Menjadi Babysitter Anak Suamiku #20

- Advertisement -
- Advertisement -

Seminggu sudah Ibu pergi untuk selamanya. Semenjak itu pula, keluargaku memintaku untuk kembali ke rumah orang tuaku, mereka tak ingin hatiku lebih sakit lagi.

Kenangan saat-saat bersama Ibu masih sangat sering melintas di pikiranku, membuat rinduku padanya yang tak dapat kupeluk menciptakan sesak di dada. Namun setidaknya, aku tak menyesal dengan kepergiaan Ibu, karena selama ini aku telah berusaha melakukan yang terbaik untuk Ibu. Semoga Ibu damai bersama-Nya. Doaku.

Tok! Tok! Tok!

“Na!”

Suara ketukan disusul panggilan dari arah pintu kamar, membuatku bangkit dari tempat tidur. Waktu memang masih jam delapan malam, tapi rasa ingin sendiri membuatku memilih masuk kamar lebih cepat.

“Iya, Bu. Ada apa?” tanyaku pada Ibu, setelah pintu terbuka.

Ibu terlihat menarik napas dalam sambil mengendikkan bahu. Sesaat Ibu menatapku dengan wajah sendu, “Tuh, Haikal udah ada di depan, pengen ketemu kamu!”

Aku menarik napas dalam, menghembuskannya dengan kasar. Malas sekali rasanya jika harus melihat lelaki itu lagi, lelaki yang begitu banyak menoreh luka untukku.

“Temui dulu, Na.” ucap Ibu. Sepertinya beliau sangat paham isi hatiku. Aku mengangguk lemah

Aku berjalan gontai menuju ke ruangan di mana Bang Haikal berada. Lelaki itu duduk diam dengan kepala tertunduk dalam.

Aku duduk di kursi terpisah di samping Bang Haikal. Enggan rasanya untuk lebih dekat lagi dengan lelaki yang pernah menjadi orang terpenting dalam hidupku itu. Rasa benci membuat perasaan sayang yang bertahun-tahun kupunya, sirna dalam sekejap.

“Apa kabar, Na?” tanya Bang Haikal setelah diam cukup lama.

Aku berusaha menata hatiku. Berada di posisi sekarang bukan mauku, tapi bertahan adalah suatu kebodohan.

“Baik!” jawabku singkat.

“Kau sudah tahu semuanya?” Lelaki itu bertanya tanpa menoleh ke arahku.

Aku menengadahkan wajah ke atas, memejamkan mata untuk beberapa saat. Rentetan kejadian yang menyakitkan itu masih tergambar jelas di kepalaku, hingga berhasil menghancurkan hatiku hingga berkeping.

“Cukup tau.”

Bang Haikal menarik napas dalam, menatapku dengan wajah sendu.

“Maafkan Abang, Na!” ucapnya sendu, namun terdengar bak belati berkarat yang mencabik-cabik perasaanku.

Setelah sekian banyak luka yang ia goreskan di hatiku, dengan ringannya kata maaf itu terucap. Hatiku terlalu sakit, hingga sampai berbusa pun mulutnya menggaungkan kata maaf, tetap tak ada yang berubah dengan hatiku. Tetap terluka.

“Andai memaafkan semudah ucapan, aku bahkan sejak lama memaafkanmu.”

“Sebegitu besarkah rasa sakitmu, Na?” ucapnya dengan suara serak.

Aku menarik sudut bibir ke atas. Apakah Bang Haikal merasa, jika kesalahannya masih kurang besar? Aku tersenyum sinis.

“Terkadang, meposisikan diri kita pada posisi orang lain itu penting, agar kita bisa merasakan bagaimana yg mereka rasakan.”

Bang Haikal terdiam, mungkin merasa tersindir dengan ucapanku barusan.

“Apakah tak ada harapan lagi yang tersisa?”

Aku menggeleng pelan, tak habis pikir. Setelah kesempatan itu dicampakkannya, dengan santainya ia menanyakan hal yang sama.

“Jika bukan karena almarhum Ibu, aku bahkan sudah meninggalkanmu sejak pertama terluka.”

Tak ada lagi kata sapaan untuk menghormati lelaki di sampingku ini. Aku cukup sadar, jika status di antara kami masih sama. Namun, luka hati ini seakan membuatku enggan memperlakukannya dengan perlakuan yang sama seperti dulu.

“Maafkan Abang, Na. Abang benar-benar menyesal. Semua Abang lakukan hanya karena ingin memiliki keturunan.”

Hatiku kembali sakit. Apa dirinya pikir, alasannya menyakitiku bisa dibenarkan?

“Aku sungguh iri pada para istri yang meski seumur hidupnya tak mampu memberikan keturunan, namun sang suami tetap setia di sampingnya. Tapi sudahlah, semua sudah berlalu. Aku hanya ingin berdamai dengan caraku sendiri.”

Bang Haikal bangkit dan mendekat ke arahku. Kemudian berlutut di kakiku, kedua tangannya menyentuh jemariku. Aku pun berusaha melepaskan tangannya untuk tak menyentuhku.

“Na, Abang mohon! Beri satu kesempatan lagi, Na! Abang akan perbaiki semuanya!”

Aku bertambah muak dengan kalimat yang ia ucapkan barusan. Kesempatan? Kesempatan macam apa lagi yang ia inginkan? Bukankah kesempatan kedua telah lama ia campakkan.

Aku menatap lurus ke depan, tanpa peduli usaha yang tengah Bang Haikal lakukan untuk membuatku luluh.

“Jangan buang-buang waktu, untuk hal sia-sia!”

“Kau salah satu hal terpenting dalam hidupku, Na! Tak ada kata sia-sia untuk semua ini.” Lelaki itu tertunduk dengan posisi masih berlutut di hadapanku.

Aku kembali tersenyum sinis. Ucapan Bang Haikal seolah ingin menyihirku. Namun sayangnya, hati ini terlalu sakit, hingga apapun yang keluar dari bibirnya, semuanya terdengar sangat memuakkan.

“Sayangnya, aku tak lagi menganggap dirimu penting!” ucapku lembut namun menyakitkan.

Bang Haikal menatapku dalam, matanya kini berembun. Entah air mata macam apa yang keluar dari laki-laki seperti dia.

“Tak ada kah rasa yang tertinggal, Na? Lima tahun kita bersama mengapa rasa itu harus hilang dalam sekejap?”

“Jangan membuatku tertawa! Bahkan, dua tahun pertama pernikahan kita, kau telah menghianati janji suci sebuah pernikahan.” Lelaki itu tertunduk dalam.

“Maafkan Abang, Na! Mari kita perbaiki semuanya. Hapus semua yang telah lalu. Abang hanya ingin menua bersamamu.”

Semakin lama kata-kata yang keluar dari bibir lelaki di hadapanku ini semakin memuakkan. Aku seakan kehabisan kata-kata untuk mengusirnya dari sini.

“Pergilah! Aku tak akan pernah kembali ke dalam luka yang sama!”

Aku bangkit dari dudukku, hendak berjalan masuk ke kamar. Namun tangan kekar Bang Haikal mencekal kuat pergelangan tanganku.

“Jangan tinggalin Abang, Na. Abang butuh kamu.” Kali ini air mata mengalir di pipi lelaki itu.

“Jangan merendahkan diri dengan menangis dan berlutut di hadapanki, karena apapun yang Abang lakukan, hatiku tak akan berubah!”

Tak ada lagi air mata yang tumpah ruah di pipiku, yang tersisa hanyalah benci yang mulai mengakar.

“Jika masih ada sedikit rasa di hatimu untuk Abang, maka Abang tidak ridho kamu meninggalkan Abang, Na.”

Segampang itu kah lelaki ini berucap. Bukankah seorang suami yang menyakiti hati istrinya merupakan satu tindakan kedurhakaan pada Allah.

“Rasa itu telah lama terkalahkan oleh rasa muak dan benci. Jadi jangan mengatakan hal konyol yang membuatku tambah muak padamu.”

“Kenapa kau begini, Na? Ke mana perginya Zana yang lembut dan menyayangi Abang sepenuh hati dulu?”

Aku seperti kehabisan kata-kata untuk meyakini Bang Haikal, betapa tidak pentingnya dirinya dalam hidupku.

“Aku begini karena kau. Dan Zana yang lembut dan penyayang telah mati, seiring kepercayaannya yang telah kau bunuh.”

“Aku tak percaya itu. Kau begini pasti karena laki-laki itu.”

Entah apa lagi yang ia ucapkan, aku semakin tak mengerti. Aku mengibas kuat tangan yang masih menyatu dengan tangan Bang Haikal, hingga terlepas. Tak sudi rasanya tangan ini bersentuhan dengannya lagi.

“Laki-laki?” Aku menatapnya dengan alis bertaut.

“Iya, lelaki yang bersamamu di hari Ibu meninggal.”

Aku terdiam dengan dahi berkerut. Bang Amar, lelaki itulah satu-satunya yang bersamaku dan Farah hari itu.

“Mungkin maksudmu, lelaki yang pernah menghantam wajahmu dengan tinjunya beberapa bulan lalu.” Aku tersenyum sinis dengan tangan terlipat di dada. “Kau tak perlu mencari tahu tentang lelaki itu, karena dia hanya sahabat Bang Fikri. Yang harus kau cari tahu adalah, asal usul Harry, dan Rania istri cantikmu itu. Agar kau tak terus-terusan di bohongi!”

Aku melenggang ke dalam, meninggalkan Bang Haikal yang masih terpaku di tempat.

Bersambung

Baca sebelumnya

- Advertisement -

Latest news

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here