Mempermalukan Ayah Dihari Pernikahannya

0
210
views

‘Prang’

Kulemparkan semua gelas yang ada di dalam ruangan ini hingga hancur berserakan. Ruang yang sudah didekorasi dengan indah ini, akan kubuat hancur tak tersisa.

Di depan sana, Ayah tengah bersanding di pelaminan dengan wanita lain. Ayah menghianati Bunda, dengan tak tau malunya.

Sementara Bunda sekarang sedang dirawat di Rumah sakit, karena penyakitnya yang cukup berbahaya. Bahkan mungkin, suatu saat Bunda bisa saja meninggalkanku. Itulah kata Dokter yang selalu terngiang-ngiang dikepalaku.

Aku kecewa, marah, sakit hati, tega sekali Ayah melakukan ini. Yang lebih membuatku merasakan kecewa yang terdalam adalah Oma dan Opa juga ikut mendampingi Ayah.

Kenapa bisa mereka terlibat dalam acara sialan ini? Padahal jelas saja, aku adalah cucu kesayangan keluarga.

“Bajingan,” ucapku memaki dengan keras.

Kembali, kuambil piring diatas meja, kulempar semuanya. Tak sampai disitu, semua makanan yang sudah tertata rapi pun kujatuhkan hingga tak tersisa.

Tak ada yang berani meleraiku, semuanya justru diam menyaksikan. Jelas saja, semua yang hadir di sini mengenalku.

Alifa Ridwani, anak kesayangan keluarga Ridwani. Pemilik warisan terbesar dalam keluarga, karena akulah satu-satunya anak perempuan didalam keluarga Ayah.

Semua sepupu-sepupuku laki-laki, hanya aku anak perempuan dalam keluarga. Hingga aku akan diperlakukan bak ratu dalam keluarga. Semua sangat sayang kepadaku, tapi ini apa?

Kuliat Oma dan Opa turun dari atas pelaminan, berjalan kearahku.

“Ifa sayang, cucu Oma. Ada apa? Kenapa marah-marah seperti ini?” tanya Oma dengan lembut.

“Kenapa Oma biarin Ayah menikah lagi? Bahkan Oma dan Opa ikut mendampingi. Aku kecewa, aku marah sama Oma dan Opa,” jawabku histeris.

“Kenapa kamu marah sayang, bukannya kamu yang meminta Ayahmu menikah lagi? Karena Bundamu sedang sakit, kamu butuh perhatian bukan?” tanya Opa terheran-heran.

“Hahaha, begini ternyata kelakuan Ayah. Aku benci Ayah, benci. Asal Oma dan Opa tau ifa gak pernah setuju Ayah menikah lagi. Walaupun Bunda pergi sekalipun, aku gak pernah mau Ayah menikah lagi. Ayah membual, aku tau dia sudah berselingkuh sejak lama dengan wanita sialan itu. Bahkan dia tengah hamil anak Ayah sekarang!” ucapku berteriak penuh emosi.

Kulihat muka Oma dan Opa merah padam, pertanda mereka sedang marah besar. Opa berjalan menghampiri Ayah keatas pelaminan, sedangkan aku dan Oma mengikuti dari belakang.

‘Plak Plak’

Opa menampar pipi Ayah sebanyak dua kali, tak sampai disitu Opa juga melayangkan tendangan kearah Ayah.

“Anak tak berguna, pembohong kamu Indra. Tega sekali kamu membohongi orang tuamu, kamu harus memilih antara Ifa atau istri sialanmu ini,” ucap Opa.

“Dan kamu perempuan tak tau malu, apa yang kamu cari? Harta? Hahaha mimpi! Semua harta keluarga Ridwani sudah dibagi, bahkan sepeserpun anak dalam kandunganmu tak akan mendapatkannya! Camkan itu,” lanjut Opa lagi.

Tak sampai disitu, Om Irzan anak kedua Opa ikut naik keatas pelaminan. Memukul Ayah membabi buta, dengan raut muka yang begitu murka.

“Sialan! keparat, tega sekali kau buat keluarga malu dengan kelakuanmu,” maki Om Irzan.

Aku tersenyum miring, saat perempuan itu berusaha membantu Ayah. Perempuan murahan cih, aku memaki dalam hati.

‘Plak’

Karena emosi, Oma pun menampar perempuan sialan itu.

“Dasar perempuan tak tau diri! Pelakor, kupikir kau wanita baik-baik. Aku senang sekali saat mendengar Cucuku memilihmu menjadi Ibunya, karena kupikir dia pun bahagia dengan hadirmu. Nyatanya kamu hanya perempuan murahan!” maki Oma dengan keras.

Muka perempuan itu memerah, aku tau dia sedang menahan marah terlebih lagi rasa malu. Orang tuanya tak bisa membantu apa-apa.

Hidup masih dibawah kaki keluarga Ridwani, mereka jelas tak berani. Sadar karena uang yang mereka dapatkan bersumber dari keluargaku, mereka memang bekerja menjaga toko milik Bunda.

Ayah bangkit lalu memeluk kakiku, memohon maaf. Aku tentu tak peduli, sakit di hati begitu membekas.

“Maaf sayang, maafkan Ayah,” ucap Ayah memelas.

“Cerailah dari Bunda, silahkan Ayah pergi dengan wanita sialan itu, aku sudah tak peduli. Ayah pikir selama ini, aku diam-diam tak tau semuanya? Hahaha, Ayah salah, semua kelakuan bejat Ayah bahkan sudah kutahu,” kataku.

“Nggak sayang, maafin Ayah. Ayah …”

Belum selesai Ayah berkata, aku terlebih dahulu menyela.

“Aku tak peduli, Ayah mau bagaimanapun aku tak peduli. Bunda tak pernah bahagia karena Ayah, Ayah pikir aku akan memaafkan Ayah? Cih, semua video kelakuan Ayah ada padaku, Ayah memang tak pernah sadar. Aku memasang CCTV dalam mobil Ayah, semuanya jelas. Ayah memadu kasih di dalam mobil hadiah ulang tahun Ayah, pemberian Bunda bukan? Hahaha,” ucapku terkekeh hambar

‘Plak’

Kutampar wanita sialan itu, sebelum aku berlalu dari pelaminan. Rasa kecewa didalam dada begitu mendominasi, sesakit ini.

Aku tak pernah merasakan penghianatan sebelumnya, karena memang aku tak pernah yang namanya pacaran. Keluarga melarang dengan keras, terutama Oma dan Opa. Takut aku salah jalan, sehingga semuanya menjagaku dengan baik.

Bahkan, seluruh Kakak dan Sepupuku yang semuanya laki-laki, berjumlah lima belas orang. Turut serta menjagaku, saat di sekolah, di rumah, terlebih saat aku bepergian.

Aku segera masuk kedalam mobil, ku suruh Pak Iman selaku supir pribadiku melajukan mobil. Tak ada yang bisa kulakukan selain menangis, merasa begitu sedih atas penghianatan Ayah.

Bunda pasti akan merasa sangat sedih, saat tau Ayah sudah menikahi wanita sialan itu.

Ah, kebenaran tentang Ayah selingkuh sebenarnya kuketahui dari Bunda. Aku awalnya tak percaya, mengingat Ayah tak pernah pulang malam, selalu menyempatkan waktu untukku, tak ada yang mencurigakan, semua sikap Ayah tetap sama, tak ada yang berbeda.

Namun setelah Bunda mengajakku melihat dan menyaksikan secara langsung, aku benar-benar merasa kecewa. Beginikah Ayah sebenarnya?

Kulihat dengan jelas, perempuan itu bergelayut manja dilengan Ayah. Pandai sekali dia, minta ini dan itu kepada Ayah. Benar-benar wanita murahan!

Saat itu aku berniat melabrak mereka, tapi Bunda melarang. Bunda tak mau aku dipandang rendah di depan umum, terlebih Bunda takut merusak nama baik keluarga.

Akhirnya kuturuti saja kemauan Bunda, karena benar adanya. Setelah hari itu dimana aku melihat secara langsung penghianatan Ayah, aku dan Bunda segera menyiapkan segala rencana. Bahkan satu-persatu kami lakukan dengan baik.

Yang kulakukan pertama kali adalah memindahkan semua uang tabungan Ayah kedalam rekeningku. Saat itu Ayah bertanya-tanya, mungkin heran kenapa aku melakukan itu. Kujawab saja dengan asal, bahwasanya aku ingin semua uang hasil perusahaan Ayah menjadi milikku.

Ayah awalnya protes, namun akhirnya menerima. Karena selain tak punya alasan untuk mengelak, Ayah juga tak pernah tega melihatku menangis.

Ayah, dia adalah lelaki penyayang yang hangat kepada keluarga. Aku tau, dia hanya sedang khilaf. Jelas saja kucing ditawari ikan asin yah mau, mana bisa menolak?

Terlebih saat aku sudah melihat video yang diberikan Bunda, karena memang Bunda diam-diam memasang CCTV dalam ruang kerja Ayah.

Ah, tunggu saja perempuan sialan! Akan kubuat kau menderita, bahkan untuk makan saja kau akan mengemis kepada keluargaku.

 

Penulis: Musdalifah Syam

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here