Mertua Serba Salah #03

0
239
views

[Temani Ibu ke kondangan. Bapakmu lagi ada kerjaan besok].

[Siap Bu].

[Anak Ibu udah makan belum nih?].

[Belum Bu]. Emoticon menangis turut menyertai pesan yang Rita kirim

[Kasian …., makan gih. Nanti sakit Lho. Udah kerja capek-capek. Mertuamu belum masak?]

[Udah Bu … Rita lagi Bete Bu]. Tak lupa emoticon menangis lagi.

[Kenapa?]

[Biasa … , ibunya mas Rahman bikin bete mulu]

[Ohyaudah, besok cerita sama Ibu ya …]

[Siap, terimakasih Ibuku sayang …]

Benci …. tak suka …. sebuah rasa yang Rita rasakan. Padahal, tanpa sang mertua dia bakal kelabakan. Tak semua orang bisa menghargai sebuah kehadiran, padahal jelas-jelas membutuhkan. Seorang yang menumpang kerap dianggap remeh. Padahal, tak semua yang menumpang penyuka gratisan dan mau enaknya saja. Ada jasa yang tak ternilai yang telah Bu Tina sumbangkan. Sebuah nilai yang tak terbatas ketika dirupiahkan. Tanpa sadar. Semua mengalir berbalut keikhlasan dan kasih sayang.

Hati Rita kian bergemuruh. Rahman tak kunjung menyusul istri dan buah hati di kamar. Dia lebih memilih ngobrol dengan sang ibu.

Krek ….

Akhirnya yang ditunggu pun datang.
“Kamu kenapa toh sayang?” tanya Rahman kepada Rita.

“Ibumu susah sekali ikut aturan di rumah ini.” Rita sang istri yang sangat Rahman cintai memonyongkan bibir.

“Mau pake jasa baby sitter aja? biar Ibu gak pegang Qila.”

Rahman memangku Qila. Dielus-elus kepala si bayi yang mungil.

“Berapa bayar baby sitter? tiga juta per bulan. Sayang ah … masih banyak keperluan lainnya.”

Rahman paham.

“Terus maunya gimana Sayang?”

“Ya, Aku mau Ibu ngikut aturan disini.”

“Sabar ya. Ibuku itu bukan orang yang keras kepala kok. Beliau pasti lama-lama bisa menyesuaikan diri. Hanya butuh waktu saja.”

“Sampai kapan?”

“Sabar aja ya Sayang.”

Rahman sadar. Dia belum mampu membahagiakan dan memberikan sesuai dengan apa yang orang tua Rita berikan kepada istrinya selama ini. Kemewahan.
Hal yang masih menjadi tolak ukur kebahagiaan seorang, termasuk Rita.

Bagaimanapun, Rahman juga ingin menunjukkan bakti pada Ibunda. Sebuah hal penting yang belum mampu Rahman berikan. Untung saja, keikhlasan sang Ibu luar biasa. Tak banyak menuntut pada Rahman.

Tirai abu-abu penutup kaca di singkap. Jendela kaca dibuka lebar. Melihat indahnya bintang. Menentramkan diri sejenak dari wajah cantik sang istri yang sedang berkalut emosi. Angkasa menentramkan jiwa. Udara segar berhembus pelan. Menggoyangkan daun-daun bunga di pot yang bergelantungan. Rahman berusaha tetap tenang untuk menghadapi badai-badai karena ketidakcocokan antara orang tua dan istri.

🌷🌷

Sepi, hilang separuh jiwa. Semenjak kepergian suami yang sangat disayangi. Bu Tina, harusnya bisa menikmati masa tua dengan riang gembira. Bersanding dengan laki-laki pilihan hati yang sudah puluhan tahun menjadi tempatnya mengabdi.

Kini, dia harus lalui sendiri. Untung saja ada sang cucu kesayangan yang menjadi penghiburnya. Walaupun, tak seharusnya Beliau menjadi pengasuh utama. Tapi, karena keadaan, semua mengalir begitu saja. Kulit kriput dan tulang yang tak lagi kuat sering memperlambat aktivitas. Tinggal di rumah sendiri, juga bukan pilihan yang tepat. Bekerja sebagai buruh tani, masih menjadi hal yang disukai. Tapi sayang, pemilik ladang tak banyak yang memakai jasanya lagi. Dapur harus tetap mengebul. Sekolah anak bungsu harus tetap berlanjut. Beliau tak ingin menjadi beban dengan berharap kiriman dari Rahman. Beliau sadar, banyak kebutuhan yang harus Rahman tanggung. Termasuk mempersiapkan pendidikan untuk cucu-cucunya. Beliau tak ingin anak kesayangannya menjadi banyak pikiran, ketika harus menanggung dua dapur.

Di tarik sebuah kain jarik, dijadikan selimut kesayangan, penghangat badan. Memakainya, mengingatkan pada kenangan dua puluh tahun silam. Saat almarhum suaminya membelikan dari Surakarta.

Melantunkan surat-surat pendek. Mengirim do’a untuk belahan jiwa yang lebih dulu mendahului. Berdzikir. Membaca do’a sebelum tidur. Rentetan ritual sebelum tidur telah Bu Tina lalui.
Mata tua yang teduh itu kini terpejam. Mengistirahatkan badan. Dan bersiap untuk menyambut sepertiga malam. Bu Tina sangat bersyukur, di usianya yang kepala lima, beliau masih senantiasa diberi kesehatan. Tak ada penyakit yang bersarang di badan. Mungkin saja, karena dia memiliki pemikiran yang tenang, pandai menjaga emosi dan membawa diri dalam keadaan.

🌷🌷

“Anak Ibu, kenapa habis nikah kamu malah susah begini toh Nak?” tanya Bu Rosa kepada Rita.

“Nasib Bu …,” jawab Rita seraya menambah warna lipstik di bibir.

“Biasanya kalau Ibu ajak kondangan selalu pake baju baru. Ini juga kayaknya bajumu lama deh?”

Bu Rosa menyentuh baju pesta warna pink yang dikenakan anaknya.

“Hehe iya Bu.”

“Terus, kamu gak punya gelang juga?”

Rita menggeleng. Alis Bu Rosa bertautan.

“Sebentar-sebentar.”

Bu Rosa menuju kamar. Diambil sebuah kotak perhiasan dari balik laci. Menyambut Rita kembali di ruang tengah.

“Nih, lihat punya Ibu, banyak. Bapakmu semua ini yang belikan. Kamu udah nikah tiga tahun masa masih aja pakai cincin mas kawin aja.”

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

by : Faradisa Nursalim

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here