Love Story Anhi #05

0
45
views

“Bayuuuu …!!!” teriak Anhi dan Tia dengan wajah merah padam.

“Sorry … tidak sengaja …” seru Bayu enteng dengan ekspresi datarnya. Matanya menatap tajam bergantian ke arah Anhi dan Candra.

Candra melempar kembali bola volly ke arah Bayu dengan tenaga penuh, dan langsung ditangkap Bayu. Candra mengepalkan tangannya menghampiri Bayu.

Buugghh ….

“Kau benar-benar keterlaluan …” seru Candra sambil meninju rahang Bayu sampai terhuyung.

Dengan tatapan nyalang, Bayu balas menyerang Candra melayangkan tinjunya. “Brengsek, aku sudah bilang tidak sengaja,” geram Bayu tidak mau kalah.

Keduanya saling adu jotos, area halaman sekolah jadi riuh sorak sorai dari para siswa siswi yang menonton. Anhi dan Tia hanya bisa saling teriak.

“Bayu … Candra … hentikaaaan …!!” seru Anhi dengan wajah ketakutan melihat kedua saudara sepupu itu saling baku hantam.

“Berhentiiii …!!!”

Suara serak dan berat menggelegar menghentikan aksi Bayu dan Candra. Baju seragam keduanya dicekal kanan kiri oleh sebuah tangan kekar. “Kalian ini apa-apaan, Aah …?” seru Pak Rudin salah satu guru yang terkenal cukup galak.

Bayu dan Candra saling mendengus membuang muka.

Pak Rudin menggelengkan kepala, melihat tingkah dua saudara sepupu yang tidak akur ini. Dan sering kali mereka menciptakan perang di sekolah, pemicunya tidak salah, pasti tentang Anhi yang diganggu Bayu.

“Ayo, ikut saya menghadap kepala sekolah,” kata Pak Rudin, tanpa melepaskan cekalan tangannya di baju Bayu dan Candra.

****

Kepala sekolah Yohan, menatap tajam kedua murid sekaligus putra dan keponakkannya yang duduk di kursi pesakitan, begitulah murid-murid menyebutnya jika sedang berhadapan dengan guru atau kepala sekolah kalau sudah berbuat onar.

“Kalian benar-benar selalu membuat malu sekolahan ini dengan tingkah kalian-” Pak Yohan menjedakan kalimatnya, “sampai kapan kalian akan terus seperti ini, aah …?” lanjutnya dengan suara tegas dan garang.

Candra menundukkan wajahnya tidak berani menatap wajah Omnya yang merah padam karena marah. Sedang Bayu terlihat cuek memainkan tali sepatu yang kakinya diangkat ditumpangkan pada paha satunya.

“Apa masalah kalian harus selalu diselesaikan dengan perkelahian? apakah masalah Anhi lagi?” tanya Pak Yohan masih dengan suara tegasnya.

“Jawab …!” seru Pak Yohan sambil menggebrag meja.

Dua pemuda yang terlihat lusuh itu terlonjak, namun mulutnya tetap bungkam.

“Jangan bisanya koar-koar di luar dan membuat seisi sekolah malu dengan tingkah kalian. Kalian sudah dewasa bukan anak TK, mengerti kalian, Bayu, Candra …!” Pak Yohan melihat anggukkan dikedua kepala pemuda didepannya.

“Kalian akan segera menghadapi ujian kenaikkan kelas, sibukkan kalian dengan belajar bukan berkelahi. Kalian memiliki otak pintar tapi kalian terlihat bodoh dengan sikap permusuhan kalian yang tidak ada akhirnya. Dan kau Bayu, papah sudah sangat malu dengan sikap kamu yang selalu membully Anhi. Mulai hari senin Papah pindahkan Anhi ke kelas Candra. Papah tidak mau mendengar lagi kau mengganggu gadis itu, atau papah pindahkan kamu ke sekolah di Surabaya.”

Bayu terkejut dengan ancaman Papahnya, “Pah, ini bukan sepenuhnya salah Bayu. Bayu sudah minta maaf lagi pula tadi Bayu tidak sengaja,” sanggah Bayu membela diri.

“Caramu minta maaf sungguh tidak sopan, dan kau pantas mendapat hukuman pindah sekolah ke Surabaya,” kecam Candra merasa gusar mendengar pembelaan diri Bayu yang tidak sesuai fakta.

“Kau-”

“Cukup … sudah selesai perdebatan ini. Papah tidak tahu apa masalahmu dengan Anhi begitu juga denganmu Candra. Pokoknya mulai senin Anhi pindah ke kelas dua IPA, dan kau tidak boleh lagi menganggunya. Sekarang masuklah ke kelas kalian masing-masing.”

Bayu dan Candra tak membantah langsung bangkit dari duduknya dengan gerakkan lesu.

“Tunggu …!”

Kedua pemuda itu menghentikan langkahnya dan kembali berdiri menghadap Pak Yohan.

“Kalian belum saling meminta maaf.”

Keduanya saling berpandangan lalu kembali membuang muka enggan bertatapan. Melihat itu Pak Yohan menggelengkan kepala, dua-duanya kepala batu.

“Jika kalian tidak saling minta maaf, kalian berdua akan di pindahkan ke Surabaya.”

Bayu dan Candra kembali saling menatap, “maaf,” sahut keduanya bersamaan, lalu kembali memalingkan wajah ke arah lain dan segera pergi ke kelasnya masing-masing.

Pak Yohan tersenyum geli melihat tingkah putra dan keponakannya itu. “Dasar ABG,” gumamnya.

****

Anhi memasuki kelas barunya, senyum manis terukir di bibirnya. Anhi celingak celinguk mencari bangku kosong untuk ia tempati.

“Hai … Anhi sini!”

Anhi menghampiri murid perempuan yang memanggilnya, “hai Ela,” sapa Anhi.

“Sini, kamu duduk sama aku aja,” kata gadis yang bernama Ela sambil menepuk bangku yang akan di tempati Anhi.

“Makasih ya, La.”

“Eheem.”

“Candra.” Anhi melirik ke arah suara deheman milik Candra.

“Semoga kamu betah di kelas ini,” ucap Candra sambil melenggang menuju bangku duduknya tepat di belakang Anhi.

“In Syaa Allah,” balas Anhi.

Meskipun Candra nasrani tapi ia paham makna dari In Syaa Allah yang diucapkan Anhi.

Anhi tidak sengaja melirik ke arah pintu, hatinya berdebar saat mata Anhi melihat Bayu lewat di depan kelas barunya.

“Bayu,” bisik hati Anhi.

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here