Misteri Kamar 201 #02

0
46
views

Sudah hampir pukul dua belas malam, aku bersyukur tak mendapatkan gangguan dari kamar 201.
Namun sialnya saat hendak bersiap pulang aku menerima telepon dari 201, untuk mengantarkan handuk ke kamar itu.
Aku ingin sekali menolak, tapi ini adalah kewajibanku.

Dengan perlahan kulangkahkan kakiku menuju kamar 201.
Saat berada di depan kamar itu aku mengetuk pintu, tak ada sahutan dari dalam. Aku terus mengetuk hingga seseorang dari belakang menepuk pelan bahuku.

“Mas, ada apa ya?”
“Saya mau mengantarkan handuk yang diminta penghuni kamar ini.” Jawabku yang terkejut dengan kedatangannya.

“Saya yang menginap di kamar ini, tapi saya tidak meminta diantarkan handuk.” Ujarnya.

Deeeggggg….
Jantungku serasa berhenti, tubuhku mulai gemetar, mematung di depan kamar itu.

“Permisi Mas, saya mau masuk dulu.” Ia kembali mengejutkanku dengan sapaannya.
“Eh iya, silahkan Mas.”

Saat aku melihat pria itu memasuki kamar, aku mendapati seorang wanita berwajah seram di dalam, sedang menyeringai kepadaku.
Segera aku alihkan pandanganku dan meninggalkan tempat itu.

Sesampainya di rumah aku tak bisa tidur.
Aku terus teringat wanita di kamar 201.
Mengapa dia menggangguku?

***

Ke esokkan paginya aku terbangun, karena memang hari ini aku mendapatkan shift pagi.

“Darto! … Aku melihat Darto dari kejauhan.
Ia melambaikan tangannya dan melangkah ke araku.

“Gimana shift malamnya Wan?” Tanya Darto.
“Seram To, aku sampai tak bisa tidur karena ketakutan.” Bisikku.

“Wan, Darto, semua orang sudah berkumpul di ruang Pak Hasbi.” Ujar Sisworo.

Kami pun bergegas menuju ruang Pak Hasbi.
“Seperti biasa, daftar kamar check out sudah ada di atas meja. Selamat bekerja” ujar Pak Hasbi.

Dag dig dug jantungku saat akan membaca kertas di atas meja itu.
Apakah kamar 201 akan check out atau apakah aku akan menangani kamar itu.

Terlihat jelas angka 201, dan aku yang harus membersihkannya.
Penghuni belum check out tapi minta dibersihkan kamarnya.

Baiklah, setidaknya ada orang di dalamnya saat aku membersihkannya.

‘Tok … Tok …Tok’
Aku sudah berada di depan kamar 201, beberapa kali aku mengetuk pintu dan akhirnya dibuka juga.
“Maaf Mas, saya mau membersihkan kamarnya.” Ujarku sopan.
“Oh iya … Silahkan.” Aku dipersilahkan oleh pria itu masuk ke kamarnya.

Tanpa berbasa basi aku langsung saja memulai tugasku.

Saat aku membersihkan bagian tempat tidurnya, pria itu duduk di sofa, tak begitu jelas terlihat karena adanya akar-akar pohon yang dianyam sebagai penyekat antara tempat tidur dan tempat di mana pria itu duduk.

“Sudah lama bekerja di sini Mas?” Ujarnya.
“Belum Mas, hampir satu mingguan saya di sini.” Jawabku sambil terus bekerja.

“Betah kerja di sini?” Pertanyaan pria itu menghentikan sejenak aktifitasku namun tetap aku tak menoleh padanya.

Apa mungkin pria itu diganggu juga? Aku menduga-duga sebab mendengar pertanyaan pria itu.

Aku tidak mungkin menceritakan hal yang terjadi di kamar ini. Itu hanya akan membuat para tamu takut dan membuat mereka tak mau lagi menginap di hotel ini.

“Betah Mas.” Ujarku singkat.
“Kenapa kamu tidak berhenti saja, dan cari pekerjaan lain. Kamu tidak akan betah di sini?” Lanjut pria itu.

Aku diam dan terus melanjutkan pekerjaanku.
Saat pekerjaanku selesai dan aku ingin menjawab pertanyaan pria itu. Ternyata pria itu …..

“Mas kamarnya sudah bersih.” Ujarku dan mataku melotot.

Tak ada siapa pun di sofa itu, bahkan di kamar ini hanya aku sendiri.

Lagi-lagi aku mematung di kamar ini. Tak sanggup kakiku digerakkan walaupun hanya selangkah.

‘Cekleekk’ Pintu dibuka
“Mas, sudah selesai ya?” Ujar seorang pria dari depan pintu.

“Eh … Sudah Mas, saya permisi dulu Mas.” Ujarku dan sedikit berlari meninggalkan kamar itu.

***

‘kring kring kring’ telepon di ruang housekeeping berbunyi, tertera nomor 201 memanggil.
Aku abaikan suara deringan telepon itu dan bergegas keluar dari sana.
Anggap saja aku tak mengetahui ada kalau telepon berdering.

Sebisanya aku menghindar dari kamar itu, tapi kalau sudah Pak Hasbi yang memerintahkan aku bisa apa?

‘kamar 201 check out’ ada secarik kertas di atas meja, ada namaku dan Darto tertulis di sana.

“Syukurlah, ada yang juga menemaniku.” Sambil mengelus dadaku.

Aku mencari Darto untuk mulai membersihkan kamar 201 itu. Namun dia tidak ada kelihatan.
“Wan kenapa kamar 201 belum dibersihkan?” Tegur Pak Hasbi.

“Oh iya Pak, ini baru saya mau ke sana.”
Aku menyiapkan alat kerjaku dan menuju kamar itu tanpa menunggu Darto datang.

Belum aku memasuki kamar itu, aku sudah merinding.
Aku masuk perlahan dan langsung menuju kamar mandi. Aku mulai menggosok lantai kamar mandi.

‘cekleeek’ terdengar seperti orang membuka dan menutup pintu.

Terdengar pula suara televisi, aku ketakutan, karena saat aku masuk tadi televisi dalam keadaan mati.

Terdengar suara langkah kaki, suara itu semakik dekat denganku.
Aku yang membelakangi pintu mendapatkan bayangan yang terpantul di dinding kamar mandi tengah berdiri di belakangku.
Aku gemetar, bulir-bulir keringatku muncul di keningku.

“Wan … Maaf ya tadi aku ballroom, dan tidak ingat aku harus membantumu membersihkan kamar ini.” Ujarnya.

Ternyata Darto yang datang membantu pekerjaanku.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here