Mbak Arum #05

1
132
views

‘Klotak…klotak…’

Pasti itu Mbak Arum. Sengaja aku menunggu di ruang tamu agar aku mudah menangkap basah sesuatu yang akan dilakukannya.

Biarlah sesekali berbuat nyeleneh, rasa penasaranku tak bisa ku bendung lagi.

Ku intip lewat jendela. Pelan kusibak tirainya agar tak menimbulkan suara. Tuh kan betul. Mbak Arum lagi.

Aku masih menunggu waktu yang pas. Ia masih berbincang dengan orang yang mengantarnya. “Duh kok lama sih.” Tak sabar aku menunggu.

Mas Arya menonton film di ruang tengah, sepertinya film laga sedang bertarung mungkin. Suaranya berisik sekali. Aku harus memasang telingaku baik-baik.

Mbak Arum meraih slot pagar. ‘Ceklek’ pagar berhasil dibuka.

Pelan ia masuk, berjalan semakin mendekat ke pintu. Lalu ia lambaikan tangan ke orang yang mengantar tadi.

Pas nih. Mbak Arum masih menghadap jalan memastikan temannya atau entah siapanya itu berlalu pergi.

Kubuka pintuku cepat. “Mbak Arum ngapain?” Sengaja kutinggikan suaraku.

Mbak Arum terperanjat kaget sampai melompat. “Setaaannn… setan!” Ia teriak bagai orang latah yang dikageti.

Sepatu high heelsnya menginjak batu hias yang kutabur di sisi teras rumah sebagai pemanis taman.

‘Bruuukkkk’

Ia berdiri tak seimbang dan terjungkal sampai jatuh dengan posisi berlutut. Sakit sepertinya.

“Mbak Jihan ini yang benar kalau manggil.” Keluhnya sambil meringis memegangi lututnya.

“Iya maaf, lha Mbak Arum ngapain kok kerumah saya malam-malam?” Kupasang wajah datar padahal kepengen tertawa melihatnya terjungkal tadi. Tapi kutahan.

Mbak Arum bingung menjawab pertanyaanku. Mas Arya ikut keluar lalu berdiri di sampingku.

“Ada apa sih Ma?”

“Ini loh Pa…” belum selesai kalimatku tapi Mbak Arum langsung memotong.

“Ehh Pak Arya, belum tidur ya?” Mbak Arum terlihat semangat.

“Belum, ada perlu apa ya?”Tanya suamiku.

“Masih ngapain sih kok jam segini belum tidur?” Suara Mbak Arum di lembutkan mendayu manja.

“Nonton film Mbak. Mbak ngapain kerumah saya malam-malam?” Jawabku cepat.

“Mbak Jihan ini gimana sih malam-malam kok malah biarin suami nonton tipi. Punya suami ganteng tuh di sayang-sayang Mbak.” Ucapnya, sorot matanya tak lepas menatap Mas Arya.

“Ya sudah sekarang Mbak pulang Pak Imamnya disayang-sayang. Istri saya nggak usah diajarin, sudah lihai banget dia. Malah saya sering kuwalahan dibuatnya.” Kutahan nafas agar tak meledak tawaku.

Mbak Arum tak menjawab lagi, langsung membalikkan badan lalu pulang setelah mendengar ucapan suamiku. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini.

“Mbak tolong pagarnya tutupin sekalian ya!” Pintaku, lalu aku masuk dan kututup pintuku.

“Ihh gara-gara Papa nih, kan nggak kejawab Mbak Arum tuh ngapain malam-malam sering berhenti di depan rumah. Malah Papa ejek lagi tadi.” Gerutuku sambil kuhempaskan tubuhku di sofa ruang tengah.

“Tapi mukamu tadi sampai merah nahan tawa kan? Ya biarlah sesekali orang model Mbak Arum tuh dikerjain, lagian malam-malam bertandang kerumah orang.” Ucapnya disertai tawa.

“Tapi aku penasaran Mbak Arum tuh mau ngapain.”

“Kita nggak perlu terlalu jauh ikut campur urusan orang sayang.”

“Tapi…”

“Tapi apa?”

“Tadi papa bilang kuwalahan. Aku malu tau.” Kumanyunkan sedikit bibirku.

“Biar dia nggak ngeremehin kamu terus lah. Yuk?”

“Yuk apa? ”

“Yuk bikin kuwalahan.” Bisiknya ditelingaku membuat berdiri bulu kudukku.

“Ihhh Mas nih.” Kututup wajahnya dengan bajunya yang kutarik keatas sampai kepala.

“Tuh kan kamu sudah nggak sabar. Sampek dibuka gitu bajuku.” Mas Arya terus menggodaku sambil tertawa lalu memelukku.

•••••••●•••••••

Di kampung Mangga ini, tiap satu bulan sekali akan diadakan posyandu di balai desa, tiap warga yang punya bayi wajib datang karena akan dilakukan pengecekkan berat badan, tinggi badan dan juga penyuluhan makan bergizi.

Hari ini jadwal posyandu Krisna. Kusiapkan anak bungsuku ini lalu ku ajak berangkat menuju balai desa.

“Duhh anak ganteng. Yuk Bunda timbang dulu ya?” Ucap Bu Nuri saat melihatku datang bersama Krisna. Beliau menjadi staf kader posyandu. Ada beberapa kader lain juga yang duduk berjajar mencatat hasil periksa balita.

Setelah selesai aku diberi bingkisan kue sehat oleh Bu Nuri. Tiba-tiba saja Bu Nuri memegang pergelangan tanganku lalu diseret menjauh dari para kader dan peserta posyandu yang lain.

Sedikit keujung ruangan yang agak sepi. Kulihat beberapa lemari kaca berisi buku bacaan anak-anak yang agak berdebu.

“Mbak maaf ya kalau saya tanya. Jangan tersinggung. Saya juga nggak percaya sih. Cuma saya ingin meyakinkan kalau feeling saya ini nggak salah.” Bu Nuri berkata dengan sangat hati-hati.

“Ada apa Bu Nur? Kelihatannya serius sekali.” Aku tak sabar ingin tahu.

“Mmm… kemarin waktu nagih hutang koperasi ke Arum. Saya diceritain.” Bu Nur menata dengan baik kata-katanya, mungkin agar aku tak tersinggung.

Kenapa lagi dengan Mbak Arum? Kenapa aku terus yang dikaitkan dengan hidupnya.

Bu Nur membetulkan kacamatanya lalu melanjutkan bicara. “Arum bilang, Mbak Jihan habis bertengkar hebat dengan Pak Arya gara-gara Mbak Jihan pulang dengan laki-laki lain. Katanya juga Arum yang kebetulan lewat rumah Mbak Jihan tahu dan langsung menengahi pertengkaran kalian.”

“Ya Allah… nggak Bu. Kapan Mbak Arum bilang begitu?” Perasaanku mulai tak enak.

“Dua hari yang lalu Mbak.” Yakin. Pasti dia memfitnahku karena malu atau marah saat aku memergokinya pulang malam dan masuk rumahku tanpa permisi kemarin itu. Ditambah lagi Mas Arya yang ejekin Mbak Arum soal sayang-sayangan.

“Nggak kok Bu Nur. Justru aku baru tahu dan kaget saat Bu Nur cerita sekarang ini.” Jelasku meyakinkan Bu Nuri.

“Sudah kuduga. Mbak Arum pasti ngarang cerita lagi. Ya sudah Mbak Jihan jangan dipikirkan. Kebiasaan Mbak Arum itu. Saya percaya kok sama Mbak Jihan.” Kuanggukan kepalaku lalu beranjak keluar. Krisna mulai rewel di gendongan. Dia sudah mulai mengantuk.

Seharian aku tak begitu fokus dengan pekerjaan rumah dan anak-anak. Aku takut jika Mbak Arum terus menyebarkan berita bohong tentang aku dan Mas Arya.

Mungkin sebagian orang tak percaya tapi namanya gosip bukankah penyampaian dari satu orang ke orang lain akan berbeda kalimatnya.

Malamnya, kedua putraku sudah terlelap. Mas Arya juga bersiap untuk tidur.

Mas Arya berbaring lalu aku ikut berbaring disebelahnnya.

“Pa..”

“Hmm…” Ia menoleh padaku.

“Tadi waktu posyandu aku diceritain sama Bu Nuri.”

“Cerita apa?”

“Yang kemarin, waktu kita memergoki Mbak Arum masuk rumah malam-malam.”

“Ohh…terus?”

“Mbak Arum cerita sama Bu Nuri kalau Mama bawa laki-laki lain kerumah malam-malam, terus Papa marah besar sama Mama. Gitu katanya. Bahkan Mbak Arum bilang kalau dia yang menengahi pertengkaran kita.”

“Aneh. Lagian masa sih orang percaya. Kita bertengkar malam-malam terus dia datang jadi malaikat. Duh, Mama berlebihan mikirnya.” Ujar Mas Arya mengentengkan.

“Papa sih waktu itu meledek segala. Jadi gini kan. Nanti kalau menyebar berita yang nggak-nggak gimana?” Kesal aku dengan Mas Arya, sudah menggagalkan rencana sekarang aku malah difitnah oleh Mbak Arum.

“Kok jadi nyalahin Papa. Salah mama sendiri, ngapain pakai pagar nggak digembok segala. Suka banget mancing masalah sama Mbak Arum. Tau dia begitu.” Jawabnya yang semakin membuatku dongkol.

“Kok nyalahin Mama sih. Mama kan penasaran. Ya kalau niatnya baik, kalau nggak, terus bahaya buat keluarga kita gimana coba?” Belaku.

Tapi Mas Arya terdiam tak menjawab, ia malah mulai terpejam.

“Papa diajak ngobrol malah tidur sih. Serius Pah.”

“Auk ahh… Papa udah ngantuk. Mama sendiri kan yang cari masalah.” Ia raih guling di sampingku lalu berganti posisi memunggungiku.

Kesal, kudorong punggungnya tapi sudah tak direspon Mas Arya.

Kudengar adzan subuh, aku bergegas bangun. Ku bangunkan juga Bima. Segera kutunaikan dua rakaat diawal hari lalu menyiapkan sarapan untuk anak-anak dan Mas Arya.

“Papa mana Mah? Kok belum bangun sudah subuh begini.” Sengaja tak kubangunkan Mas Arya. Masih kesal dengannya soal semalam.

“Tuh masih tidur. Kakak dibuatin sarapan apa?”

“Apa saja Mah, asal bukan telor dadar.” Bima selalu makan apapun yang kumasakkan selain telur dadar.

Kulihat Bima membangunkan Papanya. Lalu Bima kembali tidur setelah sholat subuh.

“Kok Papa nggak dibangunin sayang?”Ia berjalan sambil menggeliat dan mengucek mata.

“Nggak papa.” Ia langsung membuka mata lebar saat kujawab singkat begitu. Ia kaget karena aku tak biasa bersikap jutek padanya.

Ia mandi, sholat dan kembali ke dapur menghampiriku. Ia mengajakku ngobrol terus. Tapi tak begitu kutanggapi, aku masih merasa kesal karena jawabanya yang menyudutkan aku. Ia menyadari sikapku yang berubah.

Mas Arya berdiri, lalu memeluk aku dari belakang. “Maafin Mas ya Sayang. Iya Mas yang salah.” Aku tetap diam. Mas Arya mencium cuping telingaku. Geli, tapi aslinya senang.

“Sebenarnya ini pengalaman buat kita. Tidak perlu kita terlalu jauh ikut campur masalah orang lain. Dan jangan memancing masalah dengan memberi kesempatan masalah itu masuk.” Betul juga kata Mas Arya.

“Tapi kan kalau ada niat tidak baik gimana?” Kuputar badanku menghadap pada Mas Arya.

“Kan masih ada pagar yang digembok. Papa juga salah, mungkin sudah bersikap berlebihan sampai buat Mbak Arum kesal dan marah.”

“Tapi Mbak Arum salah, ngapain berhenti depan rumah orang seolah mau masuk, celingak celinguk.”

“Tak baik berprasangka buruk sama orang terus. Kita juga tak baik selalu merasa paling benar. Setidaknya kita belajar nggak perlu memancing masalah dengan memberi kesempatan masalah itu masuk.” Ia menekankan kalimatnya.

Terima kasih suamiku, kau selalu sabar mendidikku. Ku tanggapi ucapannya dengan memberinya senyuman termanis untuknya.

“Sudah nggak marah lagi kan? Anak-anak mumpung masih tidur.” Ia mengeratkan pelukannya.

“Ngapain, Mama mau lanjut masak.” Kubalik badanku mengambil bahan sayur untuk dimasak.

“Di sini juga nggak papa Yang.” belum puas Mas Arya menggangguku. Sampai terdengar Krisna menangis terbangun. Lalu Mas Arya berlari ke kamar untuk menggendongnya.

Beberapa minggu kemudian.

‘Tengg…teng…teng…’ suara slot pagar yang diadu. “Permisi!” Kudengar suara dari luar lantang dan nyaring.

Kubangunkan Mas Arya yang sedang tidur siang dengan anak-anak.

“Pah, siapa tuh? Ada suara orang manggil.” Mas Arya hanya menggeliat dan tidur lagi.

Mas Arya kalau libur kerja dan tidak ada kegiatan lain pasti dia akan memuaskan diri tidur sepanjang waktu.

Aku keluar, kulihat ada dua laki-laki dan satu perempuan berdiri di luar pagar. Bu Lena dan Bu Tyas ikut memperhatikan berdiri di belakang tiga orang itu, mungkin karena ingin tahu apa yang terjadi.

Kubuka pintu untuk melihat dan memastikan siapa yang datang.

“Cantik juga Arum itu ya?” Ucap perempuan itu pelan, tapi masih bisa kudengar.

“Bukan dia.” Laki-laki yang berkaos oblong dengan jaket denim menyangkal.

“Eh Mbak Tolong panggilkan Arum ya?” Lanjutnya.

Apalagi ini. Siapa mereka?

Bersambung

Baca sebelumnya

by: Nurul Fitria

Silahkan Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here