Adel selama ini, sudah membesarkan Adel dengan kasih sayang.”

“Sama-sama, Sayang. Hadirnya Adel dalam hidup Bunda, membawa banyak kebahagiaan.”

Tiba-tiba Adelia teringat, akan rasa penasarannya tadi. Adelia rasa, kalau ia bertanya bundanya juga tidak akan marah. Adelia yakin, bundanya akan mengerti. Toh, Adelia cuma bertanya, ia hanya ingin tahu. Tidak ada niat apa-apa, apalagi berniat meninggalkan ayah dan bundanya.

“Bunda!” panggilnya. Menjauhkan sedikit tubuhnya, dari sang bunda.

“Kenapa, Sayang?” Bunda Melati, mengelus lembut pipi Adelia.

Adelia menggigit bibirnya. “Apakah Adel boleh tahu, di mana orang tua kandung Adel berada?”

“Kamu mau tahu orang tua kandung kamu?” tanya Bunda Melati.

Adelia mengangguk. “Iya, Bunda. Adel hanya ingin tahu, bukan maksud apa-apa. Kalau Bunda keberatan, Adel tidak akan bertanya lagi,” jawabnya. Adelia merasa tidak enak, ia jadi takut kalau bundanya jadi tersinggung karena Adelia membahas tentang ini.

Di luar dugaan, Bunda Melati yang dikira Adelia akan marah. Namun, nyatanya salah, Bunda Melati malahan tersenyum ke terhadapnya. “Besok kamu ikut Bunda, ya!”

“Ke mana, Bunda?” tanyanya penasaran.

“Ikut saja besok! Bunda yakin, semua rasa penasaran kamu akan terjawab.”

“Maksudnya, Bunda?”

Bunda Melati hanya tersenyum. “Kamu lebih baik tidur! Ini sudah malam, tidak baik anak gadis tidur terlalu malam.”

“Bunda—-”

“Bunda keluar dulu, ya! Ingat habis minum susu itu, harus langsung tidur.” Bunda Melati keluar dari kamar Adelia, meninggalkan Adelia masih bertanya-tanya tentang ucapan bundanya tadi.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here