Menantu Serba Salah #03

0
231
views

“Memangnya kenapa?” tanya Bu Sari.

“Maaf Bu, biar udaranya lebih segar aja buat anak-anak. Mungkin, anak-anak akan merasa lebih nyaman dan gak rewel nanti malam.”

Arman menjelaskan dengan intonasi yang sangat pelan.

“Kamu itu, jadi ikutan istrimu juga. Dari kecil, kamu sama Ibu, dulu hidup susah, kamar begitu juga gak papa. Tidur nyenyak-nyenyak saja. Kamu tumbuh sehat juga sampai sekarang.”

“Maaf Bu.”

“Paling juga disuruh istrinya, Mak,” celoteh Wati, pelan.

“Terserah, kalau mau dibersihkan,” jawab Bu Sari.

“Reisa sama Rasya main sama nenek dulu ya, Mama Papa mau bersih-bersih dulu.”

“Gak mau …,”
jawab mereka kompak.

Wajah Bu Sari nampak kesal.

“Bu, maaf ada sprei lain?” tanya Arman.

“Wat, ada gak di lemari kamu?” tanya Bu Sari pada Wati.

“Gayamu Man … Man …, sekarang apa-apa kudu bersih,” jawab Wati.

“Yaudah, kalau gak ada gak papa. Nanti, kita keluar buat beli aja Mbak,” jawab Arman

Wati hanya diam.

Ini, adalah yang ke-empat kalinya Arman mengajak istrinya menginap di rumah orang tuanya.

Yang pertama, saat jadi pengantin baru.
Arman merenovasi kamar yang kini ditempati keponakannya, Lisa dan Mira.

Yang kedua adalah, saat si kembar berusia satu tahun. Saat itu, Lisa dan Mira kebetulan sedang mudik ke rumah kakek neneknya di lain kota. Jadi, Arman dan keluarga kecilnya menempati kamar Lisa dan Mira.

Yang ketiga adalah, saat si kembar berusia dua tahun, saat itu Arman meminta Wirda dan kedua anaknya, untuk tidur bersama Lisa dan Mira. Sedangkan Arman, tidur di kursi ruang tamu. Tapi, setiap hari Lisa selalu mengeluh kalau gak bisa tidur, karena ada dua balita yang sering terbangun-bangun. Lisa jadi mengantuk di sekolahnya.

Karena merasa gak enak, Wirda mengajak Arman menginap di hotel saja. Arman juga kesehatannya nampak menurun, empat hari tidur di kursi, tentu gak nyaman juga.

Bu Sari pun menyetujuinya. Selama dua hari, mereka menginap di hotel. Pergi, ketika menjelang tidur. Dan pagi jam delapan, sudah di rumah Bu Sari lagi.

Tetangga yang melihat pun bertanya pada Bu Sari,

“Darimana Bu, anak mantunya, kok saya lihat dua hari ini, pagi-pagi dari luar sepertinya?”

“Iya Bu, tidur di hotel,” jawab Bu Sari singkat.

“Ohya, gitu emang Bu, kalau punya menantu orang kaya. Gak sudi menginap di rumah mertuanya,” celetuk Lina.

Bu Sari hanya tersenyum saja.

“Kalau saya Bu, menginap di rumah mertua mah senang. Mumpung ngumpul, jarang-jarang. Mau tidur kayak pindang di ruang tengah juga gak papa,” lanjut Lina.

“Oh iya, bagus Lin.”

“Emang Wirda, menantu Bu Sari yang dari Ibu kota itu gak mau Bu?”

“Sepertinya nggak Lin, ada yang bukan mahram katanya, gak mau tidur sembarangan.”

“Itu sih, pinter-pinter kita saja Bu, tinggal pakai jilbab besar, tutup selimut, aman. Daripada uangnya buat tidur di hotel kan mending di kasihkan mertuanya Bu. Tapi, ibu, dikasih uang juga kan kalau mereka balik?”

“Ya, dikasih Lin.”

“Lagian Bu, anak-anak Arman itu kudu diajari susah juga Bu. Jangan dibiasakan enak. Nanti, kalau tiba-tiba jatuh miskin, susah sendiri.”

Kadang permasalahan keluarga yang awalnya biasa saja, atau tidak ada masalah, akan menjadi ada masalah, atau semakin runyam ketika ada orang lain yang tidak tau cerita di baliknya, tapi tiba-tiba ikut berkomentar juga.

“Ya, Lin. Mau gimana lagi,” kata Bu Sari.

“Bu Sari harus tegas Bu, jangan mau tidak dihargai sama anak-menantu. Lagian aneh, jauh-jauh datang kok tidurnya di hotel.”

🌷🌷

Malam itu, mereka akhirnya tidur di kamar Bu Sari, keadaan sudah cukup nyaman. Kamar bersih, sprei rapi dan bersih juga. Namun, si kembar tetap sering terbangun juga. Dia mencari Papanya disampingnya, yang gak ada. Mau gak mau, Wirda pun ikutan terjaga. Si kembar batuk-batuk juga karena ada asap rokok dari ruang tengah.

Istigfar
Istigfar
Istigfar

Hanya itu yang bisa Arman dan Wirda lakukan.

Ingin rasanya, angkat kaki dari rumah itu malam itu juga, tapi situasi tidak memungkinkan. Esoknya, mereka memutuskan untuk menginap di hotel lagi saja.

Arman memikirkan kesehatan istri dan anak-anaknya yang juga penting. Wirda nampak lelah jiwa dan raga. Apalagi esoknya, mereka akan melakukan perjalanan panjang. Butuh istirahat juga. Arman, berusaha menjelaskan selembut mungkin kepada kedua orang tuanya.

Bu Sari dan suaminya nerima saja.
Namun, lagi-lagi Wati menjadi api antara mereka.

“Orang kaya, nginapnya di hotel. Gak menghargai orang tua. Coba besok lihat, kasih uang saku berapa kalau balik ke Bapak Ibu,” celetuk Wati.

🌷🌷

“Man …, Kamu gak pengen umrohin Bapak Ibu?” tanya Bapaknya Arman.

“Ya pengen Pak, tapi Arman belum bisa Pak.”

Arman menatap wajah Bapaknya yang makin menua. Kepulan asap rokok turut menyelimutinya.

“Kamu itu, kebanyakan manjain anak-istrimu.”

Arman terdiam.

“Istrimu juga, sudah enak-enak dulu kerja, kok berhenti segala. Sekarang pendapatan keluargamu jadi berkurang kan.”

“Bagaimana lagi Pak, gak ada yang jaga anak-anak di rumah.”

“Ya kan bisa pakai pembantu. Ijazah S-1 buat apa di rumah saja. Percuma sekolah tinggi-tinggi.”

Wirda baru berhenti kerja satu setengah tahun yang lalu, saat anaknya umur delapan belas bulan. Baby sitternya mendadak minta berhenti karena mau menikah. Mencari baby sitter lain, tentu sangat susah. Pertimbangannya juga, karena sering disindir Ibu mertuanya kalau gak benar-benar jadi ibu. Karena gak ngasuh anak sendiri di rumah. Padahal, Wirda bekerja juga untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

“Ibunya sibuk, gak ngurus anak. Anaknya jadi kurus-kurus begini.”

“Anak kok dikasih ASI perah.”

“Enak ya kerja, bisa tetap tampil cantik. Gak repot urus anak.”

Komentar-komentar Bu Sari kala itu.

“Emang, gak pengen nemani anak di rumah?”
Pertanyaan Wati pun turut mengamini komentar Bu Sari.

Sejatinya, tak ada seorang Ibu yang tak ingin menemani anak di rumah. Namun, kadang keadaan yang memaksa seorang ibu untuk tetap bekerja.

Dulu, Wirda bekerja di sebuah perusahaan PMA sebagai staff keuangan. Masa mudanya benar-benar bahagia. Apa yang diinginkannya, dengan mudah dibelinya.
Ayah-ibunya, keduanya bekerja. Sehingga tidak membutuhkan uang dari Wirda.

Semenjak menikah dengan Arman, dia mulai belajar apa itu menyisihkan uang buat orang tua. Wirda pun, ikut serta menyisihkan sedikit gajinya untuk orang tuanya. Namun, selalu mereka tolak.

Sedangkan, keluarga Arman selalu menerima, bahkan merasa kurang atas apa yang Arman berikan. Untungnya Wirda bisa mengerti. Kadang menyuruh suaminya mengirim lebih, tapi kadang mau bagaimana lagi. Kebutuhan keluarganya juga banyak. Sehingga gak selalu bisa memberi lebih.

Semenjak Bapaknya Arman enggan bekerja lagi. Bu Sari, sering berjuang sendirian mencari tambahan. Kadang, dia menerima pesanan kue apem, roti kukus, dan juga cucur. Banyak luka batin yang di alami Bu Sari. Semenjak kecil, dia adalah seorang yatim piatu yang kurang kasih sayang dari sekitar. Pendidikan juga hanya sampai SD. Menikah dengan suaminya yang pekerjaannya serabutan dengan ekonomi menengah kebawah. Selain itu, Beliau kerap diperlakukan kasar oleh suaminya. Dan juga, sering mendapatkan hinaan dari saudara-saudaranya yang lebih kaya darinya. Emosi Bu Sari pun kadang jadi labil ke anak-anaknya. Kadang, yang disampaiakannya niatnya baik, tapi apa yang dikatakannya jadi berbeda dan bikin sakit telinga.

Wati juga bukan tipe anak yang banyak membantu orang tua. Dia sering meminjam uang kepada Bu Sari, tapi tidak dikembalikan. Perbedaan pola pikir antara Arman dan Wati, bagaikan air dan minyak yang susah untuk disatukan. Walaupun mereka lahir dari rahim yang sama, tapi Mereka memiliki sifat yang berbeda.

Arman, adalah anak yang rajin, pintar, selalu berpikir positif, lembut dan sayang pada orang tua. Sedangkan Wati, anak yang sering bolos waktu sekolah, kerap bohong dan berkata kasar pada orang tua.

Bagaimana dengan Suami Wati?

Part selanjutnya terbit tanggal 25 Mei 2020

by: Siti Nur Faidah

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here