Love Story Anhi #27

0
211
views

“Anhi, kaukah itu?”

Deg ….

Jantung Anhi serasa rontok, begitu mengenal suara di sebrang Telpon.

“B-Bayu,” desisnya.

Wajah Anhi memucat seketika. Bagaimana Bayu bisa tahu nomor Telponnya.

“Iya sayang. Ini aku, Bayumu. Aku sudah kembali, aku ada di kota ini.” Suara Bayu terdengar gembira, tanpa tahu reaksi Anhi yang sesungguhnya mendengar ia kembali.

“Da-dari mana kau tahu nomor Telponku?” tanya Anhi gugup, suaranya bergetar berpacu dengan degupan jantung yang semakin bertalu.

“Itu hal yang mudah untuk dicari. Oh iya sayang, bagaimana kabarmu?”

“K-kabarku baik, Bay. Kau sendiri bagaimana kabarnya?”

“Aku juga baik. Kau tahu Anhi, aku sangat merindukanmu,” kata Bayu dengan antusias.

Anhi menggigit bibir bawah, berusaha menahan isak, agar tidak terdengar oleh pemuda yang menelponnya.

“Anhi, kau yakin baik-baik saja? Aku khawatir, Sayang,” sahut Bayu berubah cemas, walaupun pelan pemuda itu menangkap adanya suara isak.

Kalimat demi kalimat yang diucapkan Bayu sangat menyesakan dada. “A-aku baik-baik saja, Bay,” jawabnya.

“Syukurlah kalau kau baik. Suaramu terdengar seperti sedang sakit?” Pemuda itu benar-benar khawatir.

‘Iya Bay, aku sakit. Aku sakit mendengar kau kembali, setelah tiga tahun tak ada kabar. Kau kembali di saat aku telah dimiliki orang lain. Aku bukan Anhimu lagi, Bay’

Anhi menekan dada yang dirasa sakit. Bagaimana nanti reaksi Bayu saat tahu ia telah menikah dan memiliki buat hati dari hasil pernikahannya.

“Anhi, kenapa kau diam saja?”

Anhi terhenyak, panggilan Bayu menginterupsi lamunannya. “Maafkan aku, Bay. Aku masih terkejut dengar kabar kepulanganmu,” jawabnya, berusaha menetralkan suara.

Bayu terkekeh, menanggapi keterkejutan Anhi, dengan telponnya yang tiba-tiba. “Sayang, ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”

“Katakan saja, Bay. Aku mendengarkan di sini.”

“Tidak, Sayang … tidak lewat Telpon. Aku ingin bicara langsung denganmu, aku ingin bertemu denganmu,” sergah Bayu cepat.

“Kenapa tidak sekarang saja?” timpal Anhi berharap Bayu tak memintanya bertemu.

“Tidak sekarang, tapi besok di kafe tempat kita biasa bertemu. Maaf sayang, aku harus pergi ke rumah Candra sekarang. Besok pagi aku tunggu di kafe, ok! Aku mencintamu, sampai jumpa nanti.” Bayu mengakhiri panggilannya, meninggalkan Anhi mematung sendiri dengan ponsel masih menempel di telinga.

“Bayu … Bay, hallo …! Yaa Allah dimatikan.” Anhi gelisah. Takut, cemas dan bingung mulai merongrongnya

“Astaghfirullah’aladzim, bagaimana ini?” Tubuh Anhi luruh seketika, lemas tak bertenaga.

‘Yaa Allah kenapa ia harus kembali? Bagaimana bisa aku menemuinya. Aku tidak sanggup mengatakan keadaanku yang sebenarnya. Tolong aku ya Allah’

Rupanya Tuhan, masih ingin mengujinya, seberapa besar cinta, kasih sayang dan kesetiaan yang ia miliki. Dirinya harus siap menghadapi dilema yang lebih berat dari dilema sebelumnya.

Anhi sadar, ia memiliki hutang penjelasan pada Bayu. Hutang itu harus ia tuntaskan, agar tidak ada lagi kegelisahan dan kesalahan pahaman yang berkepanjangan. Ia harus mencari alasan pada keluarga kecilnya, supaya besok bisa menemui Bayu untuk menuntaskan masalah.

Besok, merupakan kesempatan untuk menjelaskan keadaan dirinya yang bukan wanita bebas lagi, tapi telah memiliki suami dan anak. Sebisa mungkin ia harus mampu meyakinkan Bayu agar menerima takdir bahwa mereka tak bisa bersatu.

****

Dengan langkah ragu Anhi memasuki kafe. Ritme jantungnya berdegup dengan keras. Apa pun yang terjadi ia bertekad menemui Bayu.

Di pagi hari suasana kafe masih lenggang, belum banyak dikunjungi pelanggan, memudahkan Anhi mencari sosok yang menunggunya. Mata gadis itu menangkap tubuh jangkung yang duduk di pojok dengan posisi membelakangi.

Sejenak Anhi tertegun memandang punggung pemuda tersebut. “Bismillah,” ucapnya, sembari kembali melangkah.

“Bay,” panggil Anhi dengan lirih.

Pemuda itu terkejut dan langsung berdiri, menatap lekat gadis yang berdiri di hadapannya. “Anhi,” ucapnya tak kalah lirih. Kerinduan terpancar dari bola mata legam milik Bayu

Keduanya mematung dengan mata saling beradu. Sudut bibir Bayu menyunggingkan senyum.

Mata Anhi mulai berkaca-kaca, dalam hati merutuki kelemahannya di hadapan pria yang seharusnya ia hindari.

“Akhirnya kau datang juga,” kata Bayu. Andai tidak malu ingin ia merengkuh tubuh gadis itu ke dalam pelukannya.

“I-iya, Bay. Aku pasti datang,” jawab Anhi membalas senyuman Bayu. Tangannya menyeka air mata yang hampir luruh.

“Duduklah!” Bayu mempersilahkan Anhi duduk, matanya masih memandang lekat gadis itu.

Anhi mengangguk, lalu duduk berhadapan dengan Bayu. “Terima kasih,” ucapnya.

“Apa kabar?” tanya Bayu sedikit canggung, tidak seperti waktu di Telpon, suaranya lugas dan santai.

“Seperti yang kau lihat, aku baik-baik saja.”

“Mmm … kau terlihat semakin cantik dan dewasa,” ucap Bayu jujur, membuat wajah Anhi merona merah.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar bagi mereka, dan perubahan fisik saat ini, justru semakin terlihat menarik di mata satu sama lain.

“Aku masih seperti dulu, kok. Kamu sendiri terlihat dewasa.” Anhi menunduk malu, menyembuyikan riak panas yang menjalar di wajahnya.

Anhi sendiri tak memungkiri, kalau Bayu terlihat tampan dan gagah. Kulitnya semakin putih dengan mata yang sipit. Sikap yang tenang memperlihatkan kedewasaannya.

Bayu tertawa pelan melihat ekpresi malu dari Anhi. Suasana kaku mulai mencair, kehangatan menyapa hati keduanya.

“Aku sekarang sudah menjadi Pendeta. Tapi, gelarku ini tak menyurutkan rasa yang ada di hatiku terhadapmu. Malah sebaliknya, aku semakin mencintai kamu, Nhi.”

“Syukurlah, impian orang tuamu telah tercapai. Aku ikut bahagia,” sahut Anhi tanpa membalas ungkapan cinta Bayu.

Satu sisi Anhi bahagia, Bayu berhasil membuktikan pada orang tua dengan gelar pendetanya. Satu sisi yang lain, ia merasakan kesedihan yang mendalam. Ia sadar, posisinya sebagai istri dari pria lain, tak mungkin menerima kembali uluran cinta kasih yang di sodorkan pemuda itu.

“Aku merindukanmu, Anhi. Apa kau merindukanku juga? Dan, masihkah kau setia menungguku?” Mata Bayu menyorot lembut penuh harap bahwa Anhi merasakan hal yang sama dengannya.

“Yaa Allah, kuatkan hamba,” batin Anhi dalam hati.

“Maafkan aku, Bay,” desis Anhi. Ingin ia mengungkapkan kata yang sama, namun sadar itu tidak mungkin.

“Kenapa minta maaf?”

“A-aku … aku harus mengatakan yang sejujurnya sama kamu, Bay.”

Bayu mengernyitkan dahi, perasaan tidak nyaman mulai mengusik. “Ada apa, Anhi? katakanlah!” ujar Bayu, suaranya dibuat tenang.

“A-aku sudah menikah, Bay.” Anhi menunduk tak berani melihat perubahan yang bakal terjadi pada wajah Bayu.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaDilema Cinta #16
Berita berikutnyaLove Story Anhi #28
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here