Menantu Serba Salah #05

0
209
views

[Terus pulangnya, belikan tiket pesawat dan bayarin taxi ke bandara juga ya]

[Maaf mba, kalau tiket pesawat, aku belum bisa belikan. Aku belikan tiket kereta aja ya, pulangnya. Nanti ke stasiunnya, aku anterin] , balas Arman.

Arman, kalau lagi pergi sendiri, dari bandara atau stasiun biasanya naik damri
atau busway. Dia naik taksi kalau bersama anak-istrinya saja.
Akomodasi yang dipakai pun, selalu melihat kondisi isi dompetnya. Kalau memang lagi ada banyak tabungan, mereka memilih naik taxi dan pesawat, tentu agar istri dan anak-anaknya merasa nyaman dan perjalanan lebih cepat.
Namun, ketika keuangan lagi mepet. Dia pun memilih naik kereta ekonomi dan busway.

[Pelit banget sih Man, sama mba sendiri juga]
balas Wati.

[Iya, maaf Mba, Arman juga lagi banyak kebutuhan]

[Kebutuhan apa sih Man? gajimu kan besar]

[Aamiin]
Jawab Arman singkat.

[Kenapa? takut sama istrimu kamu ya? Gak mau beliin Mbak mu tiket. Semenjak, menikah, kamu jadi berubah. Lebih perhitungan!]

[Astagfirulloh, gak ada hubungannya sama Wirda, Mbak. ]

Tak dibalas oleh Wati.

[Kalau mau tiket kereta, Arman belikan Mba]
balas Arman lagi.

[Gaak jadi, males naik kereta. Lama!]
Balas Wati.

Wati, sedang ada masalah dengan Aziz, suaminya. Mereka, habis bertengkar karena Wati yang menuntut terus-terusan ingin berwisata ke luar kota. Sedangkan, penjualan Aziz sedang sepi.

“Bosen mas, dirumah terus, kayak kanebo di jemur nih. Lama-lama kering,” ucap Wati pada suaminya.

“Ya sabar Dek, kan penjualan lagi sepi. Nanti kalau rame, kita pergi.”

Tangan kiri Aziz memijat-mijat kepalanya.
Perkara ekonomi, memang kadang bisa menjadi masalah berat dalam rumah tangga.

“Sabar-sabar terus, sampai kapan?”

“Ya gak tau Dek, namanya rezeki kan gak ada yang tau,” jawab Aziz.

“Laki-laki itu, kudu nyenengin istri. Lihat tuh adekku, Arman. Istrinya bahagia,” ujar Wati sambil cemberut.

“Ya kan, aku juga sudah berusaha dek, kamu bantu do’a ya.”

“Jawabannya gitu terus, usaha yang nyata gitu, minta uang ke Bapakmu.”

Aziz hanya menarik nafas panjang. Andai dulu, tidak menentang orang tuanya dengan lantang. Mungkin, nasibnya takkan sepahit ini. Tapi, apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur. Menceraikan Wati pun, selain akan menganggung malu pada orang tua, juga akan ada dampak psikis buat anak-anak mereka.

Penghasilan Aziz, sebenarnya juga tidak terlalu kurang. Namanya orang dagang, memang harus pandai simpan uang, kalau lagi untung banyak, tidak dihambur-hamburkan saat itu juga. Tapi, Wati gak mau tau, maunya aziz selalu pulang bawa banyak uang.

Wati, ingin bahagia secara instan, dengan menuntut dan membandingkan. Dia lupa kalau harus tetap melihat ke bawah untuk bersyukur, dan melihat ke atas hanya untuk ikhtiar.

🌷🌷

“Mak, Mamak ada uang gak?”
tanya Wati pada Ibunya.

“Ya ada, sedikit, buat pegangan Wat.”
jawab Bu Sari sambil menyapu lantai.

Sementara Wati, duduk di kursi sambil ngemil pisang goreng buatan Ibunya.

“Wati pinjam ya, Wati lagi gak pegang uang sama sekali. Penjualan Mas Aziz lagi sepi.”

“Buat pegangan Mamak, Wat. Nanti kalau ada yang pesan apem, Mamak gak punya modal,” jelas Bu Sari.

“Ya kan, Mamak bisa minta ke Arman. Dah punya anak kerja enak juga. Ngapain bingung-bingung.”

“Ya, kalau langsung di kasih sama Arman Wat. Dia kan sekarang ada yang nyetir, Wirda. Arman gak seperti dulu.”

“Mamak gak kasian sama Wati . Wati ini belum bayar SPP Lisa sama Mira juga.”

“Lagian, suamimu, udah tau jualan daging lagi sepi. Kok gak coba usaha lainnya aja. Laki-laki kurang tanggung jawab. Minta modal sama Bapaknya, katanya kan usaha Bapaknya lagi maju.”

“Yaudah deh Mak, kalau gak mau minjamin. Sama aja Mamak sama Arman, sama-sama pelit.”

Bu Sari, memang sering mendapatkan cap “Pelit”, padahal dia sebenarnya juga bukan tipe orang pelit. Dia memang gak punya banyak harta dan uang. Tapi, banyak orang yang tidak bisa mengerti. Termasuk saudaranya sendiri.

Saat itu, Bu Sari pernah menumpang mobil saudaranya yang lebih kaya darinya, untuk acara takziyah di luar kota. Satu mobil ada enam orang. Pulangnya, mereka mengajak mampir makan di sebuah rumah makan terkenal.
Bagi Bu Sari, makan di rumah makan sangatlah istimewa. Hal yang hampir tak pernah di lakukannya.

Tak disangka dan diduga. Saudara Bu Sari menodong untuk minta ditraktir oleh Bu Sari.

“Ayo, turun makan. Nanti Sari yang bayar semuanya ya?” ucap Yati, saudara ipar Bu Sari.

Saat itu, Bu Sari hanya memegang uang seratus lima puluh ribu di dompetnya. Kabarnya, harga makanan di tempat tersebut, untuk menu ayam, tiga puluh ribu per porsinya. Tentu, uang di dompet Bu Sari tak cukup untuk bayar makan enam orang.

“Aku gak punya uang Mbak,” jawab Bu Sari.

“Anak kerja di kota, kok gak punya toh Sar. Bohong banget.”

“Serius Mbak. Aku juga masih kenyang. Kalian kalau mau makan, turun aja. Aku di mobil aja.”

“Halah, bilang aja. Kalau takut suruh nraktir.”

Yati dan keluarganya pun turun dari mobil dan makan. Sedangkan, Bu Sari, di mobil sendirian. Sejak saat itu, Bu Sari menjadi bahan gunjingan saudaranya, dan kadang di cap pelit juga, karena memilih diam di mobil. Tekanan dari sekitarlah, kadang yang membuat Bu Sari merasa tersudut, dan mejadikannya sering bersikap tidak mengenakkan bagi Wirda dan Arman.

🌷🌷

“Cucu-cucu Nenek …, gak bilang-bilang kalau mau datang. Nenek jadi gak nyiapin apa-apa nih.”

Wirda dan keluarganya mengunjungi orang tua Wirda. Sengaja memang, datang mendadak agar tidak merepotkan orang-tuanya.

Mereka bersalaman dan berpelukan satu sama lain.

“Pada sehat semua kan?”

“Alhamdulillah, sehat Bun,” jawab Wirda.

“Rasya, Reisha mau main sama nenek apa sama mama?”

“Mama …,” jawab si kembar kompak.

“Ohyaudah, kalau gitu biar nenek bersihin kamar kalian sebentar ya. Datangnya gak bilang-bilang, jadi belum nenek bersihkan.”

Bu Liana menuju kamar Wirda. Sedangkan, Pak Anto duduk di sofa. Sementara, Wirda dan Arman duduk di lantai mendampingi anaknya yang sedang bermain mainan yang sudah disediakan neneknya, ketika mereka datang.

“Bagaimana Man? Pekerjaan lancar?” tanya Pak Anto kepada Arman.

“Alhamdulillah, lancar Pak.”

“Masih sering kena macet, kalau berangkat?”

“Iya, masih Pak.”

“Selalu pakai masker kan?”

Walaupun sudah berumah tangga, Pak Anto dan Bu Liana masih memperhatikan detail anak anak menantunya

“Iya, pakai pak,” jawab Arman.

“Jangan lupa juga, pakai jaket kalau naik motor. Sebelum berangkat, ban motorkan pastikan gak kempes. Helm juga pastikan, masih kuat apa nggak Man.”

“Iy Pak,” jawab Arman.

“Sudah pada makan belum?” tanya Bu Liana.

“Belum Bun,” jawab Wirda.

“Kita mau ajak Ayah Bunda makan diluar aja sekalian. Belum pada makan kan?” tanya Wirda.

“Belum …, ayok kalau mau makan. pengen apa kalian?” tanya Pak Anto.

“Wirda ini kangen gado-gado Bu giyem kayaknya Pa,” sahut Bu Liana.

“Oh iya Bun….”

“Arman, gimana, cocok juga kan masakan bu Giyem?Sudah pernah belum?” tanya Pak Anto.

“Sudah Pak, Cocok Pak,” jawab Arman.

Mereka berjalan kaki menuju gang depan untuk makan di warung Bu Giyem.

🌷🌷🌷

Arman mendengar kabar kabar dari teman SMAnya, bahwa ada toko yang disewakan di kampungnya. Arman pun berinisitif menyewa untuk wirausaha Bapak Ibunya.

 

by: Siti Nur Faidah

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaJenazah Dalam Rumah #01
Berita berikutnyaReuni
Gangguan terbesar saat menulis itu adalah MENGANTUK. Baru dapat segini sudah sangat lengket ini mata😭😭coba kalau di ajak ngebucin? Pasti melek sampai tengah malam😫
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here