Mertua Serba Salah

0
233
views

“Kamu kok cuma pake cincin aja, pake kalung juga gitu, uang kalian buat mertuamu pasti,” ucap Bu Rosa, ibunya Rita.
Rita makin curiga sama mertuanya.

“Ibu … kalau habis pakai kompor dibersihkan lagi dong Bu …,” ucap Rita kepada mertuanya, Bu Tina.

“Mas, Ibu makannya banyak banget, belanja bulanan kita kan jadi bengkak,” ucap Rita pada suaminya.

Sejak Ayahnya meninggal, Rahman mengajak Ibunya untuk tinggal bersamanya di kota. Apalagi, Rita juga ingin bekerja kembali. Rita sendiri yang awalnya mengusulkan ke Rahman untuk mengajak sang mertua tinggal bersamanya di Ibu Kota. Bu Tina pun menuruti. Dia juga ingin bisa menimang cucunya setiap hari. Aqila memang sedang lucu-lucunya, bayi yang berumur sebelas bulan dan sangat menggemaskan.

“Bu, Aku berangkat kerja dulu ya, ASIP sudah ku taruh kulkas, pakai yang di bagian bawah dulu. Ingat ya, ada urutannya sesuai tanggal dan jam. Jangan sampai salah,” ucap Rita.

Bu Tina memperhatikan setiap kata dengan teliti.

“Kamu gak sarapan dulu Nak?” tanya Bu Tina.

Rita membuka tudung saji, disana dilihatnya ada telur dadar dan sayur kangkung.

“Saya gak biasa makan telur dadar saja Bu. Sarapan di kantor aja.”

“Maaf Nak, Ibu tadi kesiangan.”

‘Ah … tidur nyenyak aja kesiangan. Apalagi Gue, yang malam masih bangun buat nyusui Qila.’ Rita menggerutu dalam hati.

“Bu, nanti kalau Qila rewel. Jangan biarkan nangis lama-lama ya, Ibu gendong. Ajak keluar. Kalau sampai ada apa-apa sama Qila. Ibu yang Rita salahkan.”

Rita memastikan Rahman tidak mendengar ucapannya pada Ibunya.

“Iya Nak, cucu nenek pasti nenek sayang Nak.”

Rahman sudah siap dengan pakaian kerja yang rapi dan wangi. Begitu juga dengan Rita.

“Kita berangkat dulu ya Bu, Ibu hati-hati di rumah,” ucap Rahman.

“Kamu gak sarapan juga Nak?” tanya Bu Tina.

“Gak usah mas, Aku udah kesiangan nih … sarapan di kantor saja.”

Sebenarnya, waktu belum terlalu siang. Rita hanya tak ingin Rahman memaksanya untuk makan juga.

“Maaf Bu, udah siang, takut telat,” jawab Rahman.

“Oh yaudah, hati-hati di jalan ya Nak, kalian.

Rita dan Rahman pun berangkat kerja.

“Mas, kapan kita bisa beli mobil, panas banget naik motor,” gerutu Rita.

“Sabar Dek, belum ada uangnya.”

“Aku pikir ada Ibu, makin hemat kita. Gak perlu bayar pembantu. Nyatanya, pengeluaran makin banyak. Ibu itu boros. Kalau goreng pakai minyak goreng banyak. Kalau nyuci deterjennya banyak. Kalau setrika pewanginya banyak. Kalau ngepel juga. Boros banget. Cepat habis jadinya.”

“Kamu bilang aja, jangan banyak-banyak Dek.”

“Ah … nanti Ibu tersinggung, terus nangis. Ngadu ke Kamu. Kamunya marah sama Aku.”

“Ibu gak pernah kok ngadu apa-apa.”

“Bohong banget,” ucap Rita ketus.

🌷🌷

“Masak kok banyak banget Bu? Bukannya Rita kasih uang tiga puluh ribu ya tadi. Ibu ditambahin sama mas Rahman pasti.”

“Nggak Nak, itu uang dari kamu tadi, Ibu belanjakan,” ucap Bu Tina.

“Gak mungkin cukup buat belanja sebanyak ini. Ibu dapat uang darimana?”

“Iya, sama pakai uang Ibu Nak, Ibu ada sedikit uang dari Budenya Rahman. Kemaren Ibu dikasih, waktu dia mampir kesini sebentar.”

“Ibu gak minta kan?”

“Nggak Nak,” jawab Bu Tina pelan.

“Rita gak mau Ibu bikin malu ya. Nanti Kita yang disalah-salahkan kalau Ibu minta-minta,” ucap Rita dengan ketus.

“Bajunya Aqila kok masih ada noda begini Bu?”

Baca selanjutnya

by : Faradisa Nursalim

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here