Love Story Anhi #30

0
85
views

Debur ombak dan puluhan burung camar, jadi saksi dua hati sedang berperang batin. Sepasang anak manusia berdiri di atas batu karang, tempat biasa mereka saling berbagi keluh kesah dan menumpahkan rasa. Suasana yang tercipta begitu syahdu.

Bayu memandang gadis yang berdiri tepat di samping. Rindu yang bergelayut di dada seakan meronta ingin lepas dari sarangnya.

Keduanya terdiam cukup lama, seakan bingung harus memulai dari mana. Mereka terlihat, seperti sedang mengumpulkan kalimat demi kalimat yang akan dijabarkan.

“Aku mengaku kalah.” Bayu membuka suara, setelah terdiam cukup lama.

Anhi bergeming, tatapannya lurus memandang lautan yang tak bertepi. Sesak di dada ia tahan sekuat mungkin, agar tidak terlepas berupa jeritan.

“Kalah dalam menggapai cinta bersamamu. Namun, menang dalam menggapai cita sebagai pendeta,” lanjut Bayu tersenyum miris.

Pemuda itu menarik napas dalam-dalam guna menambah oksigen ke dalam paru-paru yang dirasa mulai sesak.

“Maafkan aku.” Hanya dua kata itu yang mampu Anhi ucapkan. Selebihnya, kembali tenggelam dalam kesedihan.

“Semua sudah takdir. Sebesar apapun cinta yang ku miliki, jika Tuhan tidak berkenan kita berjodoh, tetap tidak akan pernah bersatu.” Kesadaran Bayu semakin jelas, terbukti dari setiap ucapannya.

“Bay.”

“Hmm.”

“Meskipun kita tidak berjodoh, cinta ini masih utuh. Jujur, aku belum bisa menyingkirkannya.”

“Kau harus menyingkirkannya, harus bisa! Aku tak berhak lagi berada di hatimu. Kau milik suami dan anakmu.” Getir terasa, namun kata ikhlas harus lebih berperan.

“Kenapa ini terjadi pada kita, Bay?”

Bayu menggeleng. “Ini sudah takdir,” jawabnya singkat.

“Anhi, aku harus melupakanmu, walaupun dirasa sulit. Begitupun denganmu, harus bisa melupakan seorang Bayu.”

“Bagaimana caranya?”

“Aku akan menikah.”

“Menikah??” Anhi terhenyak mendengar ucapan Bayu yang tak diduga.

“Iya, aku akan menerima perjodohan yang ditawarkan mamah sama papah. Sudah lama mereka merencanakan perjodohan ini. Hanya saja, aku selalu mengulur waktu karena aku masih berharap padamu.”

Anhi menggigit bibir bawah, hatinya terasa sakit mendengar pemuda itu akan menikah. Mungkin sakit seperti inilah yang Bayu rasakan, saat mendengar kabar pernikahannya dengan Tasman.

“Kau sudah menikah dengan orang lain, tak ada lagi yang bisa aku harapkan darimu. Jadi, apa salahnya aku menerima perjodohan ini. Mungkin dengan jalan menikah aku bisa sedikit melupakanmu.”

“Kau sudah mengenal calonmu? Apa kau mencintainya?”

Serasa dejavu, pertanyaan yang sama, saat Bayu menanyakan apakah ia mencintai Tasman.

“Sandra sudah lama mencintaiku. Dan, aku tidak mencintainya. Tapi, setelah menikah nanti, aku akan berusaha menyayanginya, sebagaimana kau menyayangi suamimu.”

Hati Anhi mencelos, mendengar ucapan Baru yang lebih mirip pembalasan sakit hati.

“Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan dari perjodohan ini.” Anhi mencoba mengukir senyum untuk menutupi luka yang teramat sakit.

‘Ikhlas, bagaimapun aku harus ikhlas, Bayu menikah dan memilih jalannya. Aku sudah memiliki Tasman juga Ikram buah hatiku’

“Anhi, aku ingin minta sesuatu sama kamu. Aku harap kau menuruti permintaanku ini.”

“Apa permintaanmu?” Hati Anhi berdebar, permintaan apa yang diinginkan Bayu.

“Jika nanti aku menikah, dan mamah mengundangmu, aku minta kau tidak datang.” Bayu menatap wajah Anhi, ingin tahu bagaimana ekpresi gadis itu mendengar permintaannya.

Anhi terkejut, matanya memandang tajam wajah pemuda itu. “Kenapa?” tanyanya heran.

“Kedatanganmu adalah kado terburuk di hari pernikahanku. Aku tidak ingin suasana hatiku kacau dengan kehadiranmu,” jawab Bayu mengalihkan pandangannya ke arah lain.

‘Astaghfirullah’aladzim, Yaa Allah, kuatkan hambamu’

Anhi menekan dadanya yang semakin berdenyut sakit.

Dengan kasar Anhi mengusap air mata yang mengalir deras. Hatinya sakit bagai diremas-remas. Seharusnya ia merasa lega, pemuda itu telah menemukan pendamping, seperti dirinya yang telah memiliki tambatan hati. Bukankah adil.

“Aku akan menuruti permintaanmu. Karena aku pun menolak melihat kau bersanding dengan wanita lain, terlalu menyakitkan,” batin Anhi.

“Baiklah, Bay. Kalau itu yang kamu inginkan. Semoga kamu bahagia.”

Anhi beranjak dari tempatnya, setengah berlari ia meninggalkan Bayu yang mematung memandang kepergiannya.

“Semoga kau juga bahagia, Anhi,” gumam Bayu.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Ending

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here