My Bos… I Love U #13

0
104
views

Bagian tiga belas


Nadia Kasih Ayunda terhenyak mendengar Zara Sheinafia memanggil pak bos dengan sebutan papih.

Apa mungkin gadis cilik ini putrinya? Nadia mencoba menormalkan pendengarannya saat gadis cilik itu kembali memanggil Reyhand dengan sebutan papih.

“Kak Nadia aku mau turun! mau ke papih Rey.”

“Eehh iya sayang, ayo turun!”

Zara langsung menghambur ke dalam pelukkan Reyhand begitu turun dari permainan kuda putarnya.

Hati nadia bergejolak tak tentu iramanya, ada rasa kecewa juga bingung hinggap hatinya.

“Kecewa..! Kenapa harus kecewa? Ya Allah Nad sadarlah kamu! pak bos udah punya istri dan putri yang cantik, sedang kamu apa? cuma pegawai rendahan, lihat Nad mereka pasangan yang serasi, tapi… bagaimana dengan Riska?”

Treekk, Reyhand menjentikkan jarinya didepan wajah Nadia, membuyarkan segala fikiran liar dalam benak gadis itu hingga tersadar.

“Kak Nadia kalo lagi kerja jangan melamun, nanti dipecat sama papih Rey lho!”

“Eehh ma-maaf, kakak tidak melamun kok hehe.”

Artha tertawa renyah mendengar ocehan putrinya, membuat muka Nadia berubah merah menahan malu.

“Eheemm.” Artha mendehem pelan.

Reyhand buru-buru memalingkan wajahnya ke arah Zara, saat sang kakak memergok dirinya sedang memandang ke arah Nadia.

“Maaf, saya harus kembali kerja,” pamit Nadia, dan segera pergi setelah mendapat anggukkan dari Artha.

“Kak Nadia….”
Seru Zara.

Nadia kembali menoleh ke arah Zara
. “Iya sayang!”

“Jangan lupa nanti main ke rumah Zara ya! makan es cream bersama.”

“In syaa Allah ya sayang kapan-kapan kakak mampir ke rumah Zara.”

“Jangan lama-lama, dan jangan lupa bawa…!”

“Zara,,kak Nadia bukan papih Rey kok minta yang sama?”

“Ga apa-apa bunda, Xara sama kak Nadia sudah jadi teman dan sama-sama suka es cream, iya kan kak?”

Nadia mengangguk sambil mengacungkan jempolnya.

“Oh begitu!” cetus Artha dengan senyum simpulnya, matanya menatap kepergian Nadia.

****

“Cantik juga ya!”
ujar Artha.
setelah mereka kembali keruang kantor Reyhand.

Zara langsung duduk di sofa menikmati es creamnya.

“Maksud kakak siapa?” tanya Reyhand, tangannya meraih air minum.

“Iya itu… Nadia.” jawab Artha

“Uhuuk,uhuuk.”
Reyhand tersedak minumannya sendiri, begitu kakaknya menyebut nama Nadia.

“Eh minumnya pelan-pekan dong Rey!”

“Maksud kakak apaan?”

“Kakak rasa kamu tahu maksud kakak, jangan bohong lho sama kakak!”

“Rey benar-benar tidak mengerti maksud omongan kak Artha.”

“Kamu sedang jatuh cinta Rey.”

“Apa? kakak sok tahu!”

“Ya tahu lah… matamu tak bisa membohongi kakak.

Reyhand merasa terpojok, bagaimana bisa kakaknya tahu urusan hatinya.

***

“Kakak tahu apa yang adiknya rasakan, kakak tidak bodoh Rey, kamu menyukai gadis itu?”
Artha menatap mata adiknya.

Artha seakan ingin mencari kebenaran dari ucapannya dibalik mata Reyhand.

“Rey, jika kamu menyukai gadis yang bernama Nadia itu, tunjukkan bahwa kamu bisa memilikinya sebelum dimiliki orang lain, perjuangkan apa yang ingin kamu miliki tapi dengan cara yang baik bukan dengan paksaan, kakak yakin gadis itu menyukai kamu juga Rey.”

“Darimana kakak tahu?”

“Sudah kakak bilang kakak tidak bodoh, kakak bisa lihat dari cara memandang dan sikap kalian.”

Reyhan menghela nafas. Rey berusaha menerka-nerka hatinya, benarkah apa yang dirasakannya terhadap Nadia.

Reyhand merasakan hatinya selalu berdesir lembut jika dekat Nadia, rasa ingin melindungi dan ingin memiliki apakah cukup sebagai bukti bahwa dia mencintai gadis itu? lalu, bagaimana dengan laki-laki yang bersama Nadia malam itu.

Reyhand sendiri telah dijodohkan dengan Riska
.

“Sudahlah Rey, jangan terlalu banyak berfikir, percayalah jodoh takkan kemana ok!”

“Tapi mamih sudah menjodohkanku dengan Riska.”

“Jujur aja Reey kakak tidak suka dengan perjodohan ini ”

“Kenapa?”
Rey sedikit heran dengan ketidak setujuan Artha tentang perjodohannya dengan Riska.

“Kakak kurang suka dengan Riska, dia bukan wanita baik-baik. Bukan kakak su’udzon tapi kakak udah berapa kali melihat dia jalan dengan laki-laki lain dan berlaku tidak pantas. Yaah kamu juga paham maksud kakak Rey, dan mamih belum tau sifat Riska yang sebenarnya.”

“Iya kak, Rey mengerti, mungkin nanti ada waktunya kita jelaskan sama mamih.”

“Ya sudah kakak harus pulang, Zara ayo sayang kita pulang!”

Zara Sheinafia mengangguk, “Papih Rey Zara pulang dulu!”

“Iya sayang.”

“Oh iya jangan lupa nanti kalo papih Rey main ke rumah Zara ajak kak Nadia ya?”

“In syaa Allah sayang.”

“Pokoknya janji!”
Gadis cilik itu menyodorkan jari kelingkingnya disambut oleh jari keliking Reyhand.

“Iya papih janji”

“Kami pulang dulu Rey Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumssalam, hati-hati kak!”

****

“Jadi wanita cantik berjilbab tadi istrinya pak Rey?” tanya Nurfadilla dibalas anggukkan oleh Nadia.

“Dari mana kamu tahu?”

“Gadis kecil yang bermain bersamaku tadi memanggil pak bos papih, itu berarti dia anaknya.”

“Oohh, trus gimana sama bu Riska? Oh my god apa pak Rey mau punya istri dua?”

“Bisa jadi.”

“Kok bisa sih?”

“Ya bisalah, poligami kan ga dilarang asal si suami bertindak adi.”

“Iya juga sih!”

“Hu’uh.”

“Trus sama kamu gimana Nad?”

Byuurrr… Nadia menyemburkan air minum di mulutnya saking kaget dengan pertanyaan sahabatnya.

Baca selanjutnya

Kembali ke bagian dua belas

Baca dari awal

Silahkan Komentar
Previous articleDijodohkan #07
Next articleAnak Gunung #14
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here