My Bos… I Love U #38

0
1789
views

Obrolan empat orang yang dirasa cangguh diruang tamu terhenti dengan kehadiran gunawan yang telah kembali dari ruang belakang,mimik wajahnya terlihat sumringah,sisa-sisa tawanya masih terdengar berupa kekehan pelan.
Gunawan menghempaskan pantatnya kembali duduk ditempat semula.
“Ayah ada apa sih,senyum-senyum seperti itu?”
Tanya amira,rasa herannya semakin tak terbendung melihat tingkah suaminya
“Masya allah ternyata dunia tak selebar daun kelor”
Sahut gunawan disela-sela kekehannya.
“Saya tidak menyangka ternyata kamu itu putranya si prasetya,sahabat sekaligus musuh bebuyutan saya dulu sewaktu kuliah”
Semua orang saling berpandangan.
“Maksud ayah prasetya yang menikah sama gadis belanda itu,amanda?”
“Iya bun,saya benar-benar sangat memuji keberhasilan prasetya dan ternyata kesuksesannya menurun pada anaknya,reyhand”
“Subhanallah,ga nyangka ya yah”
Gunawan mangut-mangut matanya mulai menatap lekat ke arah rey
“Jadi,,kamu sungguh-sungguh mau melamar putri saya?”
Tanya gunawan akhirnya kembali membahas tujuan utamanya
“Iya om,,”
“Apa kamu sudah siap memikirkan tetek bengeknya hidup berumah tangga?”
“Insya allah saya siap om”
Jawab rey dengan yakin,sambil mengerling ke arah nadia yang juga sedang tersenyum ke arahnya.
“Ehemm,,baiklah saya menerima lamaran kamu untuk segera menikahi putri saya”
“Alhamdulillah,,”
Rey mengucap syukur sambil mengusap wajahnya,perasaan lega menyeruak dihatinya dan beban berat yang dirasa menghimpatnya hilang begitu saja,begitupun yang dirasakan nadia ada rasa yang tak terlukiskan,gadis itu meneteskan air mata bahagianya.
Ardhan pemuda itu diam terpaku,ada perasaan iri dan nyeri dihatinya namun ia sadar,nadia tak mungkin dijangkau lagi hatinya,terlebih ia telah memiliki sarah,wanita yang selama ini menemani suka dukanya,dan mungkin tidak lama lagi akan segera naik kepelaminan,ardhan akhirnya tersenyum tulus mengikhlaskan cinta pertamanya dimiliki orang lain yang lebih berhak dan lebih baik dari segalanya.
“Reyhand..”
“Iya om.”
“Saya minta segerakan niatmu untuk menikahi putriku,kalau tidak secepatnya akan saya nikahkan dengan orang lain”
“Ayah,,kenapa harus terburu-buru,sabar sedikit kenapa?”
Nadia merasa malu dengan antusias ayahnya,gunawan hanya tertawa menanggapi rajukkan putrinya.
“Insya allah om,akan secepatnya”
Reyhand melirik gadisnya dengan senyuman penuh arti.

****

Setelah proses lamaran tunggal Reyhand diterima dengan baik, Ardhan pamit pulang, namun sebelumnya sempat mengucapkan selamat kepada Rey karena telah berhasil mendapat restu dari kedua orang tua Nadia Kasih Ayunda.

“Jaga gadisku baik-baik, kau tahu dia sangat berarti bagiku.” Kata Ardhan sambil memeluk Reyhand.

“In syaa Allah aku akan menjaganya dengan baik, nyawaku sebagai taruhannya.”

“Aku percaya padamu.”

“Terima kasih.”

“Jangan lupa beritahu aku hari H nya.”

“Itu pasti.”

“Baiklah sampai jumpa nanti.”

Rey mengangguk melepas kepergian Ardhan.

****

“Kau tahu sayang!”

“Apa?”

“Aku merasa jadi laki-laki yang sangat beruntung.”

“Kenapa begitu?”

“Karena Tuhan telah memudahkan segala niatku dan mengabulkan doaku begitu cepat untuk melamarmu.”

“Itu karena niatmu atas nama Allah bukan nafsu semata.”

“Iya kah…? Padahal aku begitu bernafsu sekali padamu.”

Nadia melototkan matanya ke arah Rey dengan wajah merona merah, Rey tertawa geli melihat reaksi calon istrinya.

“Fikiranmu mesum sekali Rey,” hardik Nadia, sambil mencubit gemas pinggang Reyhand berkali-kali.

Reyhand tertawa terbahak, lalu meringis menahan sakit akibat cubitan di pinggangnya. “Aaww ampun, sakit sayang aku cuma bercanda.”

“Ehhemm….”

Suara deheman Gunawan menghentikan aksi cubitan Nadia, Rey menarik nafas lega terhindar dari cubitan ganas Nadia.

“Apa tidak sebaiknya kamu menginap saja disini Rey?” tanya Amira yang ikut serta berdiri disamping suaminya.

“Tidak tante, saya tidur di hotel satu malam ini lagi, lagi pula ada barang yang harus dipack untuk dibawa pulang besok.”

“Oh begitu, jadi besok jam berapa kamu jemput Nadia kemari?”

“In syaa Allah pagi-pagi tante, dan terima kasih om sama tante sudah izinkan saya bawa Nadia ke Jakarta untuk memenuhi janji saya pada Zara.”

“Awas kamu jangan macam-macam sama anak saya disana, jaga dia baik-baik!” Pesan Gunawan dengan wajah dibuat garang, Reyhand tersenyum simpul.

“In syaa Allah saya akan menjaganya sebaik mungkin, saya pamit om tante Assalamualaikum.”

“Wa’alaikumssalam, hati-hati, Nak!”

“Terimakasih tante.”

Nadia memandang kepergian Rey bersama mobilnya. Membawa sekeping hati yang ia titipkan untuk janji dijaga bersama.
Nadia beranjak dari berdirinya setelah mobil Rey hilang dari pandangannya.

Baca selanjutnya

Kembali ke #37

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here