My Bos… I Love U #44

0
133
views

Setelah kepulangan orang tua Nadia, Reyhand mengajak istrinya untuk menempati apartement miliknya, nadia tidak keberatan dengan keinginan Reyhand, disamping ingin menghabiskan waktu bersama, alangkah baiknya ia hidup mandiri bersama suami tidak harus tergantung kepada orang tua Reyhand.

Malam ini Nadia Kasih Ayunda terlihat fres dengan mengenakan pakaian tidur terlihat santai rambut indahnya dibiarkan tergerai. Nadia keluar dari kamar mencari Rey, ia tidak mendapati suaminya di ruang tamu hanya suara televisi yang menyiarkan seputar berita.

Nadia melirkkan matanya ke arah balkon luar ternyata Reyhand berdiri di sana, sedang menikmati malam sambil memandang ombak yang bergemuruh dari kejauhan.

Nadia menghampiri Rey dengan langkah perlahan, setelah begitu dekat dengan gerakkan lembut Nadia melingkarkan tangannya ke perut Rey dari belakang, kepalanya ia sandarkan ke punggung suaminya menghirup aroma wangi khas tubuh Rey yang sudah menjadi candu baginya.

“kenapa sayang…?”
Suara Rey bertanya dengan halus, tangannya mengelus jemari Nadia yang bertumpu diperutnya.

Karena lama tak ada jawaban dari mulut Nadia, Rey memutar tubuhnya menghadap gadis itu.

“Kenapa,,? kau merindukanku hmm..?”
Nadia menyembunyikan wajahnya yang sudah merona merah didada bidang suaminya, sekan mencari kenyamanan di sana. Rey mengusap lembut punggung istrinya.
“Aku mencintaimu sayang, tetaplah selalu bersamaku apapun yang terjadi”
Ucap rey sambil mengecup pucuk kepada Nadia serta menghirup aroma shampo Vanila kesukaan istrinya.
“aku juga mencintaimu,, aku akan selalu ada untukmu Rey, hingga Allah berkehendak lain memisahkan kita lewat ajal”
“Terima kasih sayang”
Rey mencuium lembut kening Nadia, lalu turun mengecup matanya, hidung mungil gadis itupun tak luput dari sambaran bibir Reyhand.

Rey mencium bibir Nadia dengan hati-hati, Nadia memekamkan mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan suaminya, tangannya mulai melingkar ke belakang leher Reyhand.

Keduanya segera melepaskan pagutan mereka setelah dirasa nafasnya sesak. Sejenak mereka menarik nafas dalam-dalam, dengan gerakan spontan Reyhand menggendong Nadia ala bridelstil dan membopongnya Nadia menuju arah kamar,Reyhand membaringkan tubuh istrinya di atas tempat tidur sangat hati-hati seakan Nadia adalah barang pecah yang harus diperlakukan dengan baik. Reyhand mulai mencium kembali istrinya, membuat Nadia sedikit kegelian. Rey berhenti sejenak, matanya memandang sayu ke arah Nadia.

Sudah selayaknya pasangan-pasangan yang diridhoi Allah menikmati hasil dari perjuangan mereka dalam bentuk cinta.

Dengan izin Allah pula mereka menyatukan jiwa raga mereka menjadi satu, yang dimana kelak membuahkan hasil dari percintaan mereka yakni generasi-generasi penerus yang akan membawa mereka ke dalam perjuangan dan kehidupan yang sebenarnya.

****

Mereka salaing memandang bibir keduanya menyunggingkan senyum, tangan Rey mengusap lembut wajah pucat istrinya.
“Maafkan aku sayang telah menyakitimu” Nadia menggeleng pelan.
“Tidak seharunsya kau minta maaf, ini sudah kewajibanku sebagai seorang istri menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk suami”

Lirih Nadia dengan ketulusan dan kebanggaan yang tak terhingga. Kehormatannya yang dijaga selama 23 tahun telah ia persembahkan untuk lelaki halalnya, begitu juga Reyhand.

“Terima kasih sayang kau sudah menjaga kehormatanmu untukku, tidurlah kau pasti lelah”. Rey mendekap istrinya penuh kasih.

****

Nadia Kasih Ayunda dengan cekatan memasang dasi di leher suaminya. Nadia sudah terbiasa dulu suka membantu ayahnya memasang dasi, jadi itu hal yang mudah baginya.

Tangan Rey memegang pinggang ramping Nadia, sekali-sekali bibirnya mencuri ciuman di pipi sang istri.
Ini kali kelima Rey dengan jahil mencium bibir Nadia.

“Rey, bisa diam tidak sih? jadinya ga beres-beres pasang dasinya,” hardik Nadia, memprotes ulah suaminya.

Reyhand tak menggubris hardikan Nadia, malah semakin senang melihat mimik kesal yang diperlihatkan Nadia atas ulah jahilnya.

Cup, kembali Rey mencium namun kali ini mendapat cubitan super maut dari Nadia.
“Aaww … sakit sayang ampun, lepasin,” seru Rey meringis kesakitan.

“Ngga akan aku lepasin kalau jahilmu ga berhenti,” gertak Nadia, masih menyubit pinggang Reyhand.

“Ok … aku ga bakal cium-cium lagi janji, lepasin yang, duh sakit amat.”

Nadia melepaskan cubitannya setelah Reyhand mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya tanda menyerah dengan wajah meringis.

Nadia terkekeh. “Makanya sabar sedikit kenapa sih? ini sudah waktunya berangkat kerja.”

“Tapi, aku malas pergi, boleh sehari ini saja aku tidak kekantor?” pinta Rey seperti anak kecil yang membujuk ibunya agar tidak masuk sekolah.

“Tidak! sudah cukup istirahatmu, Rey.”

“Aku masih ingin berdua denganmu, please.”

Nadia menggeleng, baginya sudah cukup Reyhand beristirahat dari sejak pernikannya yang sudah berjalan delapan hari dan kepindahannya ke apartemen empat hari yang lalu.

Dan selama empat hari pula mereka menghabiskan waktu bersama dengan hal-hal yang membuat mereka benar-benar tidak akan pernah bisa melupakan.
Kebahagiaan yang tak terlukis dari kedua wajah pasangan pengantin baru.
Pagi, siang, malam seakan merekalah yang merasakan. Namun ada titik jenuh dan lelah bagi Nadia jika Rey terus berada bersamanya.

Seperti saat ini Nadia kukuh membujuk Rey untuk kembali beraktifitas di kantornya. Selama Reyhand tidak ke kantor Mickha lah kepercayaan keluarga mengurus mall milik keluarga Reyhand.

“Ayo, berangat Rey,” kata Nadia, membawakan tas milik suaminya yang berisi dokumen yang harus ditandatangani seperti biasa tanpa bisa diwakili.

Akhirnya Rey berangkat juga ke kantornya dengan syarat istrinya harus ikut menamani dia.
Nadia menurut, lagi pula ia ingin sekali bertemu dengan sahabatnya Nurfadilla di tempat mereka dulu bekerja.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Kembali ke #43

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Previous articleAntara Cinta dan Persahabatan # 40
Next articleBodyguard with Love #22
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here