Love Story Anhi #26

0
262
views

Tiga bulan sudah usia pernikahannya dengan Tasman. Anhi mulai beradaptasi dengan hatinya, menerima pria itu segenap jiwa raga. Ia mulai menumpahkan perhatian dan kasih sayang sebagai penebusan rasa bersalah atas apa yang pernah ia lakukan, yakni mengacuhkan dan mendiamkan sang suami dalam waktu yang cukup lama.

Anhi terus berusaha menumbuhkan cinta kasih untuk suami, menyingkirkan sedikit demi sedikit bayangan Bayu yang kerap kali mengusik pikirannya. Memang tidak mudah, tapi ia terus berusaha dan berusaha menggantikan posisi Bayu di hatinya oleh Tasman.

Apa lagi keyakinannya diperkuat dengan mimpi bertemu pria berpeci itu lagi. Pria tersebut semakin menampakan jelas raut wajahnya dan ternyata wajah itu milik sang suami. Sehingga, menyingkirkan keraguannya selama ini.

Sudah seminggu ini, tubuh Anhi begitu lemas, kepala sering berdenyut sakit, rasa mualpun acap kali menyerangnya. Ia tidak tahu, kenapa kondisi kesehatanya turun drastis selama beberapa hari ini. Perubahan kondisi Anhi tak luput dari perhatian suami, menimbulkan rasa cemas di hati pemuda itu.

“Anhi, kau baik-baik saja? kelihatannya kau tidak sehat?” Tasman menyentuh kening Anhi, rasa khawatir tercetak jelas di wajahnya.

“Entahlah Mas. Sudah seminggu ini tubuhku rasanya lemas, kepala pusing. Nafsu makanku hilang.” Anhi merebahkan tubuh lemasnya di atas ranjang.

“Kita ke dokter ya? mas takut ada apa-apa,” ucap Tasman semakin khawatir.

Anhi menggeleng. “Aku ingin tidur saja, Mas. Siapa tahu nanti bangun sudah baikan.”

“Tapi, sudah beberapa hari kondisimu seperti ini. mas benar-benar khawatir.” Pemuda itu menatap iba wajah pucat sang istri.

“Nanti saja, Mas. Aku ingin istirahat dulu, boleh ya?” pinta Anhi, suaranya melemah, rasa kantuk semakin menyerangnya.

“Ya sudah, tidurlah! Tapi, jika kondisimu tidak ada perubahan, kita ke dokter, ya?” bujuk Tasman sebelum Anhi semakin lelap tidurnya.

“Iya mas,” jawabnya pelan. Hening, tak ada lagi yang bersuara.

Tasman menyelimuti tubuh istrinya. Lalu pergi keluar setelah yakin Anhi sudah terbang bersama mimpinya.

“Anhi kenapa, Man? Tumben siang-siang istrimu tidur.” Bu Maryam mengajukan pertanyaan begitu menantunya keluar dari kamar.

Pemuda itu duduk di hadapan Bu Maryam. “Entahlah, Mah. Beberapa hari ini kondisinya kurang sehat. Lemas, pusing dan mual itu yang Anhi rasakan.”

Bu Maryam menghentikan kegiatannya membaca buku, mendengar penjelasan Tasman tentang kondisi Anhi. “Sudah periksa ke dokter, belum?”

“Sudah Tasman ajak berapa kali, Anhi menolak terus, Mah,” timpal pemuda itu.

“Hmm … dilihat dari gejalanya, mamah curiga deh,” kata Bu Maryam, bibirnya menyunggingkan senyum penuh arti.

“Maksud mamah?” Tasman mengrenyitkan dahi, tanda tidak mengerti apa yang dikatakan mertuanya.

“Ada kemungkinan istrimu itu sedang isi alias hamil,” tutur Bu Maryam senyumnya semakin lebar.

Tasman terhenyak, kemungkinan benar apa yang dikatakan mertuanya itu. Kenapa ia bodoh tidak berpikir ke situ. Apa ini buah dari cinta kasihnya bersama Anhi, setelah dua bulan lalu sang istri menyerahkan diri dengan ikhlas untuk ia gauli sebagai penyempurna sunnahnya.

“Yaa Allah, kenapa Tasman tidak berpikir ke sana, Mah. Mudah-mudahan yang dikatakan mamah benar,” ujarnya. Wajah Tasman berubah dari cemas menjadi sumringah.

“Nanti setelah Anhi bangun, ajak dia periksa ke dokter, atau klinik bidan yang terdekat dari sini.”

“In Syaa Allah, Mah. Yaa Allah mudah-mudahan istriku sedang mengandung, buah hati kami. Aamiin.” Tasman mengusapkan telapan tangannya pada wajah. Binar bahagia terlukis di wajah tampannya.

****

Tasman berhasil membujuk wanitanya untuk periksa ke bidan. Sebelumnya pemuda itu menjelaskan gejala yang dirasakan Anhi sama persis wanita yang sedang hamil. Akhirnya, sang istri mau menuruti keinginannya pergi ke klinik pemeriksaan kandungan.

“Bagaimana, Bu bidan?” tanya Tasman tak sabar, begitu Bidan Nuri keluar bersama Anhi setelah pemeriksaan selesai.

Bidan Nuri tersenyum melihat ketidak sabaran Tasman. “Alhamdulillah, istri Bapak sedang mengandung tepat 4 minggu,” ujar bidan Nuri menyampaikan hasil pemeriksaannya.

“Alhamdulillah Yaa Allah Yaa Robb. Puji syukur hamba panjatkan atas karunia terbesar-MU ini,” ucap Tasman, suaranya bergaung dalam ruangan saking bahagia.

Anhi dan bidan Nuri tersenyum lebar menanggapi tingkah Tasman yang tak kuasa mengendalikan rasa bahagianya. Tanpa malu pemuda itu memeluk Anhi di depan bidan Nuri.

“Mas, lepasin! Malu iihk, sama Bu bidan,” gumam Anhi.

Tasman buru-buru melepaskan pelukannya, baru sadar ada orang lain di antara mereka. “Maaf, Bu. Saking bahagianya saya sampai lupa,” ucapnya dengan kikuk.

Bidan Nuri hanya tertawa pelan menanggapinya. “Tidak apa-apa, sudah biasa moment bahagia seperti itu terjadi di sini. Selamat ya, buat Ibu Anhi dan Pak Tasman.”

“Terima kasih banyak, Bu.”

Kabar kehamilan Anhi, disambut suka cita oleh seluruh keluarga, baik dari pihak keluarga Anhi maupun Tasman.

****

Tiga tahun kemudian.

“Ikram … berangkat ngaji dulu sama ayah, Sayang.” Anhi memasangkan peci di kepala putranya yang tak bisa diam berlari ke sana ke mari. Setelah selesai memasang peci, Anhi dengan gemas mencium pipi putranya.

“Hihihi … geli,” ujar Ikram menggeliat kegelian dicium sang Ibu.

“Ikram, sudah siap, Nak?”

“Sudah Ayah,” jawab Ikram dengan suara khas anak kecil.

“Kalau begitu, ayo kita berangkat!” ajak Tasman hendak menggandeng tangan putranya.

Ikram menggeleng, menolak tangannya dipegang. “Gendong,” ujarnya dengan manja.

“Yaah … anak Ayah Manja, maunya digendong saja,” timpal Tasman sambil menjawel hidung Ikram. Pemuda itu meraih tubuh mungil sang putra ke daalm pangkuannya.

“Ayah sama dedek Ikram berangkat dulu ya, Bu. Assalamu’alaikum.”

“Iya, Ayah. Wa’alaikumssalam,” balas Anhi mengiringi kepergian suami dan putranya sampai depan rumah.

Kebahagiaan keluarga kecil Tasman semakin bertambah dengan perkembangan buah hati mereka yang sehat dan tampan, Ikram sang buah hati pasangan Anhi dan Tasman hampir menginjak usia tiga tahun. Masa lalu mulai terlupakan, termakan waktu dan keadaan yang semakin memihak pada keluarga kecil itu.

Ddrrrrrttt ….

Suara ponsel mengundang perhatian Anhi yang masih berdiri di halaman. Ibu muda itu segera berlari ke kamar, meraih benda pipih persegi empat yang tergeletak di atas tempat tidur. Nomor tak dikenal tertera di layar utama. “Dari siapa ya?” gumamnya.

Anhi menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilan. “Assalamu’alaikum,” ucapnya.

“Anhi, kau kah itu?”

Deg …

Jantung Anhi serasa rontok begitu mengenal suara laki-laki di sebrang Telpon.

“B-Bayu,” desisnya dengan suara bergetar.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here