Love Story Anhi #29

0
262
views

Sejak pertemuannya dengan Bayu tiga hari yang lalu, sikap Anhi berubah murung. Rasa bersalah masih merecoki hati gadis itu. Tasman melihat kemurungan sang istri merasa tidak enak hati.

Tasman sangat memahami perubahan sang istri, terkait tidak diterimanya permintaan maaf yang dilontarkan Anhi pada Bayu.

Tasman berinisiatif menemui pemuda itu sendiri, untuk bicara empat mata. Ia harus gentle menyelesaikan masalah yang dirasa belum tuntas walaupun sudah berjalan tiga tahun.

“Mas.”

“Iya, Bu.”

“Mas yakin mau menemui Bayu?” tanya Anhi dengan nada khawatir. Ia merasa tidak yakin dengan rencana suaminya menemui Bayu. Pasalnya, ia takut terjadi baku hantam antara mereka.

Walaupun keduanya sama-sama sudah dewasa, tidak menutup kemungkinan, jika hati sedang dilanda emosi sampai gelap mata, ia merasa ngeri membayangkan apa yang bakal terjadi.

“Mas harus menemui Bayu, bagaimanapun juga ini harus segera diselesaikan. Mas tidak mau kamu terus dirundung duka karena rasa bersalah. Lagi pula, Mas lah yang bertanggung jawab atas keretakan hubungan kalian tiga tahun yang lalu,” tutur Tasman. Pemuda itu mengenakan jaketnya, bersiap untuk pergi.

“Tidak mas. Mas Tasman sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Dulu, akulah yang mengambil keputusan menerima lamaranmu. Akulah yang mesti disalahkan karena tidak berani berterus terang pada Bayu,” ujar Anhi.

“Lamaran dulu keputusan berdua, bukan sepihak. Sudahlah, In Syaa Allah tidak akan terjadi apa-apa, mas hanya ingin bicara baik-baik dengan Bayu.”

“Ya sudah, hati-hati mas! Semoga tidak terjadi apa-apa,” ucapnya pasrah.

“Mas berangkat dulu, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumssalam.”

Anhi menghela napas, tak bisa lagi mencegah keinginan suaminya menemui Bayu. Semalam Tasman menelpon meminta bertemu pemuda itu di kafe biasa.

****

Bayu dan Tasman saling duduk berhadapan, keduanya masih diam membisu, terlena dengan pikiran masing-masing.

Tasman memandang kagum pemuda yang baru pertama kali ditemuinya. Bayu terlihat gagah dengan stelan jas. Kulit putih, mata sipit ciri khas keturunan Cina. Diusianya yang masih muda sudah memiliki gelar Pendeta.

Begitu juga Bayu, terbesit rasa kagum atas keberanian Tasman menemui dirinya untuk membicarakan wanita yang sama-sama mereka cintai.

Bayu memenuhi undangan Tasman untuk bertemu, demi menuntaskan urusan hati yang telah lama terpendam dan mencuat kembali.

“Saya minta maaf, gara-gara saya harapan kalian untuk bersama kandas begitu saja.” Tasman membuka suaranya, memecahkan keheningan yang tercipta di antara mereka.

“Saya sangat mencintai Anhi, dia begitu berarti bagi saya,” balas Bayu langsung ke inti urusan hati.

“Saya tahu. Begitupun dengan istri saya, dia mencintai kamu.”

Bayu terkekeh. “Kalau memang dia mencintai saya, dia tidak akan menikah dengan kamu. Dia mengkhianati saya, itu artinya dia memang tidak bersungguh-sungguh mencintai saya,” sangkalnya berargumen sendiri.

“Kamu salah. Saya tahu, Anhi sangat mencintai kamu. Ia menikah dengan saya karena tuntutan orang tua yang ingin memiliki pasangan hidup anaknya sesama muslim.”

“Apa kau menikahi Anhi karena agama kalian sama, bukan karena cinta?” Bayu mengajukan pertanyaan layaknya menginterogasi seseorang.

“Selain kami seiman, saya memang menyayangi Anhi. Karena itu saya melamarnya,” jawab Tasman dengan tenang tanpa ragu.

“Apakah menikah beda agama sangat dilarang bagi kalian? Apa dengan kekuatan cinta tidak cukup untuk menggapai pernikahan yang beda agama?” cerca Bayu masih dengan pertanyaan yang didasari rasa penasaran.

“Dalam agama kami yaitu Islam, sangat dilarang pernikahan beda agama, beda keyakinan. Karena, itu sama saja dengan zinah, tidak sah di hadapan Allah. Tak ada dalil dalam apapun untuk pernikahan yang tidak seiman. Saya yakin dalam agamamu pun sependapat, ingin memilih pasangan yang seiman, bukan sekedar mengandalkan cinta.”

Bayu menarik napas dalam-dalam, apa yang dikatakan Tasman ada benarnya, dalam agama manapun tak ada dalil, atau kata umumnya tak ada aturan menikah satu pasangan dua agama. Kecuali mereka yang bermodalkan nekad. Tidak mengindahkan aturan, yang penting bisa bersatu, urusan agama belakangan.

Perbincangan semakin merambat panjang lebar. Tak ada baku hantam, tak ada saling cela apa lagi caci maki. Obrolan mereka lebih mengarah pada hal-hal positif, satu sama lain saling terbuka mencurahkan sisi baik dan buruk hubungan satu sama lain.

Mereka berdua lebih mengutamakan sikap dewasa dalam mengambil kesimpulan serta hikmah dari setiap kejadian. Baik Tasman maupun Bayu, saling menyadari bahwa apa yang terjadi di antara mereka sudah takdir yang Maha Kuasa.

Bayu sadar, kisah cintanya dengan Anhi harus berakhir. Menyerah adalah kata yang tepat dalam perjuangannya menggapai cinta.

Pengalaman membawanya dalam kedewasaan, segala bentuk permasalahan harus di selesaikan dengan kepala dingin bukan dengan adu otot.

Apa lagi, bawaan sikap Tasman yang tenang, paham tentang agama, serta bertanggung jawab membuat Bayu yakin, bahwa Anhi memilih pria yang tepat untuk pendamping hidupnya.

Obrolan yang memakan waktu berjam-jam itu, tak ada yang tau kemana arah pembicaraan mereka, yang jelas keduanya berpisah secara damai. Dengan kata terakhir saling mendoakan.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaDilema Cinta #18
Berita berikutnyaTeknologi Buatan China Yang Super Canggih
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here