Misteri Kamar 201 #04

0
214
views

Akhirnya aku pun menemani Darto untuk ke kamar 201, tidak tega bila ia pergi sendirian.

‘tok … tok … tok’
Darto mengetuk pintu, tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Akhirnya kami berdua kembali ke ruangan housekeeping.

“Apa sebenarnya misteri dibalik kamar 201 itu To?” tanyaku.
“Entahlah Wan, aku pun dari dulu tak pernah mengetahui ada kejadian apa di kamar itu. Sehingga kamar itu menjadi angker.” ujar Darto.

“To, apa karyawan lain juga mengalaminya?”
“Pernah ada cerita kalau beberapa orang karyawan dulunya juga diganggu.” ujar Darto

Tiba-tiba kami melihat Mba Wati, dia adalah petugas resepsionis.
“Mba, tamu yang menginap di kamar 201 kemana ya?” tanyaku.
“Oh, tadi dia ada rapat di luar. Ada apa ya?” tanyanya kembali.

“Tadi Mba-Mba yang menginap di kamar itu meminta untuk menghidupkan ac nya Mba.” tanya Darto.

“Mba? Yang menginap di kamar itu laki-laki, To.” lanjut Mba Wati.

“Laki-laki?” ujar kami serempak.

“Kenapa?” tanya Mba Wati yang kebingungan.

“Tadi saya berpapasan dengan tamu kamar 201 Mba, dan dia seorang wanita.” ujarku
“Saya juga Mba, tadi saya yang membersihkan kamar itu. Dan saya yakin dia seorang wanita.” ujar Darto.

“Tidak mungkin, datanya aja ada sama saya, dia seorang lelaki. Kalau tidak percaya mari ke ruangan saya. Saya akan tunjukkan cctvnya.” Mba Wati mengajak kami ke ruangannya.

Diputarnya cctv beberapa jam yang lalu saat tamu kamar 201 check in.

Terlihat dari cctv bahwa memang seorang pria yang membooking kamar 201, lalu Mba Wati juga memperlihatkan cctv yang ada disetiap koridor.
Benar saja yang memasuki kamar itu adalah seorang pria.

“Jadi siapa wanita yang kami temui di kamar itu?” ujarku kepada Mba Wati.
“Entahlah.” Mba Wati menaikkan bahunya.

Kami bertiga terdiam memikirkan keanehan ini.

****

Ke esokkan harinya aku di minta membersihkan kamar 201, karena tamunya sudah check out.
Dengan perasaan takut aku juga tidak bisa menolak perintah Pak Hasbi.

“To, temanin aku ya untuk membersihkan kamar 201.” ujarku ke Darto.
“Aku sih mau aja nemenin kamu ke kamar itu, tapi tugasku banyak sekali hari ini. Aku harus menyiapkan ballroom untuk acara sore nanti.” ujarnya.
Aku terdiam.
“Maaf ya, Wan.”

Lalu aku mengarahkan trolley ke kamar 201. Aku bekerja dengan cepat agar tak diganggu penghuni tak kasat mata yang ada di sini.
Aku tak peduli sudah memenuhi standar membersihkan kamar atau belum, yang penting harus secepatnya keluar dari sini.

Bagian demi bagian sudah kubersihkan hingga selesai. Saat hendak keluar kamar, tiba-tiba pintunya tertutup sendiri.
Aku yang ketakutan mengetuk pintunya dan berteriak.

“Tolong … Tolong … Siapa pun yang ada di luar tolong saya!” teriakku.
Seolah kamar ini adalah ruangan kedap suara, sehingga teriakkanku tak di dengar oleh siapa pun.
Aku terus berteriak minta tolong sambil mengetuk pintu, berharap ada orang yang akan menolongku.

Bulu kudukku berdiri, seakan ada yang mengamatiku dari belakang.
Aku benar-benar takut, hingga tak berani menoleh. Tatapanku hanya mengarah ke pintu saja.

Ketakutanku semakin kuat, seperti ada seseorang di belakangku.
Aku tak berani menoleh, namun tetap ada rasa penasaran.

Hingga akhirnya aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang, dan….
Aku pingsan setelah melihat sosok menyeramkan yang memakai baju putih dan berambut panjang.

****

Saat aku membuka mata, aku sudah berada di ruang housekeeping, dikelilingi oleh teman-temanku dan seorang pria yang memakai jas putih.

“Sudah siuman Iwan?” tanya pria berjas putih itu.
Pandanganku samar, kepalaku sakit. Aku tak menjawab pertanyaannya.

“Wan, kamu kenapa?” ujar Pak Hasbi.

“Dia, tidak apa-apa Pak hanya kecapean. Dengan istirahat yang cukup dan mengkonsumsi vitamin, keadaannya akan pulih kembali.” jelas pria itu sambil menyodorkan vitaminnya yang dimaksud.

Aku melihat Pak Hasbi menyalami pria itu, lalu dia meninggalkan ruangan housekeeping.

“Kamu istirahat saja dulu Wan.” ujar Pak Hasbi.

Dia meletakkan vitamin itu di atas meja di samping tempat aku berbaring.
Lalu semua karyawan kembali bekerja, hanya Darto yang masih berada di ruangan ini.

“Wan, kamu digangguin lagi ya?” tanya Darto.
“Iya, To. Kali ini dia menampakkan wujud seramnya.” Aku menceritakan semua peristiwa yang kualami.

“Ya udah, kamu istirahat saja dulu. Saya mau melanjutkan pekerjaan saya.” Darto pun meninggalkanku.

Aku berbaring dan memejamkan mata, tiba-tiba telepon berdering. Dengan susah payah aku mencoba untuk bangun dan segera mengangkat telepon itu.
“Hallo housekeeping, ada yang bisa dibantu.” ujarku lemah.
Sialnya aku tak melihat terlebih dahulu siapa yang menelepon.
‘kiiiiikiiiiiikiiikkkkkkk’ kembali suara cekikikkan, aku tersadar dan melihat, panggilan itu berasal dari kamar 201, kututup teleponnya dan kembali ketakutan.

‘Siapa yang menelepon dari kamar itu? Kamar itu kan kosong.’ batinku

Keringat dingin membasahi kening dan telapak tanganku.
Makhluk itu seperti tengah mengikutiku.
Saat tidak berada di kamar itu, dia tetap saja mengangguku.
‘Apa yang harus kulakukan sekarang, apa aku harus berhenti dari pekerjaan ini. Tapi mencari pekerjaan itu sangat sulit.’ ujarku dalam hati.

Aku berharap dipindahkan ke bagian lain.
Aku sudah tak tahan dengan semua kejadian-kejadian ini.

Namun semuanya harapanku harus aku pendam dulu, sebab pergantian ke bagian lainya harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Aku harus bekerja selama enam bulan baru bisa mengajukan pemindahan tugas.

****

Hari ini kondisiku tidak begitu sehat, dan aku memutuskan untuk tidak masuk kerja.
Setelah menghubungi Pak Hasbi aku pun kembali beristirahat di rumah.

Dua hari aku memilih untuk beristirahat di rumah, dan esok hari kembali bekerja.

Saat aku berada di parkiran khusus karyawan, aku bertemu dengan Darto.
“Wan, bagaimana keadaanmu?” tanya Darto.
“Sudah baikkan, To.” jawabku.

“Oh syukurlah, yuk kita sama-sama ke ruangan housekeeping.” ajak Darto.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here