My Bos… I Love U #39

0
1659
views

Mobil yang ditumpangi Reyhand dan Nadia Kasih Ayunda memasuki halaman rumah mewahnya di Jakarta, mereka telah kembali ke kota itu setelah melakukan perjalanan beberapa jam.

“Ayo sayang kita turun, sudah sampai,” ajak Rey dibalas anggukkan oleh Nadia.

Mereka melangkah beriringan memasuki rumah yang pintunya sedikit terbuka.
Hati Nadia sedikit bergemuruh, Rey merengkuh tangan gadisnya seakan menyalurkan kekuatan pada Nadia untuk berani menghadapi calon mertuanya yang sama sekali belum pernah ia temui, dan entah bagaimana sikapnya nanti kepadanya.

“Assalamualaikum,” salam Reyhand dan Nadia bersamaan.

“papih rey…!”

“wa’alaikumssalam.”

Suara khas gadis cilik milik Zara Sheinafia dan balasan ucap salam dari dalam rumah menggema menyambut mereka.

Zara langsung menghambur dalam pelukkan Rey, sebelumnya sempat memeluk dahulu Nadia dan menciumi pipinya.

“Alhamdulilah, akhirnya kamu sudah pulang Rey.”

“iya mih,” jawab Rey sambil mencium punggung tangan mamih Manda.

“Dan ini-”
Dengan wajah berseri Amanda menatap lekat wajah cantik Nadia.

“Assalamualaikum tante,” sapa Nadia, mengikuti sikap Reyhand mencium punggung tangan Amanda.

Tiba-tiba raut muka Amanda berubah dingin. Reaksi Amanda tak luput dari tatapan Rey dan Nadia, mereka saling berpandangan.

Reyhand dan Nadia merasa heran dengan perubahan wajah Amanda yang semula berseri menjadi diam dan dingin
.

“Mamih kenapa”?

“Mamih tidak suka dengan calon istrimu ini,” ucapnya sedikit ketus.

Nadia menundukkan kepalanya, jantungnya berdegup kencang, ia merasa kehadirannya tidak diinginkan.

“Maksud mamih apa? Bukankah mamih yang meminta Rey untuk membawa Nadia kemari?”

“Iya mamih tau, mamih hanya tidak suka saja, masa calon menantu manggilnya tante.”

Nadia dan Rey kembali berpandangan, tak lama Rey menyadari perubahan pada mamihnya.

“Asstaghfirullah mih, Rey kirain ada apa!”

“Maafkan Nadia mih.” Ujar Nadia mulai paham dengan situasi yang sebenarnya.

“Nah gitu kan panggilnya lebih enak.”
Amanda kembali memasang wajah gembira dan segera memeluk erat calon menantunya.

Ada rasa haru yang Nadia rasakan begitu menerima pelukkan hangat dari Amanda.

“Hai Nadia!”
Artha keluar dari kamarnya dan langsung memeluk Nadia.

“Apa kabar Nad?”

“Alhamdulilah baik kak, bagaimana dengan kak Artha?”

“Alhamdulilah kakak juga baik.”

“kalian istirahatlah dulu, pasti capek setelah perjalanan jauh. Nadia kamu bisa pakai kamar Artha, jika butuh sesuatu bilang saja ada bi Narsih atau Artha.”

“Iya mih terimakasih.”

“Nanti malam kita makan bersama sekalian kita bicarakan kapan hari pernikahan kalian.”

****

Nadia merasa sangat bersyukur atas apa yang ia hadapi, miliki dan ia rasakan, semuanya terasa begitu mudah setelah sedikit menghadapi perjuangan yang cukup berat dan ia berdoa semoga Tuhan melancarkan niat yang ia ikrarkan bersama Reyhand menuju pernikahan yang mereka impikan.

“Terimakasih yaa Allah puji syukurku kepadamu.”
Batin Nadia.

Hasil diskusipun membawa kesepakatan bahwa pernikahan Reyhand dan Nadia akan dilaksanan tiga minggu kedepan.
Tidak termasuk kunjungan lamaran kedua yang akan dilakukan tiga hari lagi.

Kali ini lamaran kedua dilakukan langsung oleh kedua orang tua Reyhand sejaligus membawa kembali Nadia ke Bandung.
Keinginan keluarga Reyhand acara ijab qobul dan resepsi dilaksanakan di Jakarta semua ditanggung oleh keluarga Rey, dan tinggal menunggu persetujuan dari keluarga pihak Nadia.

Nadia tak bisa menolak keinginan mamih Manda yang begitu terobsesi dengan pernikahan putra kesayangannya.

****

Nadia melangkahkan kakinya kembali di pelataran mall tempat ia dulu bekerja setelah beberapa lama tidak menginjaknya. Rasa rindu pada Nurfadilla Basri sahabatnya tak terbendung lagi.

Nadia meminta Reyhand mengantarnya ke mall milik calon suaminya ini, disinilah Nadia berada dengan Zara yang setia menemani.

Setelah mengantarkan Nadia dan Zara ke tempat yang dituju, Reyhand langsung memasuki ruang kantornya.

“Adilla…”
panggil Nadia sambil menepuk pundak sahabatnya.

Adilla terlonjak langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Nadia
.
“Nadiaaaa …! Ya Allah kamu ada disini Nad?”

Nadia langsung menutup kedua telinga mendengar teriakkan sahabatnya. “Astaghfirullah Dill suaramu itu tambah cempreng aja, kecilin dong dikit napa!”

Nadia sambil memeluk Adilla penuh kerinduan.

****

Nurfadilla membelalakan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang diceritakan Nadia. “Yaa Allah kamu serius Nad?”

Nadia mengangguk bibirnya menahan tawa melihat reaksi sahabatnya.

“Masyaa Allah aku sangat bahagia mendengarnya. Selamat ya Nad, kamu bakal jadi nyonya bos Reyhand. Aahhkk … kamu jadi bos aku dong hikzhikz. ”

Nadia tertawa melihat ekspresi lucu Adilla.

“Do’kan aku ya Dill, semoga rencana kami berjalan lancar.”

“Tentu saja, itu pasti. Aku selalu berdo’a untukmu Nad. Alhamdulillah ternyata benar nasibmu sungguh beruntung.”

“Terima kasih banyak, Dill. Kamu memang sahabatku yang terbaik,” ucap Nadia sambil memeluk sahabatnya.

“Oh iya, Dill. Bagaimana hubunganmu dengan Robby?”

“In syaa Allah, Robby sudah serius sama aku. Aku sudah bertemu dengan orang tuanya. Alhamdulillah mereka menerimaku dan menyayangi aku, Nad,” ujar Adilla antusias dengan wajah berbinar.

“Allahmdulillah. Semoga kalian berjodoh ya Dill.”

“Aamiin, makasih do’anya, Nad.” Adilla memeluk sahabatnya.

Nadia mengangguk dan membalas pelukkan Adilla dengan senyum bahagia.

“Tante Nadia ayo ke tempat papih Rey.” Zara menarik tangan Nadia untuk segera meninggalkan tempat bermainnya.

“Iya sayang, Zara sudah kenyang bermainnya?”

“Sudah Tante.”

“Ya sudah. Yuk, kita ke tempat papih Rey. Adilla aku ke ruangan Reyhand dulu ya?”

“Iya Nad, jangan lupa ya, kabari lagi aku tanggal pernikahanmu nanti.”

“Iya, In Syaa Allah.”

****

Nadia dan Zara memasuki ruangan Reyhand setelah mengetuk pintu dan mendapat sahutan dari dalam.

Reyhand terlihat sibuk mengotak atik laptopnya.

“Sepertinya kau sedang sibuk? Maaf menganggu.”

“Tidak apa-apa sayang. Sebentar lagi juga selesai,” jawab Reyhand dengan mata masih fokus ke layar laptopnya.

Nadia mengajak Zara duduk di sofa sambil menunggu Rey selesai dengan pekerjaannya.

Nadia menopang dagu, matanya menatap intens wajah tampan calon suaminya yang sibuk memandang layar laptop dengan tangan tak henti menekan tombol keypad.

Merasa diperhatikan Rey melirikkan matanya kearah Nadia, senyum kecil tersungging di bibirnya. Nadia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah Zara dengan muka merah merona karena tertangkap basah oleh Reyhand sedang memperhatikan dirinya.

Tiba-tiba tangannya ditarik Reyhand yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya.
Tarikkan tangan Rey membuat Nadia langsung berdiri dan terjerembab kedalam pelukkannya.

Pemuda itu langsung mendekap pinggang ramping Nadia. Wajah mereka begiu dekat sehingga nafas Rey yang hangat menerpa pipi Nadia yang sudah merah padam, Nadia tertegun sejenak.

“Rey lapaskan aku!”

“Tidak! aku tidak akan melepaskanmu.”

“Tapi Rey, ada Zara disini,” sergah Nadia berusaha meronta agar terlepas dari dekapan Rey.

Reyhand semakin mengeratkan dekapannya. ” Aku merindukanmu,” bisiknya.

Reyhand mengelus lembut pipi Nadia, membuat tubuh Nadia sedikit merinding.

“Lepaskan aku Rey. Nanti Zara melihat kita, tidak baik dilihat anak kecil.”

“Kau tidak perlu khawatir Zara tidak akan melihat kita, dia sedang bermimpi,” bisil Reyhand tangannya masih mengelus pipi Nadia.

Nadia melirikkan matanya ke arah gadis cilik itu, ternyata benar Zara sudah terlelap di atas sofa, mungkin kelelahan setelah tadi puas bermain.

Reyhand semakin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka saling bersentuhan.

“A-apa yang kau lakukan Rey? ingat k-kata mamih Manda kita belum sah me-menikah,” Nadia semakin gelagapan.

Reyhand tidak menghiraukan ucapan Nadia, pemuda itu malah tersenyum. “Aku akan menunggu waktu itu tiba, kau tidak akan lepas dari pelukkanku.”

Tok … tok … tok..
Suara ketukkan di pintu dan sebuah wajah menyembul dari arah pintu yang sudah dibuka membuat Nadia terkejut dan segera melepaskan diri dari aksi nakal Reyhand.

“permisi … maaf mengganggu saya fikir-”

“Masuklah Mickha ada apa?” potong Reyhand.

“Maaf Pak Rey, ada dokumen pemasukan barang yang harus ditanda tangani.”

“Kemarikan!”

Mickha menyerahkan beberapa map yang harus ditanda tangani oleh Rey.

Sambil menunggu dokumen selesai ditanda tangani, Mickha menghampiri Nadia. Wajah Nadia masih memerah apa lagi Mickha melihat jelas apa yang dilakukannya dengan Rey.

“Nadia ternyata pak Rey sudah menemukanmu?”

“I-iya Mbak Mickha,” jawab Nadia malu-malu.

“Mickha, ini sudah selesai,” ucap Rey sambil menyerahkan kembali dokumen itu ke tangan Mickha.

“Oh iya Pak. Hmm kau sudah menemukan pujaanmu Pak Rey”

“Tidak sulit mencarinya di kota Bandung tidak seperti mencari di Amerika,” cetus Rey mengulum senyum.

“Trus …?”

“Sudahlah, Mickha kembali kerja kalau tidak ingin aku pecat.”

“Ok … ok dasar jutek,. Sampai jumpa Nadia, hati-hati jika kau bersamanya,” timpal Mickha mengedipkan matanya.

“Jangan bicara macam-macam sama calon istriku Mickha.”

“Astaga … kalian akan menikah?”

“Mickhaaa ….”

“Iya iya. Aku paham, aku pergi ok. Jangan lupa undangannya, bye Nadia.”

“Iya Mbak Mickha.”

Tawa Nadia yang sedari tadi ditahan akhirnya meledak setelah Michka keluar.
Setahu Nadia, Mickha masih saudara sepupu dari calon suaminya.

Baca selanjutnya

Kembali ke #38

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here