Love Story Anhi #08

0
39
views

“Permisi … As-Assalam’ualaikum,” seru Bayu sedikit gugup.

Merasa belum juga mendapat sahutan, Bayu kembali mengucap salam dan berharap kali ini ucapannya benar yang sering ia dengar di sekolah.

“Wa’alaikumssallam,” balas seseorang dari dalam rumah.

Seorang pria paruh baya membukakan pintu dan langsung menatap Bayu dengan tatapan heran. “Cari siapa?” tanyanya tanpa basi-basi.

Dilihat dari usia dan penampilannya, Bayu menafsirkan bahwa pria yang membuka pintu itu adalah Papahnya Anhi. “M-maaf Om, saya Bayu teman sekolahnya Anhi,” jawabnya dengan suara gugup.

“Oh, kedatanganmu kemari ada apa?” tanya Pria itu lagi seolah sedang menginterogasi.

“Saya bermaksud menengok Anhi, putri Om,” ujar Bayu jujur, bicaranya mulai lancar tanpa gugup lagi.

Pria setengah baya yang bernama Zulham itu memperhatikan penampilan Bayu yang terlihat rapi tidak urakan. Terakhir Pak Zulham melihat kantung plastik yang ditenteng Bayu.

“Pah, ada siapa?” tanya seorang wanita dari dalam rumah.

“Ini Mah, ada temannya Anhi,” jawab Pak Zulham.

“Lho, kenapa tidak disuruh masuk, Pah!” ujar wanita yang ternyata Mamahnya Anhi.

“Ayo, masuklah!” perintah Pak Zulham mempersilahkan Bayu untuk masuk.

Bayu mengangguk sambil tersenyum lega. Pemuda itu memasuki rumah Anhi mengikuti langkah si tuan rumah.

“Silahkan duduk! siapa namamu, Nak?” tanya wanita berhijab yang tak lain Bu Maryam.

“Saya Bayu, Tante,” jawab Bayu mengangguk hormat.

“Oh Bayu. Sebentar ya, Tante kasih tahu dulu Anhi ada kamu kesini.”

“Iya Tante, terima kasih.”

Bayu melirik sejenak ke arah Pak Zulham yang duduk di hadapannya sambil menyulut roko kretek.

“Anhi,” panggil Bu Maryam pada anak gadisnya yang sedang berbaring.

Wajah Anhi terlihat pucat, menandakan gadis itu masih dalam keadaan sakit.

“Iya Mah,” sahutnya dengan suara lemah.

“Ada yang nengok kamu,” kata Bu Maryam.

Anhi mengernyitkan dahi. “Siapa Mah?”

“Namanya Bayu.”

Anhi terkejut saat mamahnya menyebut nama Bayu. “Mamah tidak salah?” tanya Anhi takut salah dengar.

Bu Maryam menggeleng. “Tidak, dia sendiri yang menyebutkan namanya. Kenapa?” Bu Maryam melihat perubahan pada wajah putrinya, yang semula wajahnya putih pucat kini sedikit ada rona merah.

Bu Maryam mengulum senyum. “Eheemm.”

“D-dia datang dengan siapa, Mah?” tanya Anhi terlihat mulai salah tingkah.

“Sendiri. Sepertinya, dia tamu istimewa, hm,” goda Bu Maryam.

Wanita berjilbab itu semakin yakin, putrinya seperti menyimpan suatu perasaan khusus, dilihat dari sikap Anhi begitu mendengar nama Bayu.

“Mamah panggilkan dia kemari ya,” kata Bu Maryam sambil keluar dari kamar Anhi, membiarkan putrinya asyik dengan pikirannya.

“Tapi Mah-” Anhi tak sempat meneruskan kalimatnya, Mamahnya keburu pergi keluar.

Jantung Anhi berdegup kencang, ia merasa malu bertemu Bayu, penampilannya terlihat culun. Namanya orang sakit pasti kelihatan culun dan berantakkan, masa iya harus bersolek dulu.

“Yaa Allah, tenangkan perasaanku,” batin Anhi, hatinya sangat berdebar saat mendengar langkah kaki menghampiri kamarnya.

Deg

Sebentuk wajah tampan menyembul di ambang pintu, senyum manis terukir di bibirnya. “Hai … Anhi,” sapa Bayu.

“H-hai Bay,” balas Anhi, suaranya bergetar berpacu dengan degupan jantungnya yang semakin kencang.

“Mamah, tinggalkan dulu kalian ya. Ada yang harus Mamah kerjakan di dapur. Dan ini Nhi, ada bingkisan dari Bayu.” Bu Maryam menaruh bingkisan buah-buahan yang dibawa Bayu di atas nakas.

Anhi dan Bayu mengangguk. “Silahkan Tante,” ujar Bayu.

Bayu mengambil kursi rias, lalu duduk di hadapan Anhi. Wajah Anhi bersemu merah ditatap Bayu sedemikan rupa.

“Maaf aku tidak menengokmu di rumah sakit, aku tidak tahu kau sedang sakit,” kata Bayu nada suaranya terdengar menyesal.

“Tidak apa-apa, lagi pula sakitku tidak parah, jadi tidak lama dirawat di rumah sakitnya.”

“Tidak parah bagaimana. Kau terserang typus dan itu membuatku khawatir.”

Anhi terhenyak mendengar Bayu mengkhawatirkannya. Benarkah itu? Ada rasa hangat menjalar di hatinya.

“Kau khawatir padaku?” tanya Anhi ingin memastikan kembali ucapan Bayu tadi.

Bayu terlihat salah tingkah, baru sadar dengan ucapannya tadi. “I-iya, semua teman-teman pasti mengkhawatirkan kamu, sama seperti aku,” ucap Bayu sedikit meralat ucapannya untuk menutupi egonya.

“Oh, tentu saja,” timpal Anhi dengan ekspresi yang tidak bisa Bayu baca.

“Cepat sembuh ya, aku tidak bisa melihatmu di sekolah kalau kau sakit. Aku … aku kehilangan kamu.”

Anhi terhenyak untuk yang kedua kalinya. Namun kali ini benar-benar membuat mata Anhi membelalak. “A-apa maksud ucapanmu?”

“Aku menyukaimu Anhi, aku tidak mau kau sakit. Jika kau sakit aku tidak bisa melihatmu di sekolah,” ujar Bayu, kali ini Bayu tidak meralat ucapannya. Ia nekad mengungkapkan yang ia rasakan selama ini.

“Bay-”

“Maafkan aku Anhi, aku mencintaimu. Maafkan semua kesalahanku selama ini.”

“Apa maksudmu mencintai anak saya?”

Bayu terlonjak mendengar suara berat di belakangnya. Anhi dan Bayu memandang Pak Zulham yang entah kapan sudah berdiri di ambang pintu.

“Papah,” desis Anhi wajahnya kembali memucat.

“Kamu bilang kamu mencintai anak saya?” tanya Pak Zulham menatap tajam wajah Bayu.

“I-iya, Om,” jawab Bayu.

“Dan kamu Anhi, apa kau menyukai juga pemuda ini?”

Anhi terlihat gemetar, ia tidak menyangka Papahnya akan menanyakan itu. Anhi bingung tidak tahu harus menjawab apa.

“Jawab pertanyaan Papah, Anhi! apa kamu memiliki perasaan yang sama dengan pemuda ini?” Pak Zulham kembali bertanya dengan suara tegas.

Anhi menganggukkan kepalanya. “Iya, Pah,” jawabnya pelan.

Bayu tersenyum tipis, ada rasa bahagia mendengar Anhi memiliki perasaan yang sama dengannya.

Pak Zulham menarik nafas berat. “Kalian masih sekolah, belum pantas cinta tumbuh di hati kalian. Tunggu sampai kalian lulus sekolah, setelah lulus sekolah semuanya akan jelas cinta kalian akan berjalan seperti apa.”

Anhi dan Bayu saling berpandangan. Keduanya belum bisa memahami ucapan Pak Zulham, apakah merestui hubungan mereka tapi menunggu sampai lulus sekolah atau ada cerita lain dibalik semua ini.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar
Previous articleBodyguard with Love #21
Next articleAnak Gunung #37
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here