Misteri Kamar 201 #03

0
37
views

Hingga pekerjaan selesai aku terus memperhatikan Darto, karena aku takut kalau-kalau dia hanya menyerupai saja.

“Wan, kerjaan kita udah selesai.” ujarnya.
Aku dan Darto pun keluar dari kamar itu.

****

Ke esokkan harinya, ada tamu yang menginap di kamar 201, seorang wanita cantik.

Ketika ia melewatiku tercium wangi kembang. Senyum tipisnya mengingatkan sesuatu.

****

Sudah tiga kamar yang aku bersihkan, mungkin aku akan beristirahat sebentar.
Tepat di belakang kamar 201, aku duduk di sebuah pohon yang sudah ditebang.
Aku membayangkan senyum tamu kamar 201 tadi. ‘Siapa dia? Mengapa senyumnya tidak asing bagiku.’ batinku.

“Wan, kamu dicariin Pak Hasbi tu.” ujar Sisworo.
“Oh ya, akan saya temui beliau, terimakasih ya.”
“Ya, sama-sama Wan.”

****

Seusai bertemu Pak Hasbi, aku membersihkan seluruh koridor.
Aku sempat enggan menuju koridor yang bertepatan di depan kamar 201.
Tapi tak mungkin melewatkan bagian itu.
Akhirnya dengan sangat terpaksa aku meelakukannya juga.

Aku membersihkan lantai di koridor itu, anehnya kejadian itu tak terulang lagi.
Hanya ada suara berbisik yang terdengar, tak begitu jelas. Namun berhasil membuatku bulu kudukku berdiri. Aku pun mengarahkan telingaku ke pintu kamar itu.

“Maaf Mas, bisa minggir sedikit. Saya mau masuk.” ujar tamu yang menginap di kamar 201.
“Eh iya Mba, maaf, Silahkan Mba.” ujarku yang gelagapan karena ketahuan menguping di kamar itu.
Ia hanya tersenyum, matanya sangat tajam sehingga membuatku takut untuk membalas tatapannya.

****

Saat makan siang aku bergabung dengan karyawan lain. Aku tidak melihat Darto, biasanya dia selalu datang duluan ke kantin.

Lalu aku bertanya kepada teman-temanku.
“Bro, Darto mana? Kok nggak kelihatan?”
“Darto tadi tiba-tiba pingsan Bro, sekarang dia di ruang housekeeping.” ujar Beni
“Pingsan? Kenapa dengan dia?” tanyaku terkejut
“Tadi tamu kamar 201 minta kamarnya dibersihkan kembali, dan Darto yang mendapatkan tugas itu. Setelah Darto keluar dari kamar itu tiba-tiba dia pingsan.” jelas Beni.
‘Waah udah nggak beres nih’ ujarku dalam hati.

Setelah makan siang aku menuju kantor housekeeping, kucari Darto di sana.
Di sebuah sofa panjang di dalam ruangan itu, kulihat Darto terbaring.
Aku mendekatinya dan duduk di sampingnya.
Ternyata dia menyadari kehadiranku.
“Kamu, Wan?” ujarnya yang berusaha untuk bangun dari tidurnya.
“Sudah kamu tiduran saja dulu.” ujarku sambil memapah tubuhnya untuk kembali berbaring di sofa.

“Kamu, kenapa To?” tanyaku
Darto diam seperti mengingat kejadian yang menimpanya.

“Aku tadi membersihkan kamar itu, tamunya ada di dalam, saat selesai aku keluar dari sana dan di luar aku berpapasan dengan wanita yang menginap di kamar itu.” ujar Darto.

Ternyata Darto mengalami kejadian yang sama denganku.

“Apa wanita yang di dalam juga menanyakan tentang pekerjaanmu?” tanyaku.
“Iya Wan, dia bertanya betah atau tidaknya aku bekerja di sini dan dia juga menyuruhku mencari pekerjaan lain.” lanjutnya.

“Aku juga mengalaminya To.” lanjutku
Darto terkejut mendengar ucapanku.

“Aku sudah lama bekerja di sini, tapi tak pernah digangguin yang seperti ini. Biasanya gangguan itu hanya benda-benda yang jatuh sendiri, atau televisi yang nyala sendiri.” ujar Darto.

Saat kami mengobrol tiba-tiba telepon berdering, tertera nomor 201.
Aku dan Darto berpandangan, hal aneh apa lagi yang akan kami alami?

****

‘kring … kring … kring’
Dengan gemetar aku mengangkat telepon itu.
“Hallo, housekeeping, ada yang bisa saya bantu.” ujarku sopan.
‘kikiiiikiiiiiiikiiiii’ hanya suara cekikikkan yang aku dengar, sontak aku menutup telepon dengan kasar.

“Ada apa, Wan?” tanya Darto
Aku semakin gemetaran sehingga mengabaikan pertanyaan Darto.

Keringat mengucur deras dari keningku.
“Kamu kenapa, Wan?” tanya Darto lagi.

‘kring … kring … kring’
Telepon itu kembali berdering, kubiarkan saja.
“Wan, itu ada telepon. Angkat Wan!” ujar Darto.
Aku tak menghiraukan ucapan Darto, saat ia berdiri dan akan mengangkat telepon itu, aku menahan tangannya.

Tiba-tiba seseorang mengangkat telepon itu.
“Haloo, housekeeping, ada yang bisa dibantu?
“Ac di sini mati, saya tak menemukan remotenya.”
“Baik, saya akan memerintahkan petugasnya ke sana.”

Pak Hasbi yang menerima telepon dari kamar 201.
“Kenapa tadi teleponnya tidak kalian angkat? Ac kamar 201 mati dan tidak ada remote di dalamnya. Bisakah diantara kalian berdua mengeceknya?” perintah Pak Hasbi.

“Baik Pak, nanti akan saya cek ke sana.” ujar Darto.
Pak Hasbi meninggalkan kami berdua.

“Perasaan tadi Ac sudah dinyalakan dan remotenya sudah ditaruh di meja kecil samping tempat tidur.” Darto kebingungan.

“Tadi sewaktu aku menerima telepon dari kamar itu, hanya ada suara cekikikan to!” ujarku.

Kami saling berpandangan, rasa takut mulai memenuhi dalam pikiran.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here