My Bos… I Love U #37

0
2851
views

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumssalam.”

Reyhand, Ardhan dan Nadia Kasih Ayunda memalingkan wajahnya ke arah suara seseorang yang mengucap salam sambil berdiri diambang pintu.

“Ayah.” Nadia beranjak menyambut ayahnya lalu mencium punggung tangan sang ayah diikuti Rey lalu Ardhan.

“Rupanya ada tamu.” Sahut Gunawan menatap ke arah tamu.

Atdhan pemuda yang sangat dikenalnya. Teman sekolah Nadia dulu dan sering kemari. Pria satunya Gunawan sama sekali tidak mengenalnya.

“Saya Reyhand om dari Jakarta.” Rey memperkenalkan diri.

Pria paruh baya itu mengerutkan dahinya. Reyhand nama itu serasa familiar di telinganya tapi belum bisa menebak siapa pemuda itu.

“Ayah, ini Rey pemilik swalayan tempat Nad dulu bekerja.”

Gunawan manggut-manguut ia baru ingat, pantas namanya tidak asing, putrinya pernah menceritakan sedikit tentang bosnya yang bernama Reyhand, ternyata inilah sosoknya tampan, gagah dan masih muda.

Gunawan kagum dengan sosok Reyhand diusianya yang masih muda sudah menyandang gelar seorang bos.

“Apa kalian sengaja kemari, atau ada tujuan khusus?”

Gunawan langsung menanyakan maksud tujuan kedua pemuda itu, bahkan Amira kini sudah ikut bergabung duduk berdampingan dengan suaminya.

“Ayah ini-”

“Maaf om, saya lah yang memiliki tujuan tertentu.” Rey memotong ucapan Nadia.
Bagaimanapun juga dialah yang memiliki tujuan jadi dia yang harus mengutarakannya bukan Nadia.

Perasaannya Ardhan mulai tidak enak. Ardhan hanya bisa menduga apa tujuan Rey datang kemari. Meskipun sadar sudah memiliki Sarah, tetap saja ada perasaan tidak rela Nadia dimiliki orang lain.

“Iya ada tujuan apa nak Tey datang kemari?”
Tanya Gunawan dengan suara beratnya.

Rey merasa jantungnya mulai berdegup kencang, ini kali pertama pemuda itu merasakan atmosfir tubuhnya tidak stabil, panas namun berkeringat dingin.

Reyhand menarik nafas sejenak untuk menambah oksigen dalam paru-parunya yang dirasa mulai sesak.

“Bissmillah,” bisik hati Reyhand.

“Saya kesini untuk meminta restu dari om dan tante.”

Amira dan Gunawan saling berpandangan
“Maksud nak Rey minta restu untuk apa?” Tanya Amira merasa heran dengan permintaan Rey yang notabenenya seorang bos besar meminta restu padanya.

“Saya hendak melamar Nadia untuk jadi istri saya. Saya mohon izin dan restu dari om dan tante.”

Kembali Gunawan dan Amira perpandangan.

****

Kedua orang tua Nadia Kasih Ayunda menatap ke arah putrinya yang sedari tadi hanya mendengarkan sambil menunduk memainkan jarinya.

“Bagaimana saya bisa percaya kalau kamu akan melamar putri saya?” Suara Gunawan tiba-tiba memecahkan keheningan.

Reyhand terhenyak dengan ucapan ayah Nadia. “Saya bersungguh-sungguh om.’

“Saya akan percaya keseriusan kamu kalau kamu membawa saksi.”

“Maksud om?”

“Minimal kamu bawa saudara jika orang tuamu tidak bisa mengantar anaknya mengkitbah anak gadis orang.”

Reyhand menelan ludah kasar, ada benarnya apa yang dikatakan ayah Nadia. Reyhand sadar dengan kebodohannya datang sendiri, orang tua mana yang merelakan gadisnya dilamar tanpa perencaan terlebih dahulu, bagaimana jika ini adalah bentuk penipuan. Reyhand memahami keraguan orang tua gadis yang akan dilamarnya.

Rey mulai bingung bagaimana ia bisa menyelesaikan niatnya saat ini juga, meskipun sudah mendapat izin dari orang tuanya untuk mendapatkan Nadia namun terbentur sedikit halangan.
Raut cemaspun tergambar dari wajah cantik Nadia.

Rey tiba-tiba tersenyum seakan mendapat ide jernih mendadak, dengan cepat ia merogoh sakunya mengambil ponsel.
“Maaf boleh saya permisi sebentar untuk menelpon?” ujarnya.

“Iya silahkan.” jawab Gunawan tanpa keberatan.

Rey keluar rumah setelah mendapat anggukkan dari Nadia.
Entah siapa yang di telpon Rey dan apa yang mereka bicarakan. Tak berselang lama pemuda itu kembali masuk setelah menutup telponnya.

“Om, saya sudah telpon orang tua saya, apakah om berkenan bicara dengan papih saya lewat video call?”

Gunawan melirik istrinya dibalas anggukkan oleh sang istri. “Baiklah, dilahkan!”

Dengan wajah gembira Rey menekan tombol vc tak lama muncul sebuah wajah dilayar ponsel milik Rey.
“Pih, om Gun bersedia bicara sama papi.”

Rey menyerahkan ponselnya ke arah Gunawan.
Gunawan terperanjat saat melihat siapa yang akan bicara dengannya lewat vc.

“Prasetya.” “gunawan.”

Keterkejutan dua orang dewasa dalam layar vc menandakan mereka saling mengenal, terbukti dari cara mereka saling memanggil nama masing-masing.

Reaksi kedua orang itu mengundang tanya dibenak orang-orang yang berada diruang tamu.
Tanpa menghiraukan pandangan heran dari semua orang, Gunawan meninggalkan mereka menuju arah belakang, dengan tangan masih memegang ponsel milik Reyhand.

Samar-samar terdengar gelak tawa dari arah belakang, yakni suara milik Gunawan ayah Nadia.

Baca selanjutnya

Kembali ke #36

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here