Love Story Anhi #06

0
45
views

Hari demi hari, bahkan minggu demi minggu Anhi lalui dengan damai dan adem di kelas barunya. Hari-harinya Anhi terlihat begitu ceria, ketenangan yang ia dapati setara dengan kesabarannya selama dibully dan dijahili Bayu. Kedekatannya dengan Candra semakin terlihat, bahkan mereka digosipkan pacaran padahal nyatanya tidak.

Mulut mereka tidak pernah saling mengungkap kata cinta. Dan, jujur saja di hati Anhi tak ada rasa cinta hanya sekedar simpati dengan kebaikkan dan perhatian Candra. Anhi hanya menganggap Candra sebagai sahabat tak lebih.

Candra sendiri, memiliki perasaan lebih terhadap Anhi, hanya saja Candra memilih diam, memendam rasa. Candra sadar perbedaan agama mereka ibarat benteng yang sulit untuk diterjang. Candra sangat aktif di gerejanya, ia sangat mencintai agamanya. Karena itu Candra mesti berpikir dua kali jika harus memiliki pasangan yang tidak seiman.

Suasana damai, wajah ceria, bibir tersenyum namun hati TIDAK.

Selama pindah ke kelas baru, Anhi merasakan ada sesuatu yang hilang. Ada rasa rindu meronta dalam kalbunya. Kadang hati berkata, “aku merasa kesepian ditengah keramaian, aku merindukan dia yang selalu menciptakan onar dan aku kehilangan dia yang selalu menoreh duka.”

Di kelas yang berbeda, ada perasaan yang sama, kesepian, kerinduan dan kehilangan sosok gadis yang jadi boneka permainannya. Bayu tak memungkiri perasaan yang dimilikinya. Membully dan menjahili Anhi sebenarnya bentuk sebuah rasa yang tidak akan dipahami orang lain.

Bayu sering kali curi-curi pandang jika lewat di depan kelas Anhi, tangan dan mulutnya serasa gatal ingin menggoda gadis itu. Terkadang ada perasaan geram jika mata Bayu melihat Candra bagaikan malaikat pelindung bagi Anhi jika dirinya hendak mendekati Anhi.

Bayu sedikit jaga jarak, menahan rindunya ingin membully Anhi karena ingat ancaman kepala sekolah sekaligus papahnya hendak mengirim dia ke Surabaya jika berbuat onar lagi. Bayu belum siap jika harus dilempar ke Surabaya, sebuah sekolah asrama yang baginya bagaikan penjara.

Bayu melihat Anhi duduk sendiri di bawah pohon oak, tempat kesukaannya jika sedang menyendiri, gadis itu sedang menikmati bekal makan siangnya. Bayu menyunggingkan senyum melihatnya, namun kali ini bukan senyum sinis dan jahil, ada rasa yang berbeda. Entahlah Bayu sendiri tidak tahu.

Dengan langkah ragu Bayu menghampiri Anhi yang tidak menyadari kehadirannya. “Eheemm.”

Anhi terlonjak kaget mendengar suara deheman yang sangat dikenalnya. Gadis itu langsung berdiri, wajahnya memucat seketika, “Bayu,” desisnya.

Bayu melihat raut ketakutan di wajah Anhi, ada rasa bersalah di hati Bayu melihat sikap Anhi yang takut didekati olehnya. Bayu jadi bingung, ada apa dengan perasaannya? kenapa ia jadi salting dan punya rasa iba seperti ini. Bayu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.

Anhi hendak berlari menghindari Bayu, namun tangan Bayu membantang menghalangi langkahnya, “tunggu! eehh … maksudku tidak usah lari. Aku tidak akan mengganggumu,” kata Bayu sambil menurunkan tangannya yang tadi dibentangkan.

Anhi mengrenyitkan dahi. Apa ia tidak salah mendengar, atau Bayu tiba-tiba sembuh dari penyakit jahilnya? atau jangan-jangan Bayu kesambet jin penghuni pohon oak. Jika iya kesambet, itu sangat berbahaya berarti Bayu harus diruqiah. Eehh … tapi Bayu kan kristen apa mempan kalau diruqiah.

“Segitu amat kau melihatku?” sentak Bayu membuyarkan lamunan gadis yang berdiri di depannya.

“Eehh … m-maaf. Ka-kau mau apa?” tanya Anhi setelah menguasai kesadarannya.

“Aku mau istirahat bareng kamu. Ayo sini!” ajak Bayu sambil menarik tangan Anhi kembali duduk di akar pohon.

Anhi tidak menolak saat tangannya ditarik Bayu. Anhi merasa mimpi, andai ada yang mencubitnya dengan keras ia akan tahu ini mimpi atau bukan.

“Bisakah kamu berhenti menatapku dengan tatapan aneh seperti itu,” ujar Bayu merasa jengah dengan tatapan heran Anhi yang berlebihan.

Anhi buru-buru menunduk menyadari kesalahannya terlalu lama menatap wajah Bayu. Wajah Anhi bersemu merah karena malu.

“Aku lapar,” ucap Bayu, terdengar konyol.

“Memangnya kau belum makan?” tanya Anhi.

Bayu menggeleng, “aku mau makananmu,” timpal Bayu, tangannya terulur hendak mengambil makanan yang ada digenggaman Anhi.

“Ini milikku,” sergah Anhi menjauhkan tempat makanannya dari jangkauan tangan Bayu.

“Pelit amat sih. Makananmu kan banyak, bagi dikit ga bakal bikin kamu kurus.”

“Tapi ini milikku yang sengaja mamah buatkan untukku. Kalau kamu mau, kamu bisa beli sendiri di kantin Bu Emi,” kata Anhi sambil mendelikkan matanya.

“Aku mau punyamu, siniin gak?” paksa Bayu tangannya terus menggapai ke arah Anhi.

Bayu mencoba merebut tempat makanan punya Anhi, keduanya saling tarik menarik tempat makan. Sekali sentak tempat makanan itu berpindah ke tangan Bayu, tarikkan Bayu yang kuat mengakibatkan tubuh Anhi ketarik dan terjerembab kedalam pelukan Bayu. Sesaat mata keduanya beradu, riak panas dan rona merah menjalar di wajah keduanya.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here