Love Story Anhi #17

0
917
views

Pak Yohan dan Mamah Khatrin tahu kalau putra mereka sedang berada di kota kelahiran. Pak Yohan meminta bantuan pada teman-teman Bayu, jika bertemu dengan Bayu suruh anak itu pulang. Kebetulan Candra yang bertemu dengan pemuda itu.

Candra membujuk Bayu menemui orang tuanya untuk membicarakan hal penting. Sebagai anak yang berbakti sekaligus merasa bersalah telah mengabaikan mereka, hati Bayu luluh dan menuruti bujukan Candra untuk bertemu orang tua.

Di sinilah Bayu kini berada, duduk berhadapan bersama papah dan mamahnya. Bayu sudah memikirkan konsekuwensi apa yang bakal terjadi pada dirinya.

“Kamu sudah mencoreng nama baik keluarga, sungguh memalukan perbuatan kamu itu,” ujar Mamah Khatrin menahan geram. Matanya menyorot tajam putra satu-satunya itu.

Bayu diam tak berkutik, bicarapun rasanya percuma, kedua orang tuanya tidak akan memahami kemelut hatinya. Yang mereka pikirkan hanya kesuksesan anak sebagai Pendeta dan kehormatan marga keluarga. Jangankan seucap kata RESTU, yang ada malah sebaliknya, mereka akan semakin membenci hubungannya dengan Anhi.

Bayu tak heran, bagaimana Papah dan Mamahnya bisa tahu kegiatannya sering keluar asrama untuk bertemu Anhi. Pemuda itu sadar serapat-rapatnya menyimpan bangkai pasti akan tercium pula.

“Hari ini dan besok, kamu tidak perlu berangkat dulu ke Surabaya,” kata Pak Yohan, mimik wajahnya terlihat lebih tenang dibanding Mamahnya.

“Kenapa, Pah?” tanya Bayu heran campur tanda tanya, apa yang sedang mereka rencanakan.

“Besok, kita akan bertemu Anhi dan orang tuanya,” tutur Mamah Khatrin.

Bayu terhenyak, apa telinganya tidak salah mendengar, Papah dan Mamahnya akan bertandang ke rumah gadis pujaannya. Tapi, untuk apa? apa yang akan mereka bicarakan? sekelebat pertanyaan mengusik pikiran Bayu.

“Mau apa kita kesana, Mah?” Bayu tak mampu menyembunyikan rasa herannya.

“Kita akan membicarakan hubungan kamu dengan Anhi.”

Bayu semakin terhenyak mendengar ucapan Papahnya. Ia harus bersabar menunggu besok apa yang akan mereka bicarakan dengan keluarga Anhi. Pemuda turunan tionghoa itu memilih pasrah.

****

Hari ini, Anhi tidak diperbolehkan masuk kuliah oleh papahnya. Awalnya Anhi merasa heran kenapa ia dilarang berangkat kuliah. Rasa herannya terjawab saat Anita memberitahu bahwa keluarga Bayu hari ini akan datang. Seketika degupan jantung Anhi naik beberapa ritme tiap menitnya.

Anhi mondar mandir di kamarnya dengan perasaan gelisah, berkali-kali ia menanyakan pada sang mamah ada apakah keluarga Bayu datang kemari. Namun Anhi selalu mendapat Jawaban mamah, “nanti juga kamu akan tahu!”

Aliran darah Anhi serasa berhenti, saat mendengar suara deru mobil yang di parkir di halaman rumah. Bulir-bulir keringat yang jatuh sudah tak terhitung. Anhi mematutkan diri di depan cermin, takut penampilannya terlihat memalukan. Wajahnya sedikit pucat efek rasa takut dan cemas berbaur jadi satu.

Anhi terlonjak saat pintu kamarnya ada yang membuka. “Anhi keluarga Bayu sudah datang, ayo keluar, temui mereka!” Suara Bu Maryam sukses membuat Anhi mematung di tempat.

“Lho … malah bengong! ayo cepetan!” sahut Bu Maryam, menginterupsi pikiran Anhi.

“I-iya, Mah,” jawabnya dengan gugup.

Anhi mengekor di belakang Mamahnya, matanya sejenak mengedar ke ruang tamu.

Deg

Bayu terlihat ada di sana, ada apakah ini? pikiran Anhi benar-benar buntu. Suasana hatinya benar-benar sulit diajak berdamai, bertalu-talu tak menentu. Apa lagi semua mata menatap ke arahnya, ia merasa tak ubahnya seorang terpidana yang siap menerima vonis hukuman.

Anhi duduk di samping Bu Maryam, kepalanya ditundukan tidak berani diangkat, bahkan lidahnya pun serasa kelu untuk sekedar menyapa. Akhirnya Anhi memilih diam.

“Baiklah, berhubung sudah berkumpul semua. Saya rasa, alangkah baiknya kita langsung ke pokok tujuan,” kata Mamah Khatrin memulai pembicaraan. Matanya memandang Anhi dengan tatapan sedikit angkuh.

“Silahkan, Bu!” balas Bu Maryam menyetujui ucapan tamunya yang tak perlu basa-basi.

“Ini menyangkut putra putri kita, tepatnya hubungan mereka. Kita semua tahu hubungan mereka berjalan cukup lama, sedangkan keluarga anda dan saya berbeda Agama, berbeda keyakinan. Jadi kami ingin mendengar bagaimana pendapat keluarga anda tentang hal ini. Saya rasa ini bukan hal yang sepele, oleh karena itu, masalah ini harus secepatnya dituntaskan,” papar Mamah Khatrin.

“Iya, kami paham, ini menyangkut ke Agamaan. Terutama bagi kami yang harus mengikuti syariat Islam dalam memilih pasangan hidup,” ucap Bu Maryam.

“Begitu juga kami. Kami memiliki syarat tertentu untuk pasangan hidup,” balas Mamah Khatrin tak mau kalah.

“Mohon maaf, Bu. Dalam masalah ini, sebenarnya kami selaku orang tua sama sekali tidak melarang siapa yang bakal jadi menantu kami kelak. Tak ada larangan bagi kami, Anhi akan memilih lelaki mana yang menurutnya cocok. Hanya satu permintaan dari kami, pria tersebut harus satu akidah, satu Agama, dan seiman dengan kami,” tutur Pak Zulham menjelaskan gambaran sosok yang diharapkan untuk mendampingi putrinya.

Pak Yohan terlihat mangut-mangut, sedang Mamah Khatrin memandang ke arah Bayu. Mamah Khatrin seolah ingin menegaskan pada Bayu lewat sorot matanya, bahwa dia bukan pilihan orang tua Anhi.

Harapan Anhi semakin menipis mendengar paparan orang tuanya tentang lelaki yang pantas untuk jadi pendampingnya. Gadis itu merasa kebersamaannya dengan Bayu akan berakhir.

“Kami juga sependapat dengan anda. Kami sama sekali tidak mengekang Bayu memilih calon istrinya. Wanita manapun bisa Bayu pilih untuk menjadi istrinya kelak, asalkan seiman dengan kami, dan jelas sekali Anhi bukan kriteria kami dalam Agama. Maaf,” ujar Pak Yohan menggambarkan pula kriteria calon buat Bayu.

“Kalau begitu, sudah jelas hubungan kedua anak kita tak bisa dilanjutkan.”

“Sebaiknya begitu! kita sama-sama saling memahami, bukan?” kata Mamah Khatrin menanggapi pernyataan Bu Maryam.

“Yaa Allah, apakah ini akhir dari kebersamaanku dengan Bayu?” bisik hati Anhi.

Secara tidak langsung dua ungkapan dari dua mulut yang sangat berpengaruh mewakili seluruh perkataan yang lain. Bahwa, keputusan mereka mutlak tak bisa diganggu gugat dan semua jelas palu telah diketuk.

“Aku mencintaimu Anhi. Selama janur kuning belum melengkung, aku akan memperjuangkanmu,” batin Bayu dalam hati.

Atmosfir ruangan semakin dirasa panas, kedua pasangan sejoli yang berbeda keyakinan itu semakin dihadapkan pada situasi tahap tersulit. Bayu dan Anhi tak berkutik, hanya hati mereka yang saling bersahutan berupa jerit tangis yang tak seorangpun akan mengerti.

Suka dan duka hal yang lumrah terjadi pada suatu hubungan. Namun, duka saat ini lebih mendominasi ruang hati yang telah pupus asanya, ditelan keadaan yang cukup menyakitkan. Tak ada lagi harapan, setelah terpecahnya keputusan yang tak mampu dielakkan, kini hanya tinggal menyisakan satu kata PASRAH tapi janganlah lupa masih ada Tuhan tempat berkeluh kesah.

Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaPulau Berdarah #03
Berita berikutnyaBodyguard with Love #30
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here