Mertua Serba Salah #04

0
180
views

“Iya Bu, gajinya Mas Rahman gak besar. Buat bayar cicilan rumah. Belum beli diapers Qila. Masih nanggung Ibunya juga di rumah. Jadi, Rita masih belum kepikiran beli-beli perhiasan,” jelas Rita.

Cincin dengan hiasan berlian. Mungil melingkar di jari manis yang lentik. Kutek kuku kian menambah cantik. Andai ada teman baru yang melingkar di jari tengah, pasti makin perfect. Pikir Rita.

“Kamu dulu dari kecil itu selalu Ibu pakein perhiasan lho. Lengkap. Kasihan banget kamu Nak … Ibu jadi sedih.”

Bu Rosa memandangi Rita dari ujung kaki hingga ujung kepala.

Rita tersenyum kecil.

“Tapi, enak kan Rit? Ada mertua, Kamu ada yang bantuin urus rumah.”

“Enak Bu, tapi caranya gak cocok sama Rita.”

Rita memutar-mutar cincin. Memastikan tidak terlalu sesak melingkar di jemarinya.

“Kamu sih dulu milih Rahman. Dapat gantengnya doang kan. Materi kekurangan. Nikah sama Edo, enak dulu. Hidupmu bakal enak. Gak perlu sesusah sekarang. Punya mobil bagus. Kamu bisa jadi nyonya. Kerjaannya kesana kemari.”

Bu Rosa mulai menyesal dulu telah menikahkan Rita dengan Rahman. Harapannya mendapatkan menantu yang lebih lagi. Apalagi melihat Edo, tetangganya yang dulu menyukai Rita, kini lebih sukses daripada Rahman.

“Nasi sudah jadi bubur Bu,” ucap Rita.

“Iya sudah punya anak lagi sekarang. Tapi, Ibu dukung kamu kalau cerai. Cari laki-laki yang lebih kaya dari Rahman.”

Bu Rosa menepuk-nepuk pundak Rita. Ucapan Bu Rosa cukup menohok.

“Husttt! Ibu ih … bagiamana pun Rita cinta sama mas Rahman. Mas Rahman baik sama Rita.”

Rita membela suaminya. Dia tak rela berpisah dengan Rahman.

“Ah… makan ganteng dan cinta doang mah gak kenyang Neng,” ucap Bu Rosa.

“Ibu ih ….”

Rita mulai kesal.

“Yaudah nih, pakai perhiasan Ibu. Ibu malu sama teman-teman Ibu kalau kamu gak pakai apa-apa gini.”

Rita menuruti keinginan Ibunya. Mengambil sebuah gelang emas, lalu menautkan antar ujung di pergelangan tangan.

“Gelang ini ya Bu?”

“Nah gitu dong cantik. Itu pakai sandal Ibu juga. Ibu baru beli kemaren. Bagus, cocok di kakimu, Nak. Siapa tau di tempat pesta ada duda kaya yang naksir.”

“Mulai kan Ibu ….”

Rita memonyongkan bibir. Orang cantik, ekspresi seperti apapun, tetap terlihat cantik.

Rita nampak sangat menawan. Longdress warna pink menutup kulit putihnya, ditunjang dengan sandal highheels warna gold yang senada dengan tas kecil dikalungkan di lengan.
Mereka mengendarai mobil sedan silver milik Bu Rosa.

Mobil memasuki area gedung. Menuju area parkir. Ada kosong sebelah ujung. Dekat pohon bunga pucuk merah. Rita dan Bu Rosa berjalan menuju ballroom. Mewah. Hiasan lampu dan bunga nampak sangat indah. Sepasang pengantin bersanding sangat serasi. Penampilan orang tua para pengantin juga terlihat elegan dan berkelas.

“Lihat tuh Rit, pantes semuanya. Dulu Ibu malu waktu mertuamu di depan gitu,” ucap Bu Rosa.

Mereka yang hanya melihat sisi manusia dari penampilan fisik. Tentu akan mudah menganggap rendah orang lain yang tak sesuai dengan dirinya. Bu Rosa selalu menjaga penampilannya. Walaupun sudah kepala lima, dia masih terlihat cantik dan terawat. Berbeda dengan Bu Tina, Beliau yang tak pernah memperhatikan penampilan. Baginya, kebahagiaan dan pendidikan anak-anaknya adalah yang utama.

Rita hanya tersenyum kecil menanggapi celoteh Bu Rosa.

Tung …

Sebuah pesan masuk di gawai. Rahman rupanya. Sang suami penyabar.

[Sayang, pulang jam berapa?]

[Belum tau Mas, masih di gedung. Kenapa Mas?]

Belum ada balasan.

Melihat muka Rita nampak cemas, dan fokus pada gawai. Bu Rosa bertanya,
“Kenapa Rit?”

“Gak papa Bu. Mas Rahman hanya nanya, Rita pulang jam berapa.”

“Oh … baru juga sebentar. Udah dicariin aja.”

“Takutnya Qila rewel Bu.”

“Kan ada neneknya. Masa gak bisa nenangin. Alasan aja mungkin.”

[Yang, kalau bisa langsung pulang ya nanti]
Balasan pesan dari Rahman.

[Kenapa Mas? Qila rewel?]

[Iya, dari tadi susah di tenangin]

[Demam gak mas?]

[Aku chek thermo 38 ]

[Oh iya Mas. Habis ini Rita langsung balik]
jawab Rita.

“Bu, habis salaman sama pengantin, kita pulang ya.”

Mimik Bu Rosa kesal. Aura cantiknya tiba-tiba lenyap.

“Kenapa?”

“Qila sakit Bu.”

“Duh … Ibu udah dandan lama-lama. Mau ngobrol sama teman-teman Ibu. Lama gak ketemu. Gak jadi deh.”

Rita merasa bersalah.

“Makan dulu aja ih, Ibu lapar,” ucap Bu Rosa.

“Ohyaudah, iya Bu,” jawab Rita.

Setelah mengantri untuk naik ke atas pelaminan dan memberi ucapan selamat kepada pengantin. Mereka mencicipi aneka hidangan. Lalu bergegas menuju parkiran. Mobil melaju ke arah rumah Rita

“Qila gak pernah sakit. Dirawat mertuamu kok tiba-tiba sakit Rit?”

“Gak tau Bu.”

“Makannya gimana, doyan makan kan setiap hari?”

“Iya doyan, Bu.”

Rita fokus pada stir mobil.

“Takutnya dikasih makan yang aneh-aneh.”

“Gak tau ah Bu, pusing mikirinnnya,” ucap Rita yang tak ingin konsentrasinya terganggu.

“Kenapa dulu kamu ajak tinggal sama kamu sih Nak?”

Baca sebelumnya

by : Faradisa Nursalim

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here