Musafir Muda

0
78
views

Pukul 11.00 di SMA Santo Thomas 1 Medan, menjadi saksi kelulusanku tahun lalu dengan nilai nyaris sempurna di setiap mata pelajaran. Bukan hanya guru atau wali kelas yang bangga, tapi juga teman-teman dekatku terlihat bahagia. Aku tak sabar memberikan kertas ulangan kepada Papi dan Eyang. Dua orang terpenting setelah Mami.

Sayangnya, di tengah kebahagiaan yang sedang membuncah dan sorak kebanggaan, semua runtuh dalam sekejap. Bumi mengambil alih tanpa memberi pilihan. Pak Ranto, supir pribadi Papi datang ke sekolahan, mengabarkan dengan suara terbata bahwa Mami masuk rumah sakit karena keadaannya kembali kritis.

Tanpa meminta izin guru terlebih dahulu, aku berlari masuk mobil dan meminta Pak Rinto segera membawaku ke rumah sakit di mana Mami dirawat.

“Ibu tadi kembali muntah-muntah, badannya menggigil, wajahnya pucat sekali. Eyang langsung telepon Bapak, dan saya langsung bawa Ibu ke rumah sakit. Bapak tadi yang minta saya buat jemput Jian.” Pak Rinto menjelaskan.

Keadaan Mami memang sudah semakin parah semenjak divonis terkena penyakit Limfoma, sejenis kanker darah, sejak enam bulan lalu. Pengobatan sudah dilakukan semaksimal mungkin, hanya saja Mami memilih berobat jalan karena ingin setiap hari melihat anak-anaknya pergi dan pulang.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit Martha Friska, Kota Medan, pikiran melayang memikirkan segala kemungkinan buruk terjadi. Dan sialnya, pikiran tersebut menambah resah dan ketakutan.

“Jia sudah tahu, Pak?” Aku bertanya, ketika melewati sekolahan Jia, adikku yang berusia sepuluh tahun.

“Sudah di rumah sakit, tadi dijemput sama Bapak.”

Aku mendesah panjang, berdecak, resah jelas sangat kentara di wajah. Jalanan tidak terlalu macet, tapi aku merasa seperti sedang mengendarai siput. Sangat lambat dan lelet. Menyebalkan!

Aku keluar dari mobil setelah sampai di gerbang rumah sakit, sementara Pak Wanto akan mencari tempat parkir. Berlari masuk dan langsung menuju ruangan di mana Mami dirawat.

Di sana, sudah ada Eyang yang duduk di kursi bersama Jia, sedangkan Papi, berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana. Wajah-wajah tegang menunggu dokter keluar dari ruangan. Mereka menoleh saat langkahku mendekat. Langsung bertanya, “Bagaimana keadaan Mami?”

“Duduklah, Jian.” Papi tak menjawab pertanyaanku. Mengisyaratkan agar tenang.

“Abang!” Jia turun dari kursi, mendekati dan menarik tanganku untuk duduk bersamanya.

“Bagaimana dengan sekolahmu?” Eyang bertanya saat aku baru saja duduk di sampingnya.

“Bukan waktunya untuk membicarakan sekolahku, Eyang.” Aku menjawab dengan ekspresi datar.

Eyang berdecak, kurasa jika di rumah, ia sudah berbicara panjang lebar seperti biasa, hanya saja di sini suasana jelas berbeda.

Setelah hampir setengah jam menunggu dengan ketegangan, seorang lelaki berjas putih keluar bersama dua perawat yang membawa peralatan entah apa.

Papi bertanya langsung. Aku dan Jia berdiri, tapi tidak dengan Eyang, ia masih duduk dengan tenang.

“Ada Jian?”

“Saya, Dok!” jawabku langsung dan melangkah mendekat, Jia mengekor di belakang.

“Mami kamu ingin bertemu denganmu. Temuilah.” Dokter yang sudah sejak awal menangani Mami menepuk pundakku menyuruh masuk.

“Jia ikut.” Jia menarik bajuku dari belakang. Aku menoleh, dan menemukan tatapan polosnya.

“Jia sama Eyang dulu, ya. Gantian ketemu sama Mami. Soalnya Mami belum boleh dijenguk banyak orang dulu.” Dokter wanita paruh baya itu dengan lembut berkata.

“Jia!” Eyang memanggil. Jia menoleh, dan kembali menatapku.

“Jia sama Eyang dulu sana. Jangan nakal.” Aku memberikan jawaban dan kutemukan kekecewaan di wajahnya lalu perlahan melepas tangan dari bajuku.

“Pak Guan bisa ikut dengan saya? Ada yang ingin saya bicarakan.” Dokter mengajak Papi ke ruangannya, membuatku menatap curiga bahwa keadaan Mami memang semakin memburuk.

Kuenyahkan pikiran itu dan segera masuk ke ruangan serba putih, dan di sana, Mami terbaring lemah dengan selang di beberapa bagian tubuh.

Matanya mengerjap lemah saat melihatku datang. Lihatlah, dulu Mami adalah wanita yang begitu cantik dengan senyuman manis ditambah lesung pipit di kiri. Namun sekarang, tubuhnya sangat kurus, kulitnya pucat, pipinya tirus, bawah mata terlihat jelas cekungan yang menghitam.

Aku menghela napas panjang menahan sesak di dada. Tas ransel hitam kuletakkan begitu saja di lantai, saat tangan meraih tangan Mami.

“Bagaimana keadaan Mami?” Pertanyaan basa-basi yang diajarkan Eyang, terdengar sangat menyebalkan tapi aku terbiasa menggunakannya.

“Buruk.” Lemah Mami menjawab.

“Mami pasti sembuh.”

Senyuman tipis itu keluar dari bibirnya. Lesung pipit indahnya tak lagi terlihat karena kurusnya pipi.

“Jian mau tolong Mami?” Mata bulat indah khas wanita pribumi itu mengerjap lemah. Menatap penuh makna.

“Apa?”

“Mami akan pergi tapi Mami takut … Mami takut Tuhan tidak menerima kedatangan Mami.”

Dahiku mengernyit, menatap penuh tanda tanya walau sebenarnya aku sudah menduga ke arah mana pembicaraan Mami.

“Mami juga takut … Mami takut tidak ada yang mendoakan Mami nanti. Tidak ada yang mengirimkan doa untuk Mami.”

Air matanya meleleh. Mami terlihat kesakitan hanya demi menarik napas panjang. Ya Tuhan … tidak bisakah Kau berbaik hati sedikit saja pada wanita yang telah berkorban nyawa demi melahirkanku ini?

“Jian mau tolong Mami, kan?”

Aku masih terdiam hanya saja pikiranku melayang. Jelas sudah arah pembicaraan Mami.

***

Pukul 15.00 di rumah sakit Martha Friska, Kota Medan. Terdengar jeritan Jia dari dalam ruangan Mami. Aku yang duduk di luar bersama pikiran yang melayang, segera beranjak dan masuk. Bahkan tak kupedulikan Eyang yang kesusahan berdiri dengan tongkatnya.

“Ada apa?” tanyaku langsung saat melihat Papi mendekap Jia yang sesenggukan.

“ADA APA?!” Suaraku semakin lantang. Mendekat dan melihat layar monitor dengan garis lurus.

“Ma!” Aku mengguncang tubuh kurus Mami. “Mami!” Menggeleng, mencoba mengenyahkan segala pikiran buruk itu. Mami masih hidup. Ia hanya tidur. Hanya tidur!

Dokter datang bersama dua perawat. Memaksaku menyingkir dan langsung memeriksa keadaan Mami. Sayangnya yang keluar dari mulutnya justru kata yang menyakitkan. Mami sudah pergi.

Maka sekarang, seperti janjiku padanya dan amanah yang diberikan tadi, aku kembali melangkah mendekat setelah mengusap kasar air mata sialan yang tak mau berhenti keluar.

Dokter itu menyingkir, membiarkanku mendekati Mami. Kutatap wajah teduh Mami yang dulu selalu memberikan kehangatan di tengah kerasnya didikan Eyang, dan dinginnya sikap Papi.

Tangan kananku terulur di atas kepala Mami. Kemudian mengucapkan kalimat yang pernah diajarkannya dulu waktu usiaku masih 13 tahun. Kalimat yang membuat Eyang murka seketika dan kalimat itu pula aku merasakan cambuk dari ikat pinggang Papi. Terkurung di dalam gudang selama 24 jam.

Sekarang, di hadapan Mami yang baru saja mengembuskan napas terakhir. Di hadapan Papi yang mungkin akan langsung memukulku tanpa ampun. Dan di hadapan dokter juga dua perawat itu, yang mungkin akan terkejut mendengarnya. Akan kuucapkan lagi dengan kemantapan hati bukan hanya karena janji.

“Ashadualla Illahaillallah Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah!”

Tuhan … terimalah aku sebagai hambamu. Agar aku bisa mendoakan Ibuku dengan cara dan ketentuan-Mu.

Penulis : Popy Novita

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here