My Bos… I Love U #35

0
3308
views

Nadia Kasih Ayunda menatap bergantian kedua pemuda yang saling bersitegang. Hatinya masih terkejut dengan kehadiran Reyhand. walaupun hatinya begitu rindu ingin rasanya memeluk Rey namun bayangan Riska kembali mengusiknya, ditambah situasi yang tidak memungkinkan.

“Jika kalian ingin melanjutkan perdebatan kalian silahkan aku akan pulang sendiri.”
Nadia hendak pergi meninggalkan kedua pemuda itu.

“Nadia aku akan mengantarmu pulang.”
Ardhan menghampiri Nadia yang sudah mulai melangkah.

Reyhand kembali emosi melihat Ardhan mengikuti Nadia. “Nadia tunggu!”
Rey kembali mencekal tangan Nadia hingga langkahnya terhenti.

“Tolong dengarkan aku, aku ingin bicara denganmu.” Suara Rey penuh permohonan. Nadia menatap mata Rey penuh kerinduan namun ditempiskan dengan cepat.

“Tidak seharusnya kau ada disini Rey.”

“Aku sangat merindukanmu Nadia, aku tidak tahu kenapa kau pergi meninggalkan aku begitu saja tanpa keputusan apapun. Katakan apa salahku?”

Nadia tidak menjawab pertanyaan Rey yang mengintimidasinya. Mata Nadia mulai mengembun.

Rey benar apa salah dia hingga dirinya meninggalkan Rey tanpa keputusan apapun. Bukankah ia tahu bahwa selama ini Rey tidak menginginkan Riska.

Nadia hanya merasa takut dengan ancaman Riskka, tanpa menghiraukan perasaan Rey yang begitu mencintainya.

“Sudah cukup, ayo Nad kita pulang,” ajak Ardhan tangannya menarik lengan Nadia.

“Bisakah kau tidak ikut campur, ini urusanku dengan Nadia dan biarkan aku bicara dengan kekasiku.” Ucap Reyhand dengan suara dinginnya.

“Aku tidak akan-”

“Cukup Ardhan! pulanglah dulu, aku akan ikut Rey” Nadia memotong ucapan Ardhan.

“Tapi Nad…!”

“Kumohon, biarkan aku bersama Rey. Rey benar ada yang harus kami bicarakan.”

Untuk beberapa saat Ardhan terdiam menatap tajam ke arah Rey. Hatinya begitu berat untuk meninggalkan Nadia bersama laki-laki itu.

“Baiklah, aku pergi, kau harus hati-hati.”

Nadia mengangguk. Rey sedikit geram dengan perkataan Ardhan seolah-olah dirinya seorang penjahat yang harus diwaspadai.

Akhirnya Ardhan mengalah dan pergi meninggalkan Nadia dan Reyhand.

Reyhand mengajak Nadia memasuki mobil, dan membawa gadis itu ke hotel tempat ia menginap.

Nadia sempat menolak dibawa ke hotel bukan ide yang baik, namun seperti biasa Rey berhasil membujuk gadisnya untuk menuruti keinginannya.

“Masuklah!” pinta Reyhand setelah membuka pintu kamar hotel. Dengan langkah ragu Nadia mengikuti Rey masuk dan duduk di sofa.

****

Nadia Kasih Ayunda dan Reyhand duduk berhadapan di sofa kamar hotel tempat dimana Rey menginap selama di Bandung.

Hati Nadia selalu bergemuruh, jantungnya berdegup kencang jika menghadapi situasi seperti ini bersama Rey.
Begitu juga Rey, pemuda itu ingin sekali merengkuh gadis yang teramat dirindukannya itu ke dalam pelukkannya, namun ia tahan karena situasinya belum cukup membaik.

“Bisakah kau jelaskan padaku kenapa kau meninggalkanku tanpa alasan?”
Akhirnya kalimat menghakimi itu meluncur juga dari mulut Rey.

Nadia diam terpaku, hanya tangannya yang bergerak sedikit karena berkeringat.

“Aku sangat merindukanmu, aku hampir gila mencarimu dan aku-”

“Maafkan aku pak bos.” potong Nadia. Rasa bersalah mulai menghinggapinya.

“Pak bos?” timpal Reyhand dengan nada datar.

“Ma-maksudku Rey.”

“Bagaimana kau bisa bersama laki-laki itu disaat aku mati-matian mencarimu? kau mencintainya?”

“Tidak, tidak mungkin aku mencintainya, dia sudah memiliki Sarah,” sergah Nadia.

“Tapi nyantanya aku melihatmu bersamanya.”

“Rey itu tidak seperti yang kau fikirkan,” bela Nadia dengan cepat sebelum pemuda itu lebih jauh menuduhnya.

“Baiklah, kau belum menjawab pertanyaanku yang pertama, apa alasanmu meninggalkanku?”

“Riska.” Suara Nadia serasa tercekat saat menyebut nama Riska.

“Kenapa dengan Riska?”
Rey mengernyitkan dahinya saat nama Riska kembali disebut dan menjadi pemicu disetiap permasalahannya.

Nadia akhirnya menceritakan kejadian na’as dimalam itu, sehingga dirinya harus mengambil keputusan meninggalkan semua tak terkecuali meninggalkan Rey juga.

Rey berkali-kali mengusap wajahnya, rasa marah, kesal dan sedih bercampur jadi satu. Riska sungguh tidak disangka gadis itu sebegitu anarkisnya.

“Maafkan aku Rey, aku hanya takut.”

“Ssstthh,, sudah cukup aku mendengar semuanya.”
Reyhand bangkit dari duduknya lalu berjongkok dihadapan Nadia menangkupkan telapak tanggannya dij jemari gadis itu.

“Kenapa harus meninggalkanku? Kenapa tidak menghubungiku saat kejadian itu agar aku bisa menjagamu sayang.”

“Maafkan aku Rey, seperti kataku aku begitu kalut dan takut dengan ancamannya waktu itu.”

“Maafkan aku juga sayang gara-gara aku hidupmu jadi tidak tenang.”

Reyhand mengajak Nadia untuk berdiri dari duduknya.

“La-lalu bagaimana kau dengan Riska?”

“Menurutmu bagaimana?” Reyhand balik bertanya ingin tahu reaksi Nadia.

“Kau akan menikah dengannya?”
Suara Nadia mulai parau sedikit bergetar.

Baca selanjutnya

Kembali ke #34

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaBodyguard with Love #11
Berita berikutnyaBodyguard with Love #12
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here