Misteri Hutan Jati #02

0
167
views

“Gayatri ….”

Sosok lelaki dengan penampilan menyeramkan itu masih terus melambaikan tangan memintaku untuk mendekat. Setapak demi setapak, aku mulai meninggalkan halaman belakang rumah.

Suasana mendadak hening. Rasanya seperti memasuki dimensi lain. Perlahan, wajah lelaki itu malih rupa menjadi saaangat tampan dan gagah. Mungkin bila hidup di masa sekarang, hanya aktor Rio Dewanto lah yang bisa menandingi pesonanya.

Jarak kami semakin dekat, dekat, dekat, dan dia mulai mengulurkan tangannya untuk menyambutku. Hingga akhirnya ….

“Astaghfirullah … Gayatri! Kamu ngapain pecicilan ke sini?!”

Satu tepukan di bahu mengembalikan kesadaranku.

“A … a… a….”

Aaah … mengapa aku jadi gagap begini? sulit sekali mulutku menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

Ibu langsung menarik tanganku untuk pulang. Tak peduli aku terseok-seok mengikuti langkahnya yang setengah berlari. Sesekali aku menoleh ke tempat lelaki tadi. Dia masih di sana. Kembali menjadi sosok menyeramkan. Menatap dengan sorot mata kecewa.

“Ibu kan sudah bilang, Nduk. Jangan keluyuran ke sana. Bahaya. Nanti kalau terjadi apa-apa sama kamu gimana!?”

Sesampainya di dapur, ibu mendudukkan aku di dipan bambu dan kembali mengomel meluapkan kekhawatirannya.

“Nih, minum dulu. Owalah Tri … Gayatri … jangan bikin Ibu takut to, Nduk,” sahutnya, sambil mengulurkan segelas air putih hangat. Beliau mulai terisak, menyusut air matanya dengan ujung lengan daster dan mengelus-elus kepalaku. Aneh, mengapa sikap ibu berlebihan begini?

Ya Tuhan … apa yang sebenarnya menimpaku? Mengapa rasanya sulit sekali merangkai kata untuk menjelaskan apa yang aku alami pada ibu.

Ibu terlihat panik, berulangkali menepuk-nepuk pipiku. Hingga akhirnya ibu mengajakku ke kamar untuk menukar baju yang basah kuyup.

“Pakmu iki mau yo nang endi (ke mana) to, yo ….” keluhnya.

Tergesa-gesa ibu mengajakku ke teras rumah, mengeluarkan sepeda jengki dan memintaku untuk naik.

“Ayo gek ndang Mbonceng.”

Seperti anak kerbau yang dicucuk hidungnya aku menuruti perkataan ibu. Entah, mau diajak ke mana aku sekarang.

Kami menyusuri jalanan kampung yang berkerikil dan berdebu. Kecuali listrik, kampungku ini belum tersentuh modernisasi. Jalan-jalan masih belum beraspal. Rumah warga mayoritas terbuat dari papan. Sebagai sarana transportasi warga mengandalkan sepeda ontel. Hanya segelintir warga yang memiliki sepeda motor.

Tingkat ekonomi masyarakat pun rendah. Sebagian besar bekerja sebagai buruh tani. Dan yang lainnya memilih menjadi pencetak batu bata.

Jika sedang memasuki musim pembakaran batu bata, kampungku ini akan terasa sangat panas menyengat. Karena di beberapa titik berdiri rumah-rumah pembakaran yang menjadi tungku raksasa melakukan aktivitas serentak.

Belum lagi bila proses pembongkaran, abu-abu bekas pembakaran batu bata itu berterbangan ke segala penjuru. Hal ini sering membuatku geram karena baju di jemuran yang sudah capek-capek kucuci pasti akan kotor kembali.

Saat melintasi perempatan pos kamling, kami bertemu dengan Prabu, tetangga sekaligus sahabatku dari kecil. Ibu terpaksa menghentikan sepedanya.

“Bulik, mau ke mana? Kok buru-buru?”

“Ini lho, Le. Mau ke rumahnya Mbah Modin, nyuwukke Gayatri.”

Mataku melebar mendengar penuturan ibu. Nyuwukke? Lha memange aku iki bayi sing kena sawan apa kepiye kok disuwukke.

“Nyuwukke? Lha emang Gayatri kenapa to, Bulik.”

“Wes nanti saja ceritanya, Bulik kesusu (buru-buru). Yo wes yo, Le.”

“Eeeh … Bulik … Bulik, sini Gayatri biar saya boncengin. Sini Tri. Kamu sama aku saja.”

Aku bengong melihat kepanikan ibu dan Prabu. Ingin ngomong tapi mulutku masih terkunci.

“Sana, Nduk. Pindah mbonceng Prabu. Ben ndang cepet tekan.”

Aku mendengkus, merasa jadi seperti sekarung puhung (singkong) yang dioper-oper. Setelah aku turun, ibu langsung melesat dengan sepeda jengkinya. Sementara aku ditinggal belakangan bersama Prabu.

“Gek naik. Kamu ini kenapa, to?”

Bibirku komat-kamit tapi tetap, tak sepatah kata pun terucap.

“Wo … lha ayu-ayu og bisu.”

Semprul, refleks kupukul pundaknya. Sempat-sempatnya dia menggodaku dalam kondisi seperti ini. Kami kembali melanjutkan perjalanan. Menaiki sepeda onta dengan kayuhannya yang bersuara khas.

*****

Sesampainya di sebuah rumah berdinding kayu jati dan berhalaman luas, kami berhenti. Setelah mengucap salam, Prabu membimbingku masuk. Menuju ruang tamu yang berada di sisi kiri pintu dengan kursi-kursi penjalinnya yang ditata memanjang.

Terlihat ibu sedang duduk menghadap seorang bapak sepuh yang biasa kami panggil Mbah Modin, terpisah meja kayu bertaplak merah dan berbordir bunga kuning.

Di atas meja terhidang nampan berisi beberapa gelas kosong, teko lurik, dan sepiring ubi rebus juga beberapa kaleng Khong Guan dengan isi yang biasanya menjebak. Makanan khas orang dusun. Kalau ndak rengginang, criping ya emping.

“Niki lho, Mbah. Larene (anaknya). Habis dari hutan jati kok malah koyo wong linglung, diajak ngomong blas, nggak nyambung.” Melihat kedatanganku ibu langsung menyambut dan memintaku duduk di sampingnya. “Salim Simbah sik, Nduk.”

Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, menatap sorot mata Mbah Modin menimbulkan rasa takut di hati. Saat menyambut uluran tangannya, terasa ada aliran listrik yang membuatku langsung berjenggit.

“Oo, anakmu wedok ono sing nyenengi, Ju.”

“Nyenengi bagaimana to, Mbah?” tanya ibuku, yang bernama lengkap Juwariyah.

“Wes ora po-po. Ora usah dipikir nemen-nemen. Sebentar tak mintakan obat sama Gusti Allah. Tenang, pasti sembuh, kok. Dia cuma kaget.”

Mbah Modin langsung menuang segelas air putih dari teko lurik tadi dan komat-kamit membaca do’a. Hanya dua kalimat yang kupahami. “Bismillahirrohmanirrohiim, Sholallahu ‘ala muhammad, sholallahu ‘alaihi wassalaam.”

Setelahnya aku sama sekali tak paham. Karena beliau menggunakan bahasa Jawa kuno.

“Wes, ini minumkan sama anakmu. Sisakan sedikit buat ngraupi raine (membasuh mukanya),” perintah Mbah Modin.

Meskipun ragu, aku menuruti apa yang beliau suruh. Dibantu ibu aku meminum air putih itu dan sisanya ibu yang meraupkan ke wajahku.

Sekian menit setelah meminum air putih itu. Pyaarrr … aku merasa ada ikatan tak kasat mata yang lepas dari tubuhku.

“Piye, Nduk? Coba crita sama Simbah. Kamu tadi weruh (melihat) apa?”

Aku pun mulai menceritakan apa yang kualami tadi pagi. Mbah Modin, Ibu, dan Prabu tekun menyimak. Di antara mereka bertiga hanya Simbah yang terlihat tenang. Sementara ibu dan Prabu gelisah dan khawatir.

“Lha itu nanti dia ngganggu lagi ndak nggih, Mbah?” tanya ibu.

“Harusnya tidak. Yang penting Gayatri jangan sampai kosong pikirannya. Tetep eling marang Gusti (berdzikir), ngibadah e di kencengi (tekun beribadah).”

Panjang lebar Mbah Modin memberiku nasehat. Ibu pun tak mau kalah. Menasehati dengan gayanya yang khas. Sedang si Prabu malah cengengesan menggoda, “Cieee sing ditaksir demit.”

Hasyeeem.

*****

Setelah kejadia hari itu, ibu dan bapak semakin memperketat pengawasannya. Beliau berdua benar-benar melarangku menginjak hutan jati itu.

Bahkan untuk menjemur pakaian pun ibu yang mengambil alih. Tugasku cukup hanya mencuci.

Mereka pun tak pernah membiarkan aku tidur seorang diri. Kecuali pada malam-malam tertentu.

O iya, saat itu sedang libur panjang kenaikan kelas. Nyaris setiap saat aku di rumah. Jarang keluar kecuali ada teman yang menghampiri. Seperti malam Minggu ini, Prabu datang dengan niat mengajakku berangkat bersama menuju rumah Pakde Karwo untuk menghadiri acara kumbakarnan.

Dalam adat istiadat Jawa, Kumbakarnan adalah acara pembentukan panitia resepsi pernikahan. Biasanya melibatkan warga termasuk anggota karang taruna. Kebetulan seminggu lagi Pakde Karwo akan menggelar resepsi pernikahan putri sulungnya. Jelas ini akan menjadi acara besar, karena baru pertama kalinya beliau mengadakan acara mantu.

Namun, ada yang aneh dengan kedatangan Prabu. Dia muncul hanya sendirian. Sedangkan Mitri, sahabat kami yang lain tak terlihat batang hidungnya.

“Lha Mitri mana, Prab?” tanyaku, celingukan mencari sosok Mitri. Kami teman sepermainan sejak kecil. Menjalani masa-masa sekolah selalu bersama. Dari TK hingga SMP, dan terpisah ketika kami memasuki jenjang sekolah menengah atas.

“Dia nggak ikut, kan lagi sakit.”

“Sakit apa emange? Perasaan kapan itu masih lewat depan rumah sini, kok?”

“Makanya kamu itu keluar, jangan ndekem koyo pitik angrem wae. Lha si Mitri kan sudah hampir seminggu sakit, Tri. Sakitnya apa yo nggak jelas. Katanya suka ngalamun, trus nangis sendiri. Koyo wong setres kae lho,” terang Prabu panjang lebar.

“Ya Allah, melas temen. Yo wes, besok kita jenguk Mitri, Prab. Kasihan.”

Prabu mengangguk menyetujui ajakanku. Selama acara kumbakarnan aku sama sekali tak bisa fokus. Pikiran terus tertuju pada Mitri. Apa sebenarnya yang sedang menimpanya saat ini?

*****

Sepulang dari acara kumbakarnan, aku langsung masuk kamar. Ibu dan bapak masih tinggal di kediaman Pakde Karwo. Kata ibu sih, masih ada yang harus mereka diskusikan.

Aku sengaja pulang terlebih dahulu karena mata sudah sangat berat tak mau diajak kompromi.

Malam belum terlalu larut. Masih sekitar pukul sebelasan. Emang dasar aku. Sesampainya di rumah kantukku menguap entah ke mana. Di atas ranjang aku hanya bolak balik tak karuan. Sebentar miring ke kiri, sebentar miring ke kanan, sebentar ganti posisi lagi tengkurap, telentang ah … serba salah rasanya.

Kaki tiba-tiba pegal luar biasa. Sudah kunaikkan ke dinding pun tetap tak berpengaruh. Suasana kamar mulai terasa pengap.

Feelingku mulai tak enak. Biasanya bila sudah merasa keganjilan seperti ini pasti akan terjadi satu peristiwa menyeramkan. Hatiku mulai dag dig dug tak karuan. Berharap bapak dan ibu segera pulang agar aku tak lagi sendirian.

Benar saja, sayup-sayup aku mulai mendengar rintih tangis seorang perempuan dari arah hutan jati.

Kupasang telinga berharap itu hanya ilusi dari ketakutanku. Ya … aku memang tak salah dengar. Saat ini memang ada suara perempuan yang sedang menangis.

Rintihannya menyayat hati, bagai sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Pikiranku bercabang. Itu manusia atau setan? Jika setan mengapa sedemikian lama dia menunjukkan diri. Ada sekitar dua puluh menitan. Tapi jika manusia … ah, sepertinya tak masul akal. Mana ada manusia yang nekat malam-malam pergi ke tengah hutan sendirian.

Di dalam kamar aku mondar mandir tak karuan. Rasa takut, gelisah dan kasihan campur aduk menjadi satu. Ingin keluar aku takut. Tak keluar aku penasaran.

Dengan menahan gemuruh di dada, aku nekat, membuka jendela kamar. Rasa penasaran akhirnya mampu mengalahkan rasa takut. Semilir angin malam langsung menyeruak menyapa wajah. Dari tempatku berdiri, aku bisa leluasa memandang ke arah hutan jati.

Bantuan sinar bulan purnama membantuku melihat suasana di luar sana dengan jelas.

Nun di bawah sebatang pohon, terlihat sesosok manusia sedang meringkuk memeluk lutut.

“Siapa kamu!”

Dia bergeming, mengangkat wajah sebentar lalu kembali menunduk dan melanjutkan tangisnya.

Aku semakin penasaran. Tanpa pikir panjang, kuambil senter bapak dari dalam bufet dan beranjak ke pintu dapur. Kubulatkan tekad untuk memastikan siapa wanita yang sedang menangis itu. Bibir dan hati tak henti-hentinya berdzikir. Memohon belas kasih dan pertolongan Allah.

“ASTAGHFIRULLAHAL ADZIIM!”

Rasanya kaget luar biasa, saat pintu dapur terbuka tiba-tiba melintas di hadapanku seekor anjing hitam pekat yang hanya memiliki tiga kaki.

Aneh, anjing siapa itu? Seingatku tak satu pun dari warga kampung sini memelihara anjing. Apalagi dengan sosok menyeramkan seperti itu.

Sial, kini dia malah duduk di bawah jemuran dan melolong panjang. Suaranya membuat bulu di sekujur tubuhku meremang. Seakan bersaing dengan rintih tangis perempuan yang hendak kudatangi.

Kepalang basah, aku putuskan untuk melanjutkan niat. Setapak demi setapak kaki mulai menginjak hutan tersebut. Suara daun kering dan patahan ranting tertangkap jelas memecah keheningan. Sesekali kadal melintas di depan kakiku.

Sorot lampu senterku mengarah pada sosok perempuan yang masih meringkuk memeluk lutut. Entah mengapa, naluriku mengatakan jika sosok itu adalah manusia bukan setan atau kuntilanak.

Bug!

Sesaat langkahku terhenti. Ada yang sengaja melempar tubuhku dengan kerikil. Reflek aku menoleh dari arah kerikil itu berasal. Dan … Aku terpekik kala senterku menyorot ke sebuah batang jati berdiameter kurang lebih dua meteran.

Di balik batang jati itu terlihat sesosok pocong, berwajah hancur dan membusuk sedang meringis mengintipku. Hanya sesaat kemudian dia menghilang, meninggalkan aroma busuk yang mengaduk-aduk isi perut. Spontan kubekap hidung dan mulut.

“Allahu akbar!”

Kutarik napas, menghembuskannya perlahan dan menata hati yang semrawut.

Kembali aku berjalan. Jarak kami semakin dekat. Kini aku bisa melihatnya dengan jelas. Dan betapa aku sangat terkejut saat dia mendongak menampakkan wajahnya. Ya Allah, Astaghfirullah, ternyata makhluk itu ….

Penulis: Nirmala Ayu

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here