My Bos… I Love U #17

0
5446
views

Bagian tujuh belas


Nadia Kasih Ayunda menunduk dengan tubuh gemetar, perpaduan angin dingin dan degupan jantungnya yang tak terkendali.

“Kalau kamu tak mencintaiku tak masalah, aku tahu kamu mencintai laki-laki lain.”
Nada suara Reyhand begitu dingin, serasa menebus jauh ke relung hati Nadia.

Nadia mengangkat wajahnya menatap balik pemuda dihadapannya.

“Maksud pak bos apa? darimana pak bos tahu ada laki-laki lain yang mencintaiku?”
timpal Nadia.

Gadis itu mencoba memberanikan diri bertanya atas pernyataan bosnya yang tidak ia fahami.

“Sudahlah aku tidak suka memaksa, apalagi memaksamu untuk membalas cintaku.” Cetus Reyhand.

Reyhand melompat turun dari batu tempat ia berdiri dengan wajah kecewa.

“Pak bos tunggu…!” teriak Nadia.

Reyhand tidak memperdulikan terakkan Nadia, ia terus berjalan meninggalkannya.

“Aawww… aduuh!”

Reyhand dengan cepat membalikkan tubuhnya saat mendengar pekikkan Nadia.

Gadis itu terduduk sambil meraba kakinya dengan wajah meringis kesakitan.

Reyhan berlari kearah Nadia dan berjongkok didepannya.
“Kamu tidak apa-apa?”
ujar Rey dengan nada cemas.

Tangan Reyhand menyentuh kaki yang dipegang Nadia
.

“Aaww sakit! kakiku keselo waktu turun tadi.”

“Dasar ceroboh, hardik Reyhand.
Reyhand mengusap pelan kaki Nadia yang mulai membengkak.
“Tahan, ini akan sedikit sakit, gigit ujung jaket ok!”

Gadis itu menurut intruksi yang disebutkan Reyhand
.

Reyhand meluruskan kaki Nadia sejenak memutarnya perlahan, wajah gadis itu memucat.

“Bismillahi rohmani rohim.”

Nadia menahan sakit luar biasa. giginya menggigit ujung jaket, saat Reyhand menarik keras bagian yang keseleonya.

“Sudah, ayo berdiri?”

Nadia perlahan berdiri, jari tangannya bertumpu pada lengan Reyhand.

“Alhamdulillah, sedikit baikkan.”

“Kita pulang!” ucap Reyhand.

Nadia mengangguk, langkahnya sedikit kaku, meski Reyhand telah meluruskan kakinya yang keselo tapi rasa sakit masih menjalar disekitar kakinya, dan menghambat langkahnya.

“Aku gendong.”

“Tidak, tidak, tidak usah aku bisa jalan sendiri.”
Tolak Nadia dengan cepat saat Reyhand hendak meraihnya.

Pemuda itu mengedikkan bahunya dan kembali meninggalkan Nadia.

Reyhand mulai terlihat kesal, namun iba melihat cara jalan Nadia bagaikan siput, pelan sambil menyeret kakinya yang dirasa masih berdenyut.

Reyhand membalikkan tubuhnya kembali ke arah gadis itu tanpa menunggu aba-aba langsung ia memangku Nadia ala bridel stil.

Nadia memekik terkejut.
“Pak bos turunkan aku pak!”

“Diamlah!”

“Tapi pak…!”

“Aku bilang diam atau aku jatuhkan!”
hardik Reyhand pura-pura hendak menjatuhkan Nadia.

Nadia kembali memekik pelan dengan sigap tangannya merangkul leher Reyhand.

***

Reyhand mengantarkan Nadia Kasih Ayunda hingga rumah kostnya.
“Jika besok belum sembuh tidak usah bekerja.”

“Iya pak terima kasih.”

“Nadia…!”
teriak Nurfadilla sambil menyerobot masuk dan langsung menghampiri Nadia yang duduk di sofa.

“Eh ada pak Rey,”
celetuk Adilla sambil mengangguk hormat.

Reygand tersenyum simpul menanggapi anggukkan Adilla.

“Saya permisi pulang.” Pamit Rey.

“Iya pak silahkan!” balas Nadia.

“Pak rey!”

“Iya.”

“Terima kasih.”

Reyhand mengangguk, lalu melangkah keluar. Tak lama terdengar suara mobil dinyalakan dan menjauh dari rumah kost Nadia.

“Kamu darimana aja sih Nad seharian ini, sama pak Rey lagi?”

“Tolong Dill olesin dong obatnya!”
Nadia menyodorkan obat oles tanpa niat menjawab pertanyaan sahabatnya.

“Buat apa obat ini?”

“Buat kakiku, cepetan gih biar cepat sembuh.”

“Yaellah nih anak se’enak e dewek nyuruhnya, emang kakimu kenapa?”

Nadia menceritakan perhial kejadiannya dari awal berangkat hingga pulang dengan oleh-oleh sakit dikaki.

Adilla ber oh ria mendengar setiap detail cerita sahabatnya.
“Ckckck. hebat sekali kamu bisa membuat pak bos bertekuk lutut dihadapanmu Nad, apa sih rahasianya?”

“Ngaco, ngomong apa sih, ga pake rahasia-rahasiaan segala?”

“Pokonya kamu harus jadi sama pak bos, aku setuju pake banget, nasibmu sangat beruntung Nad,”
sahut Adilla antusias.

“Beruntung apanya, aku belum menerima dia.”

“Trus kamu nunggu apa lagi?”

“Ada bu Riska ingat Dilla!”
Nadia menekan kata Riska.

“Iya juga ya, tapi tak apa lah jodoh siapa yang tahu.”

“Aku masih bingung Dill, siapa laki-laki yang mencintaiku yang dimaksud pak bos?”

“Entahlah, setahu aku kamu kan jomblo. Smoga cepat sembuh kakinya Nad, lusa kita undangan kak Vina kakanya Ardhan, jadi harus sembuh.”

“Iya Dill, In syaa Allah besok juga pasti sembuh.”

****

“Nadiaaa… kamu sudah siap belum?”
teriak Adilla sambil memakai heeghilsnya.

“Iya sebentar bawel deeh.” seru Nadia dari arah kamar.

Nadia keluar dari kamar Adilla di rumah tante Anita.

“Masya allah Nadia kamu cantik sekali!” Adilla sungguh terkesima melihat penampilan Nadia yang terlihat berbeda.

Nadia begitu ayu dan anggun dengan balutan dres gamis warna biru langit bemanik indah, serta jilbab warna senada dengan hiasan tidak terlalu menyolok namun menarik.

Make up natural ditambah lipstik warna pink kontras dengan kulitnya.

“Wooy… secantik itukah aku? sampai-sampai kamu bengong kaya gitu liatin aku Dill.”

“Aku benar-benar pangling deeh Nad, aku yakin Ardhan kalo liat kamu kaya gini pasti nyesel udah mutusin kamu.”

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian enam belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaBodyguard with Love #02
Berita berikutnyaAnak Gunung #17
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here