Mertua Serba Salah #02

0
188
views

Rita mengambil Aqila dari gendongan mertuanya.

“Iya Nak, tadi ketumpahan makanan, belum sempat Ibu ganti. Cucian di belakang juga belum sempat Ibu cucikan.”

“Duh kasian anak Mama, pake baju kotor gini dibiarin,” ucap Rita sambil menatap wajah Aqila.

Bu Tina merasa bersalah.

“Kan ada mesin cuci Bu …,” ucap Rita.

“Ibu gak biasa pake mesin cuci. Biasa kucek pake tangan,” ucap Bu Tina seraya mengambilkan nasi Rahman.

Tina menggendong Aqila.

“Ibu, belum bisa kali Dek.”

“Udah ku ajarin Mas, gak mau tapi.”

Rahman menghela nafas panjang. Baginya sangat sulit berada dalam posisi seperti ini. Meninggikan suara hanya akan membuat Rita makin emosi. Bagaimanapun Rita adalah Ibu dari anaknya. Rahman tak ingin memarahi Rita didepan Aqila.

“Nak, nasinya segini cukup?”

Bu Tina menunjukkan piring nasi kepada Rahman.

“Iya Bu, cukup. Gak usah diambilkan gak papa Bu. Nanti Rahman ambil sendiri.”

“Gak papa Nak,” ucap Bu Tina.

Bu Tina sangat menyayangi Rahman. Dia memiliki dua anak laki-laki. Rahman dan Rian. Saat ini, Rian sedang menempuh pendidikan sarjana di Jepang.

Awalnya, Rian tak ingin kuliah ke luar negeri. Dia ingin di Indonesia saja. Namun, Bu Tina memaksa. Beliau melihat kecerdasan Rian yang sayang jika tidak dikembangkan dan difasilitasi. Berbekal beasiswa dan jual rumah yang dulu ditempati Bu Tina. Rian pun dengan berat hati berangkat untuk menuntut ilmu di negeri sakura.

“Ini botol susu masih di rak. Belum Ibu rebus tadi?”
Rita mengambil botol dari rak di samping westafel cuci piring.

“Iya Rit, baru Ibu cuci, belum sempat rebus tadi,” jawab Bu Tina.

“Itu ASIP yang di botol, botolnya gak sempat direbus juga?”

Rita menunjuk botol berisi separuh ASIP.

“Su … su … sudah,” jawab Bu Tina tergagap.

“Kalau sampai Qila diare, Ibu bohong berarti ya.”

Nita meninggalkan Rahman dan Tina menuju kamar. Aqila tersenyum dalam dekapan gendongan Mamanya.

“Ibu, istirahat aja Bu,” ucap Rahman.

Baju kerjamu buat besok belum Ibu setrika Nak.

“Sudah gak papa Bu, nanti biar Rahman yang setrika saja.”

“Kamu gak capek Nak?”

“Nggak Bu. Seharusnya Rahman juga mengerjakan pekerjaan rumah. Karena Rita juga pasti capek. Dia sudah membantu Rahman memenuhi kebutuhan rumah tangga ini.”

“Oh iya Nak,” ucap Bu Tina.

“Maafin Rahman ya Bu, belum bisa bahagiakan Ibu. Masih merepotkan Ibu terus. Maafkan Rita juga, kalau sikap dan kata-katanya sering menyakiti Ibu.”

Rahman merasa bersalah dengan Ibunya. Sang Ibu yang dulu seorang buruh tani, rela berpanas-panasan untuk mengumpulkan pundi-pundi demi membiayai sekolah Rahman hingga menjadi sarjana. Beliau tak ingin nasib anak-anaknya sama seperti dirinya. Menjadi buruh kasar dengan penghasilan yang tak seberapa. Bu Tina merasakan berada di posisi ekonomi bawah. Tentu tak mudah. Tak semua orang mampu melaluinya dengan sabar. Dihina dan direndahkan kerap Bu Tina rasakan.

“Sudah gak papa Nak, Ibu sudah cukup senang melihatmu bisa bekerja lebih layak. Gak kayak Ibu,” jawab Bu Tina.

Walaupun berpendidikan formal rendah, Bu Tina memiliki kecerdasan hati yang luar biasa. Belau berjiwa besar, selalu bersikap baik dengan orang. Dekat dengannya, akan membuat hati tenang.

🌷🌷🌷

Tung …

[Rit, ke rumah Ibu ya, besok pulang kantor]
Pesan dari Bu Rosa kepada anaknya, Rita.

[Kenapa Bu?]

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

by : Faradisa Nursalim

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here