Love Story Anhi #18

0
2239
views

Keputusan telah diambil, Bayu dan Anhi tidak mampu menolak keputusan tersebut. Anhi menangis dalam diam, sedang Bayu tetap mengikrarkan janji dalam hati, akan memperjuangkan cinta kasih yang telah ia rajut. Bayu tidak ingin perjuangannya sia-sia. Bayu yakin bisa menikah dengan Anhi walau beda Agama.

Pertemuan antar keluarga berakhir dengan kesepakatan mengakhiri hubungan cinta putra-putri mereka. Keluarga Bayu pulang setelah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Bayu melangkah dengan gontai. Sebelum memasuki mobil Bayu sempat bertukar pandang dengan Anhi. Mata keduanya menyiratkan kedukaan yang dalam.

Anhi mengiringi kepergian Bayu dengan hati tercabik perih. Andai ia tidak ingat dosa, sudah dikejarnya Bayu, ikut dengan kekasih hatinya itu, dan sebisa mungkin berlari bersama menuju kebahagiaan yang akan mereka ciptakan sendiri.

Tidak …! Anhi bukan gadis pemberontak, ia sangat menghormati orang tua, menyayangi orang yang telah berjasa dalam hidupnya. Anhi tidak ingin menjadi gadis durhaka meninggalkan orang tua demi cinta dunia yang buta akan makna.

“Anhi …” Bu Maryam duduk di pinggir ranjang, mengusap bahu anak gadisnya yang terguncang karena menangis.

Anhi duduk memeluk lutut, Dengan kepala ditekuk bertumpu di atas lengan yang dilipat. Gadis itu semakin sesunggukkan saat jemari Bu Maryam mengusap lembut tubuhnya.

“Sayang, dengarkan Mamah! seharusnya kamu sadar dan bernafas lega bahwa kamu telah terlepas dari jerat cinta terlarang. Cinta beda keyakinan sangatlah dilarang oleh Agama, karena itu termasuk zinah, zinah termasuk dosa besar, Naudzubillahmindalik,” tutur Bu Maryam menjelaskan dahsyatnya hukum nikah beda Agama.

“Anhi tahu, Mah. Anhi hanya menyesali apa yang Anhi rasakan. Kenapa Allah memberi Anhi cinta pada Bayu jika tidak bisa saling memiliki,” ucap Anhi mengajukan protes disela isak tangisnya.

“Allah semata-mata menguji imanmu, sekuat mana kamu bisa menghadapi cinta yang tak sampai, apa lagi beda keyakinan. Jika kamu kuat dan sabar menghadapi kesedihan ini, In Syaa Allah, Allah telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik dan lebih indah sebagai gantinya. Ingat, sayang! Janganlah kamu sia-siakan waktu hidupmu dengan sesuatu yang dibenci Allah. Karena, setelah jiwa kita lepas dari raga tak ada lagi kesempatan untuk memperbaiki diri, dan penyesalan sangat tidak berarti. Coba kamu pikir! apa kamu tega menjerumuskan Papah sama Mamah ke dalam Neraka, karena membiarkan anaknya diperbudak cinta dan membiarkan zinah di depan mata. Kumohon sayang, mengertilah.”

Ucapan demi ucapan yang terlontar dari mulut Bu Maryam, bagaikan ujung pisau yang mengorek-ngorek luka yang sudah menganga. Anhi meresapi makna dari setiap ucapan mamahnya.

“Perbanyaklah ibadah, sempurnakan sholatmu, teruslah tawaqal selama Allah masih memberi kita nafas. Kamu sudah besar, sudah bisa berpikir secara dewasa. Mamah percaya kamu akan melewati semua ini dengan baik.”

Anhi mengangguk pelan sambil mengusap air mata yang masih enggan untuk berhenti.

“Ya sudah, Mamah sholat Ashar dulu, ya. Sebaiknya kamu juga segera sholat.” Bu Maryam mengakhiri perbincangannya dengan Anhi, lantas keluar kamar.

Anhi beranjak dari tempat tidur, lalu bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudhu.

****

“Bay, ada apa telpon?” tanya Anhi pada Bayu yang menelponnya malam-malam.

“Anhi, aku ingin bicara denganmu. Kau belum tidur?” Bayu balik bertanya.

“Aku baru saja mau tidur,” jawab Anhi.

“Maaf aku menganggu waktu tidurmu.”

“Tidak apa-apa, Bay. Oh iya, kamu mau bicara apa?”

“Anhi, aku … aku ingin mengatakan, bahwa aku akan tetap menikah denganmu,” ucap Bayu.

Anhi terhenyak mendengar keinginan Bayu. Anhi tidak menyangka Bayu benar-benar nekad. Ternyata, Bayu sama sekali tidak menghiraukan keputusan mutlak yang sudah diambil dengan kesepakatan antara dua keluarga.

“Tapi, itu tidak mungkin, Bay. Bukankah keputusan sudah diambil, kita tidak mungkin bersama,” timpal Anhi kembali mengingatkan Bayu tentang keputusan tersebut.

“Aku tidak peduli Anhi. Kau tahu Anhi? aku sudah mengumpulkan uang banyak, bisa digunakan untuk pernikahan kita. Dan kita tidak akan menikah di sini.”

“Apa maksudmu, Bay? memangnya kalau kita menikah, akan di mana?” tanya Anhi heran.

“Aku akan membawamu ke Malaysia, di sana ada saudaraku dan aku akan bekerja di sana. Kita bisa memulai hidup baru di Malaysia,” suara Bayu terdengar antusias.

“Malaysia? tidak …! tidak! Bay. Itu tidak mungkin. Bukan masalah dimana-dimananya kita menikah, tapi intinya kita berbeda Agama. Kita tidak bisa menikah dengan beda Agama,” tolak Anhi. Gadis itu menekan dadanya yang berdebar hebat. Keinginan Bayu di luar skenarionya.

Anhi mulai terlihat panik, rencana Bayu benar-benar membuat babak baru dalam kisah hidupnya dan itu sukses membuat Anhi khawatir setengah mati. “Malaysia … tidak! aku tidak bisa! bagaimana mungkin aku pergi ke negeri penang itu dan menikah di sana tanpa restu dari Papah sama Mamah,” ronta hati Anhi.

“Anhi, aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Tunggulah, aku akan membuktikan semuanya. Suatu hari aku akan menjemputmu.”

Klik ….

Telpon dimatikan sepihak oleh Bayu, meninggalkan Anhi mematung sendiri dengan seribu permasalahan baru.

“Yaa Allah, apa lagi ini? Bayu … Bayu, kenapa kau belum juga memahami semua ini. Kamu salah, Bay,” jerit Anhi dalam hatinya.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaBodyguard with Love #31
Berita berikutnyaPulau Berdarah #04
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here