Mendung

0
104
views

“Bang, tadi aku ketemu gurunya Nafis, katanya Abang tanya-tanya duit SPP, udah aku bayar apa belum? Nggak percaya amat sama istri sendiri?” cerocosku, yang baru saja kaki melangkah masuk pintu rumah. Kulihat Bang Andris sedang santai di temani secangkir kopi pahitnya.

“Salah? Kan, cuma memastikan,” balasnya dengan menghisap rokoknya.

“Tapikan, aku malu, Bang, sama gurunya Nafis. Cuma uang empat puluh ribu saja, suami sampai tanya-tanya ke guru,” sahutku, ikut menjatuhkan pantat di kursi kayu jati ruang tamu. Bang Andris memang sering kayak gitu, dia terlalu takut aku korupsi uangnya.

“Empat puluh ribu itu juga duit, Lina! panas-panasan aku nyarinya,” jawabnya ketus. Tiap hari berantem sama dia gara-gara hal remeh. Remeh menurutku besar menurut dia.

Bang Andris kerja sebagai tukang sayur keliling dengan motor kreditnya. Tiap pulang keliling aku di jatah duit dua pulu lima ribu rupiah. Untuk keperluan dan jajan anak. Sebenarnya sangat kurang sekali, walau aku tak pusing mikir belanja. Karena bisa ngambil apa saja dari jualan sayurnya. Untuk beras sudah di jatah dua puluh kilo sebulan.

Ya, keuangan memang di pegang erat oleh Bang Andris. Dia tidak mempercayaiku untuk megang uang. Karena kata dia aku boros dalam mengelola keuangan. Cita-cita dia ingin membeli mobil bak terbuka agar lebih enak jika berjualan. Tapi yang ada dia malah pelit kepada anak istrinya.

“Yaudah kalau gitu, ijinin aku kerja!” ucapku, dia malah mendelik. Selama ini dia nggak bolehin aku kerja.

“Kamu mau malu-maluin suamimu?” sungutnya. Aku terdiam sesak.

“Kalau nggak bolehin aku kerja, tambahin dong duitnya! Uang dua puluh lima ribu itu nggak cukup! Jajan anakmu banyak, belum beli bensin, belum lagi kalau sabun dan odol habis, kamu nggak mikir apa?” cerocosku geram.

“Halah, alesan aja! Lagian keperluan dapurkan aku yang menuhin!” sungutnya.

“Ya, iya, Bang, tahu, tapi aku juga pengen beli baju, setidaknya daster yang bagus lah,” sungutku.

“Ya, jangan di habisin lah, nabung sehari lima ribu, biar bisa beli daster,” dengan entengnya dia berkata seperti itu. Uang cuma segitu masih di suruh nyisihin? Hatiku terasa berkecamuk ingin mencabuti bulu kakinya. Geram.

“Harusnya itu tanggung jawabmu. Emang kamu nggak malu tiap hari aku pakai daster lusuh yang pantasnya udah untuk kain lap?” aku masih nyerocos.

“Halah, yang penting nggak sobek, masih layak pakai,” sahutnya enteng dengan menyeruput kopinya.

“Jelas nggak sobek, orang kalau sobek aku jahit,” gerutu sambil masuk ke dapur. Ingin minum air putih yang banyak. Dehidrasi rasanya kalau adu mulut dengan Bang Andris.

“Kamu itu harusnya bersyukur aku nikahin!” ucapnya keras dari ruang tamu. Hingga terdengar sampai dapur. Seperti itulah gaya dia setiap hari.

“Karena aku janda dapat kamu bujang gitu?” tanyaku. Karena dia kerap mengungkit status jika lagi berdebat.

“Ya, iyalah.” Jawabnya enteng merasa sok ganteng.

“Kalau aku menutupi statusku, boleh Abang sindir setiap hari. Aku nggak pernah menutupi statusku. Abang juga tahu kalau aku janda, tapi Abang nekad nikahin aku. Kenapa sekarang sering di permasalahkan?” cerocos karena geram setiap bertengkar selalu membahas itu.

“Kamu itu bekas orang, bekas itu sama kayak sampah. Jadi nggak usah banyak protes dengan peraturan yang aku buat,” jawabnya semakin membaut hatiku berdenyut.

“Kalau aku sampah, berarti kamu pemulungnya,” sungutku. Dia mendelik tanda tak suka.

“Aku cuma bahas duit SPP kok malah sampai mana-mana,” gerutuku lagi. dia beranjak dan membanting gelas. Praaannnnnggggg,

“Pantas saja mantan suamimu dulu menceraikanmu,” ucapnya kasar. Brruuuggghhhhhh membanting kasar pintu dan keluar entah kemana.

Seperti itulah rumah tanggaku. Hampir setiap hari bertengkar. Dari mulai hal yang sepele, merembet kemana-mana. Mau menyudahi tapi aku memikirkan nasib anakku. Malu juga kalau sampai pernikahan ini gagal lagi. Entahlah. Aku hanya bisa menahan rasa sakit karena cercaannya.

Kehidupan rumah tanggaku bagaikan mendung. Terilihat menghitam tapi tak kunjung hujan. Ya, tiap hari bertengkar tapi tak kunjung cerai.

Terinspirasi dari kisah nyata. Semoga rumah tangga kita adem ayem ye mak.

Penulis : Ny Niqmah

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here