My Bos… I Love U #14

0
126
views

Bagian empat belas


“Astaghfirullah’aladzim Naaad… kamu gimana sih…!”
seru Nurfadilla sambil menyeka wajahnya yang terkena air semburan dengan tisu.

“Kamu sih Dill…!”

“Ko aku sih? aku yang disembur aku yang disalahin.”
hardik Adilla dengan muka cemberut.

“Mulutmu tuh, kalo ngomong ga dikompromi dulu.”

“Aku kan nanya serius, bukannya kamu jadian sama pak bos?”

“Engga…! siapa yang jadian ngawur kamu,” Nadia menoyor jidat Adilla.

“Jangan bohong lho Nad!”

“Demi Allah aku ga bohong. Ngaco kamu mah Dill mana mau pak bos sama aku pegawai rendahan, lagian pak bos udah punya istri dan calon istri mereka cantik-cantik dan kaya.”

“Tapi Nad, aku perhatikan pak Rey kaya yang suka sama kamu.”

“Suka dari mananya? dari hongkong kali!”

“Pak Rey diam-diam suka merhatiin kamu. Pernah antar jemput kamu, dia ga pernah kaya gitu sama karyawan lain, tau sendiri pak Rey orangnya jutek.”

“Itu cuma kebetulan saja, udah ahk jangan ngomongin dia terus, bisa panas dia kupingnya.”

“Tapi Nad, kamu suka ga sama pak Rey? Jujur lah sama aku.”

“Hanya orang gila yang ga suka sama pak bos, orang setampan dan sekaya pak bos siapa yang ga bakal suka.”

“Maksudku suka dalam arti yang lain Nad.”

“Aku ga ngerti maksud kamu, udah deh Dill bahas yang lain napa sih?” elak nadia

“Iya, iya deh.”

***

Tok,tok,tok suara ketukkan di pintu kostan Nadia membangunkan si pemiliknya yang masih bergulung dalam selimut.

Hari minggu libur kerja digunakan gadis itu untuk tidur sekenyang mungkin, setelah sholat subuh Nadia kembali meringkuk diatas tempat tidur, melanjutkan mimpinya yang tertunda.

Suara ketukan kembali terdengar,

“Aduuh siapa sih pagi-pagi gini ganggu orang tidur saja!”

Nadia beranjak malas dari kasurnya. Gadis itu menggulungkan selimutnya dari ujung rambut hingga kaki lalu berjalan ke arah pintu luar sambil mengucek matanya.

ketukkan kembali terdengar lebih kencang.
“Iya sebentar, ga sabaran banget siih.”

Ckrreekk… pintu dibuka saat bersamaan sebuah kepalan tangan hendak mengetuk kembali dan mengenai jidat Nadia. “Aawww…!”

Nadia mengusap jidatnya otomatis selimut yang dipegangnya terlepas sebelah, menampakkan rambutnya yang tergerai panjang.

“Eehh maaf…!”

“Pak bos…!” seru Nadia terkejut.

***

Saking terkejutnya Nadia dengan kedatangan bosnya di pagi ini, hingga tak menyadari penampilannya sendiri.

Tanpa menunggu kata apapun Nadia berlari ke kamarnya dengan tangan gemetar dan perasaan grogi. Gadis itu menyatok rambutnya asal lalu mencari jilbabnya.

Setelah dipasang jilbabnya,kembali ia keluar menghadapi bosnya yang masih setia berdiri diluar, sebelumnya sempat bercermin takut ada sesuatu di wajahnya.

“Pak bos…” sapa Nadia dengan wajah sedikit merah karena malu. “Silahkan masuk.”

Reyhand mengangguk lalu masuk kedalam. Tanpa menunggu disuruh Rey menghempaskan pantatnya di sofa sederhana.
“Maaf saya datang tanpa memberitahu dulu.”

I-iya, saya juga minta maaf, saya kira tadi Adilla yang datang. A-ada tujuan apa pak bos kemari?” tanya Nadia tanpa basi basi

“Saya mau ajak kamu ke suatu tempat.”

“Memangnya mau kemana?”

“Cepatlah bersiap nanti juga kau akan tahu!”

“Ba-baiklah saya mandi dulu.”

“Iya, cepatlah!”

“Tapi….”

“Apa lagi? saya tidak suka menunggu. atau mau saya seret ke kamar mandi?”

Nadia menggelengkan kepala, lalu cepat-cepat berdiri sambil bergumam, “menyebalkan.”

“Apa..?”

“Eehh ti-tidak.” Nadia berlari ke kamarnya.

Reyhand tersenyum simpul melihat tingkah Nadia.

***

“Kita mau kemana?” tanya Nadia setelah mereka dalam perjalanan.

“Kita akan ke rumah Zara.”

“Maksud pak bos ke rumah istri Bapak?”

Cekiitttt…. Rey mengerem mobilnya secara tiba-tiba, membuat gadis yang duduk disebelahnya hampir terlonjak.

“Aduuhh, Astaghfirullah, pak bos kenapa siih kaget tau!” umpat Nadia, mengusap dadanya dan memasang wajah tengil.

“Sorry, kamu ga apa-apa?” Reyhand merasa bersalah, tanpa sadar tangannya menyentuh tangan Nadia yang gemetar karena kaget.

Nadia menggeleng dengan nafas tersengal dan jantung berdegup kencang, matanya melirik kearah tangannya yang dipegang Rey.

Pemuda itu buru-buru melepaskan pegangannya.

“Tadi kamu bilang apa? Istri? Istri siapa?”

“Istri pak bos?” jawab Nadia polos.

“Maksudmu, kak Artha istriku?”

“Iya.” jawab Nadia singkat.

Reyhand tiba-tiba tertawa keras dan kembali menjalankan mobilnya. “Hahahaha.”

“Kok ketawa sih! ada yang lucu atau ada yang salah?”

“Kamu yang lucu Nad, dan tentu saja kamu salah.”

“Maksud pak bos?”

“Denger sayang, kak Artha itu kakak kandungku, dan Zara keponakanku.”

Mata Nadia Kasih Ayunda membulat sempurna mendengar penjelasan Reyhand, apa lagi bosnya itu menambahkan kata SAYANG.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian tiga belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Previous articleDijodohkan #08
Next articleAntara Cinta dan Persahabatan # 15
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here