My Bos… I Love U #18

0
5653
views

Bagian delapan belas


“Sotoy kamu Dill, Ardhan udah punya tunangan bentar lagi mau nyusul kakaknya ke pelaminan tau!”

“Yaah kalo jodoh kita mana tahu,” timpal Nurfadilla Basri enteng.

“Nad kamu ga pake heeghils?”

“Engga lah kakiku masih nyut-nyutan.”

“Sepatu itu juga cantik kok. Ngomong-ngomong masalah jodoh, kamu sendiri kapan ngenalin calon kamu sama tante Dill?”

“Tuuh, bener kata tante Nita, jomblo dipara.” Nadia mengiyakan perkataan tante Anita.

Adilla mencebik “sama kamu juga kali….”

Akhirnya mereka tertawa.
“Kalian kalau bicara terus kapan berangkatnya keburu malem nih!”

“Astaghfirulah lupa, taxi dari tadi dah nunggu Nad, ayo kita cap cus.”

“Tante kita berangkat dulu Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumssalam, hati-hati ya!”

“Iya tante” kompak mereka berdua.

****

Sepasang pengantin cantik dan tampan bersanding diatas pelaminan menjadi ratu dan raja sehari, diapit kanan kiri keluarga sang pengantin dengan raut wajah menggambarkan kebahagiaan.

Ardhan terseyum lebar melihat seseorang yang ditunggunya telah datang.
“Nadia, Adilla.”

“Hai Ardhan,” sapa Nadia dan Adilla.

“Masyaa Allah kalian berdua sungguh cantik.” puji Ardhan. Mata Ardhan memancarkan rasa kagum melihat gadis yang pernah mengisi hatinya begitu mempesona.

“Kamu juga cakep, ganteng banget Dhan mirip Arbani suer.”

Ardhan terkekeh menanggapi pujian Adilla
“Terima kasih kalian mau hadir dipernikahan kakakku.”

“Tentu dong kita pasti hadir, kak Vina kan udah seperti kakak kita sendiri, iya kan, Dil?”

“Hu’uh.”

“Oh iya, ada yang ingin bertemu kalian, terutama kamu Dill.”

“Siapa Dhan?”

“Sebentar aku panggilkan.”

Ardhan meninggalkan kedua gadis itu, Nadia dan Adilla saling berpandangan dengan tatapan bingung. Siapakah yang dimaksud ingin bertemu mereka berdua.

Tak lama Ardhan kembali dengan seseorang.

“Robby…!” seru Adilla jantungnya mulai berdetak dua kali lebih cepat.

“Hai Nadia, Adilla apa kabar?”

“Hai juga Rob, Alhamdulilah kami baik.” Nadia menyenggol lengan Adilla yang masih terbengong melihat kehadiran Robby.

“Ha hai Rob… A-aku baik juga.”
Gugup Adilla.

Tobby tersenyum tipis, hatinya menghangat saat melihat Adilla, gadis yang dulu pernah menolak cintanya dengan alasan belum siap pacaran ketika mereka masih menggunakan seragam putih abu-abu.

Adilla tak percaya dengan penglihatannya dan serasa mimpi bisa bertemu dengan Robby.
Pemuda itu sungguh berbeda dengan dulu, bertubuh ceking tapi sekarang dia terlihat gagah padat berisi.

****

Nadia Kasih Ayunda dan Ardhan memisahkan diri dari Nurfadilla Basri dan Robby agar mereka lebih leluasa berbicara.

Nadia dan Adilla sempat menemui Vina sang pengantin, sesaat mereka saling bertukar cerita. Vina ibarat kakak bagi kedua gadis itu mengingat dulu mereka masih satu kota di Bandung, dan saling mengunjungi.

Vina sangat merindukan kekonyolan dan keceriaan kedua gadis itu terlihat dari caranya yang begitu antusias memeluk kedua sang gadis.

Kini Ardhan duduk berdua dengan Nadia di kursi tamu melingkar agak dipojok.

“Jadi sarah tidak datang hari ini?”

“Dia sedang menjaga ibunya di rumah sakit Nad, menunggu ibunya untuk operasi usus buntu.”

Nadia mangut-mangut. “Semoga operasinya lancar.”

“Aamiin.”

“Waktu ijab qabul kak Vina, Sarah datangkan?”

“Datang tapi sebentar, besoknya dia pulang lagi, kamu sekarang sama siapa Nad?”

“Maksudmu?”

“Calonmu.”

Nadia terkekek pelan. “Aku masih betah sendiri Dhan.

“Kenapa..?”

“Mungkin belum ada yang cocok kali.”

“Andai saja aku belum memiliki Sarah, kamu mau kembali padaku?”

“Tapi kenyataannya kamu sudah memiliki Sarah, jadi tak seharusnya berandai-andai.”

“Kamu sangat cantik Nad, hanya laki-laki bodoh yang tak tertarik sama kamu.”

“Kecantikkan fisik tak menjamin ketulusan suatu hubungan tapi kecantikkan akhlak in syaa Allah akan membawa ketulusan hubungan itu sendiri.”

“Kamu memiliki keduanya Nad, cantik fisik dan cantik akhlak.” puji Ardhan.

“Kamu salah Dhan, untuk kecantikkan akhlak aku masih banyak kekurangan, sedangkan kecantikkan fisik itu relatif.”

“Jika aku memintamu kembali padaku apa kamu menerimaku?”

“Tidak Ardhan, aku tidak mau merusak masa depanmu dengan Sarah.”

“Apa salah jika aku masih mengharapkanmu?”

“Dhan kasih sayangku sama kamu tidak berubah, hanya aku sadar aku tidak mau merusak hubungan orang lain. Aku ikhlas mengubur rasa ini demi melihat kamu dan Sarah bisa bersama, tolong jangan sia-siakan Sarah karena aku, aku hanya masa lalumu.”

Ardhan menarik nafas berat
“kamu lah sebenarnya kebahagiaanku Nad.”
Bisik hati Ardhan.

****

Sepasang mata memperhatikan Nadia dan Ardhan. Mata tajam menyimpan rasa cemburu dan kemarahan yang sewaktu-waktu siap meledak.
Hatinya geram melihat pasangan yang duduk di kursi tamu agak dipojok.

“Astaghfirullah’aladzim, aduuh gawat nih, bisa perang ini?”
Adilla terlihat cemas melihat kemarahan dari wajah yang diperhatikannya sedari tadi.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian tujuh belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaAnak Gunung #18
Berita berikutnyaNegara Tetangga akan Batasi Ekspor Telur
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here