Madu untuk Majikanku

- Advertisement -
- Advertisement -

Rezeki TKW bukan hanya soal gaji yang diterima tiap awal bulan. Diminta menjadi istri kedua oleh istri majikan pun bisa dikatakan rezeki.

Isak tangis terdengar di pagi hari dari ruang kerja majikanku. Suara seorang wanita yang sudah kukenal selama tiga tahun bekerja di negara orang.

Kuambil lap kain untuk membersihkan pernak-pernik di ruang tamu dari kotoran debu. Tinggal di rumah model kondominium dan berada di lantai 11, membuat ruangan itu tampak berdebu, meskipun rutin kubersihkan setiap hari. Sesaat menepis rasa keingintahuan suara yang makin terdengar jelas itu, karena pekerjaanku sudah kususun rapi sesuai dengan jadwal yang kubuat.

Saat kusapu bagian lorong yang melewati pintu kamar dan ruang kerja majikan, decitan pintu terbuka mengalihkan pandangan. Wanita berambut sebahu lurus, dengan tubuh tinggi semampai itu tampak buru-buru menyeka air matanya dengan tangan. Aku pun berdiri mematung di hadapannya.

“Selamat pagi, Nya,” sapaku dengan bahasa Inggris yang sudah diterjemahkan.

“Pagi,” lirihnya, nyaris tak terdengar.

Aku kembali meneruskan pekerjaanku. Seperti biasa, jam delapan pagi harus selesai dan bergegas pergi belanja ke pasar yang tak jauh dari perumahan tempat ku bekerja.

“Arin,” panggil wanita yang kupanggil nyonya itu.

“Iya, Nya?” Aku berbalik dan kembali menghentikan pekerjaan.

“Selesai ini, kamu ke ruang kerjaku, ya?” pintanya.

“Baik, Nya.” Tanpa bertanya lagi, kusanggupi permintaannya. Mungkin mau pesan sesuatu, saat aku ke pasar nanti.

Wanita itu memerhatikanku dari atas sampai ke bawah. Tatapannya begitu teduh. Mata yang sipit, semakin tidak terlihat disebabkan sembab pada kelopaknya.

Aku semakin bingung, tidak biasanya Nyonya Mey Ling melihatku seperti itu. Bangun tidur aku langsung mandi. Menyempatkan untuk salat Subuh terlebih dahulu sebelum memulai pekerjaan. Memoles bedak tipis-tipis agar wajah tidak terlihat pucat, atau seperti bau bantal. Itu pun tanpa memberikan pewarna bibir, karena warna bibirku sudah merah muda alami. Apanya yang aneh?

Decitan pintu terdengar dari kamar sebelah. Seorang lelaki menyembul dari balik pintu sambil meraup wajahnya. Meskipun baru bangun tidur, ketampanannya tetap terpancar. Melihat ku dan sang istri berdiri di lorong ruangan, lelaki itu tampak mengernyitkan dahi.

“Kalian sedang apa?” tanyanya.

Bukannya menjawab, wanita yang dinikahinya lima tahun yang lalu itu malah langsung masuk ke ruang kerjanya dan menutup pintu rapat-rapat. Aku dan sang suami yang melihat hal tidak biasa itu hanya bisa saling berpandangan.

“Apa yang terjadi dengan nyonyamu, Arin?” tanyanya, kemudian.

“Saya tidak tahu, Tuan.”

Lelaki itu memandangi pintu berwarna cokelat tua yang tertutup, lalu beralih melihatku.

“Tolong siapkan milo panas untukku, Arin,” titahnya seperti biasa.

“Rotinya mau dibakar atau tidak, Tuan?” tanyaku memastikan.

“Tidak usah. Aku ingin memakannya bersama selai blueberry. Kamu ambilkan selainya di kulkas untukku.”

“Baik, Tuan.”

Gegas aku ke dapur menyiapkan sarapan untuk majikan lelakiku. Tak lupa, aku pun membuatnya untuk diriku sendiri yang biasanya akan kumakan bersamaan dengan suami Nyonya Mey Ling, meskipun di ruangan berbeda. Dia di ruang makan, sementara aku di dapur.

Secangkir milo panas kuletakkan di depan lelaki berambut lebat hingga bagian depannya sedikit menutupi mata itu. Wajahnya basah, menampakkan sititik air merembet Ke janggut tipis sekitar dagu.

Tak lupa dengan selai sesuai dengan permintaannya kudekatkan bersama roti tawar yang tersimpan di dalam bungkus plastik.

“Silakan, Tuan.” Aku mundur selangkah sebelum meninggalkannya.

“Makasih, Arin. Kamu jangan lupa sarapan, ya.”

Senyumnya terkembang. Siapa saja yang melihat pasti akan terkesima dengan ketampanan yang terpancar dari dalam dan luarnya. Selain tampan, Tuan Teh Kwo juga ramah dan baik hati. Siapa yang tidak betah bekerja pada pasangan yang baik itu? Meskipun selama menikah belum dikarunia seorang anak di tengah-tengah mereka.

Membahas masalah anak, aku curiga, penyebab Nyonya Mey Ling menangis pasti masalah anak lagi. Biasanya, kan seperti itu. Kasihan majikanku itu. Sudah cantik, baik, kaya, punya suami tampan, tapi belum juga dikaruniai anak. Mungkin ini yang dinamakan suatu kekurangan yang dimiliki setiap manusia. Tidak ada yang namanya manusia sempurna. Pasti akan ada kekurangan yang menyertai. Semua itu salah satu ujian dari Tuhan. Punya harta lebih, pasangan penyayang, tapi belum dihadirkan seorang anak.

Selesai sarapan, aku langsung ke ruang makan dan tidak lagi mendapati majikan lelakiku di sana. Dari dalam kamar mandi juga tidak terdengar bunyi shower. Padahal, rutinitas majikan lelakiku sehabis sarapan itu mandi. Saat itu pula, aku akan melanjutkan mengepel lantai semua ruangan, kecuali kamar. Mungkin sedang menenangkan sang istri di ruang kerja.

Beruntungnya, Nyonya Mey Ling mempunyai suami selain tampan juga sangat perhatian. Sering kali ku saksikan keromantisan pasangan itu, aku pun iri dibuatnya. Secara status jomlo yang ku sandang dan kujadikan prinsip selama bekerja untuk membantu perekonomian keluarga di kampung, acap kali meninggalkan sepi. Walau di sisi lain aku bersyukur, dengan begitu tidak ada yang perlu mengganggu pikiran.

Sesuai permintaan Nyonya Mey Ling, usai membersihkan rumah yang luasnya tidak seberapa ini, aku langsung menghadap ke ruang kerja beliau. Ternyata pintu tidak tertutup dengan baik. Namun, tetap kupilih untuk mengetuk pintu untuk menjaga adab seorang pembantu terhadap majikannya.

“Masuk, Arin.” Itu suara Tuan Teh Kwo.

Benar saja, saat aku masuk majikan lelakiku itu sudah berada di sana. Ia melirik sekilas ke arahku dengan tatapan lain, tidak seperti tadi atau sebelumnya.

Nyonya Mey Ling duduk di depan komputer yang layarnya mati. Di punggung wanita itu terdapat lengan kekar yang dengan tulus mengusap-usap, seakan tengah memberikan ketenangan.

“Maaf, Nyonya. Apakah ada yang ingin Nyonya pesan, sebelum saya pergi ke pasar?” Kuutarakan langsung kemungkinan yang menjadi alasan kenapa aku dipanggil di sini. Kalaupun mereka sedang ada masalah, aku tidak tertarik untuk mencampurinya.

Aku sadar diri, kalau di sini statusku hanya seorang pembantu. Tidak etis rasanya kalau harus mengetahui urusan pribadi sang majikan.

Kursi putar yang diduduki Nyonya Mey Ling bergerak hingga membuat tubuh semampai itu terputar menghadapku. Wajahnya kian sembab. Warna putih alaminya berubah menjadi kemerahan. Wanita itu menatapku dari atas kepala sampai ke bawah kaki. Aku yang kurang nyaman dengan itu pun menunduk, menekuri lantai kayu.

“Arin, sudah berapa lama kau ikut dengan kami?” Pertanyaan itu meluncur dari mulut Nyonya Mey Ling.

“Tiga tahun lebih, Nyonya,” jawabku. Meski ini terasa aneh, tapi aku tetap berusaha berpikir positif.

“Kau tahu, bukan kekurangan rumah tangga kami?”

Aku mendongak, lalu mengernyitkan dahi. Maksudnya apa?

“Kau tentu juga tahu, bagai mana merindunya kami pada sosok itu,” tambahnya.

Aku tak menyela perkataan Nyonya Mey Ling meskipun mulai tahu arah bicaranya ke mana.

“Kami rindu anak, sementara kami tak kunjung diberi anak.” Suara Nyonya Mey Ling terdengar sumbang. Itu karena bercampur dengan isakan yang kembali meledak. Kulihat sang suami tak henti-hentinya menenangkan. Bahkan menyuruh wanita itu tak lagi melanjutkan perkataannya. Namun, hanya gelengan yang diberikan.

“Arin, maukah kamu menikah dengan suamiku agar bisa memberikan kami seorang anak?”

Aku terkesiap dengan pertanyaan terakhir Nyonya Mey Ling. Tidak pernah menyangka, kata-kata itu akan muncul dari mulutnya yang selama ini menyayangiku seperti keluarga sendiri, katanya.

Tuan Teh Kwo mendekap erat tubuh sang istri yang langsung tergugu di sana. Sungguh, tidak tahu sama sekali jalan pikiran mereka, terutama majikan perempuanku.

Rezeki TKW bukan hanya soal gaji yang diterima tiap awal bulan. Diminta menjadi istri kedua oleh istri majikan pun bisa dikatakan rezeki, begitu perkataan seorang teman sesama Pejuang Devisa di sini. Akan tetapi, apakah itu berlaku juga buatku?

Aku berdiri mematung sambil mencerna semua ini. Mendadak teringat Ibu di kampung yang statusnya sebagai istri kedua Bapak. Ibu yang tiap malam bersimpuh di atas sajadah sambil berurai air mata tiap Bapak berada di rumah istri pertamanya. Namun, berhasil menyembunyikan kesedihannya di depan kami, sampai kami mengira Ibu baik-baik saja, padahal belakangan kutahu justru sebaliknya. Ibu sangat tersiksa dengan pernikahan itu. Bagaimana kalau itu juga terjadi padaku?

“Aku mohon, Arin. Menikahlah dengan suamiku untuk memberikan kami anak.” Suara Nyonya Mey Ling terdengar begitu parau.

Aku tak berani menoleh. Ketampanan, keromantisan, dan kebaikan Tuan Teh Kwo, sungguh ku tak pernah sekali pun bermimpi untuk memilikinya. Aku hanya seorang pembantu dan selamanya akan seperti itu. Apakah pantas jika harus bersanding dengan majikannya?
(by Aina Maritza)

 

- Advertisement -
Adriani
Adriani
Gangguan terbesar saat menulis itu adalah MENGANTUK. Baru dapat segini sudah sangat lengket ini mata😭😭coba kalau di ajak ngebucin? Pasti melek sampai tengah malam😫

Latest news

Related news

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here