My Bos… I Love U #36

0
2827
views

“Jika aku menikah dengan Riska bagaimana?” tanya Reyhand dengan suara lembut.

pemuda itu mulai melihat raut duka di wajah nadia Kasih Ayunda.

“Tidak apa-apa, jika kalian menikah berarti itu sudah jodoh dari Allah,” lirih Nadia.
Nadia mencoba sekuat mungkin menahan tangisnya agar tidak pecah.

Rey mengangkat sebelah alisnya, “kau yakin?”

Nadia mengangguk pelan walau hatinya tentu saja berteriak TIDAK.

Rey tidak tega untuk lebih lanjut menggoda Nadia. “Aku hanya ingin menikah denganmu.”

Nadia menatap nanar mata Reyhand. “Tapi….”

Rey menyentuh bibir Nadia dengan jari telunjuknya agar gadis itu berhenti bicara.
“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tidak akan lagi membiarkanmu pergi tak ada lagi halangan untuk kita menikah. Orang tuaku sudah membatalkan perjodohanku dengan Riska.”

Hati Nadia bersorak, namun sebisa mungkin ia kendalikan, karena masih ingin dengar lebih lanjut lagi apa yang akan disampaikan Reyhand.

“Orang tuaku ingin aku membawamu kembali ke Jakarta, tentu saja dengan restu dari orang tuamu. Sekali lagi aku minta padamu. Menikahlah denganku, please.”

Nadia sudah tidak mampu lagi berfikir secara normal, kakinya hampir tak sanggup lagi menopang tubuhnya yang gemetar karena bahagia.

“Kau tahu Zara sangat merindukanmu dan aku janji padanya akan membawamu pulang bersamaku.”

Air mata yang sedari tadi di bendungnya akhirnya tumpah menganak sungai di pipi Nadia.

“Aku mencintaimu Rey dan aku, aku-”

“Aku kenapa sayang?”
Tanya Rey tidak sabar.

“Aku mau menikah denganmu,” jawab Nadia sambil munduk malu.

Rona merah menyemburat di pipi Nadia seiring air mata yang semakin deras mengalir karena haru.

Rey tersenyum lebar.
Reyhand merentangkan tangannya hendak meraih Nadia kedalam pelukkannya, namun tangan gadis itu menahannya.

“Jangan peluk aku sebelum kau meminta aku pada orang tuaku Rey. Jika kau dekap aku sekarang sama saja kau memberiku harapan yang belum pasti.”

Rey mengepalkan jarinya yang masih tertahan di udara, namun senyum di bibirnya tak hilang.

“Baiklah ayo ikut aku!”
Reyhand tanpa basa basi menggandeng tangan Nadia keluar dari kamar Hotel.

“Kau mau bawa aku kemana?”

“Tentu saja membawamu ke rumah orang tuamu.”

“Untuk apa?”

Rey mulai sedikit kesal dengan pertanyaan polos Nadia. Reyhand menyuruh Nadia untuk masuk ke mobilnya dahulu.

“Kau belum menjawab pertanyaanku Rey.”

“Astaghfirullah Nadia, aku akan menghadap orang tuamu untuk meminta anak gadisnya jadi milikku untuk aku nikahi, paham…!”

Nadia membelalakkan matanya, mulutnya menganga ditutup oleh jarinya.

***

Nadia Kasih Ayunda memang minta pada Reyhand untuk meminta dirinya kepada orang tua tapi tidak semendadak ini.

“Aku tidak akan membiarkan lama-lama kesampatan ini,” ucap Rey seakan tahu apa yang difikirkan Nadia.

“Tapi, ini begitu tiba-tiba Rey.”

“Kenapa tidak? rencanaku sudah lama dan sudah bulat, mungkin hari ini lah saatnya, bahkan jika kau mau hari ini juga aku akan membawamu ke penghulu.”

“Reey.”

“Iya, iya aku hanya bercanda.”
Reyhand tertawa melihat raut wajah Nadia yang sempat terlihat tegang.

“Dimana rumahmu?”

“Aku fikir kau sudah tau, soalnya dari tadi kau tak bertanya.”

“Tentu saja aku tidak tau, dan aku lupa untuk bertanya saking bahagianya.”

“Hmm.” Nadia memberi intruksi jalan menuju rumahnya.

Akhirnya mobil yang mereka tumpangi sampai juga di halaman rumah Nadia.
Nadia mengernyitkan dahi begitu melihat mobil Ardhan terparkir di halaman rumahnya.

Nampak pemuda itu keluar dari rumah Nadia, seolah menyambut kedatangan gadis itu.

“Nadia, akhirnya kau pulang juga, kau baik-baik saja?” tanya Ardhan menatap Nadia dengan perasaan cemas, tangannya memegang bahu Nadia.

Rey menatap tidak suka dengan sikap Ardhan. “Jangan sentuh calon istriku!” Hardik Reyhand sambil menarik Nadia kebelakang tubuhnya.

Ardhan mulai memasang wajah geram.

“Nadia…”

Suara bundanya membuat Nadia menarik nafas lega disaat hatinya mulai takut kejadian tadi pagi dikedai es cream terulang kembali.

“Assalamualaikum, Bun.”

“Wa’alaikumssalam, kenapa kalian pada diluar, ayo masuk! Dan ini siapa?” tanya Amira bundanya Nadia sambil menatap takjub ke arah Reyhand yang tampan dan gagah dengan stelan maskulin layakanya pengusaha besar.

“Saya Reyhand tante.”

“Reyhand, bukannya Reyhand itu bosnya Nadia di Jakarta?”

Rey tersenyum simpul.

“Masya allah, ayo kalian masuk dulu tak baik bicara diluar.”

***

Nadia duduk diantara dua laki-laki yang wajahnya masih diliputi ketegangan.
Mereka ditinggalkan bertiga oleh Amira setelah sejenak berbincang panjang lebar dengan Reyhand.

“Apa kalian tidak ingin berdamai?”
Suara Nadia mencairkan suasana tegang antara Rey dan Ardhan.

“Maaf.” Ujar Rey singkat.

Hati Ardhan mulai merespon positif.
Nadia tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah kekanakkan mereka.

Baca selanjutnya

Kembali ke #35

Baca dari awal

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here