Love Story Anhi #04

0
704
views

Waktu menunjukkkan pukul 10.30 malam, Anhi terlihat gelisah. Sulit untuk memejamkan mata. Jadinya guling kanan guling kiri, seolah ada masalah rumit yang sedang mengganggu pikirkannya.

Anhi mengutuk kantuk yang tak kunjung datang, apa lagi besok ia harus berangkat pagi sekali karena bagian piket. Anhi terus memikirkan kepindahan kelasnya nanti hari senin, itu berarti ia mempunyai waktu satu hari lagi besok, sekelas dengan Bayu juga Tia sahabatnya.

Anhi sedikit menyesali sikap Candra yang terlalu perhatian dan ambil keputusan dengan cepat, walaupun sisi lain hati Anhi berterima kasih pada Candra bahwa ia bisa terhindar dari kejahilan Bayu.

Tapi, ia harus jauh dari Bayu. “Yaa Allah, harusnya aku bersyukur Candra memindahkan aku ke kelasnya, itu berarti aku terhindar dari bullyan Bayu. Tapi kenapa hatiku gelisah takut jauh dari Bayu. Astaghfirullah ada apa dengan hatiku,” racau Anhi dalam gelisahnya.

“Aku tidak boleh menyukai Bayu ataupun Candra. Mereka tidak seiman denganku.” Anhi mengkhayalkan dua wajah tampan dengan sifat yang jauh berbeda.

Bayangan wajah teduh Candra tertutup bayangan wajah sinis Bayu. “Bayu, kenapa kau jahat padaku,” bisik hati Anhi.

Malam semakin larut, akhirnya rasa ngantuk menyapa mata Anhi. Perlahan Anhi mulai melelapkan tidurnya berselimutkan gelisah.

****

“Anhi … bangun Nak! sudah subuh, sholat dulu …” seru Mamahnya Anhi sambil mengetuk pintu.

Anhi tak mendengar seruan mamahnya, malah semakin tenggelam dalam gulungan selimut.

“Anhi, bangun …! sholat subuh dulu, nanti keburu keduluan matahari,” Mamah Anhi mengguncang tubuh putrinya.

“Bentar lagi, Mah,” rengek Anhi didalam selimut.

“Eehh … ini sudah pukul lima, sebentar lagi matahari terbit. Ayo cepat, sebelum diseret papahmu,” kata Mamah Anhi sambil menarik selimut yang menutupi tubuh putrinya.

“Iya, iya ini juga mau bangun, Mah.” Dengan malas Anhi beranjak dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi dengan langkah terantuk-antuk.

Anhi menatap pantulan dirinya di cermin, tangannya sibuk menyatukan rambut untuk diikat seperti ekor kuda. Setelah beres bersolek tak perlu molek yang penting tidak telihat jelek.

“Mah … Anhi berangkat dulu,” seru Anhi setelah beres mengenakan sepatunya.

“Sarapan dulu, Nhi,” balas Mamahnya dari arah dapur.

“Sarapannya di sekolah saja, Mah. Anhi sekarang bagian piket, takut kesiangan. Anhi berangkat ya Mah, Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumsallam, hati-hati, Nhi.”

“Iya, Mah …” seru Anhi sambil berlari kecil menuju jalan raya, kebetulan ada angkutan umum langganan sudah menunggunya.

****

Anhi melangkahkan kakinya di koridor sekolah. Suasana sekolah masih sepi, belum banyak siswa siswi yang berdatangan.

“Anhi ….”

Anhi menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Gadis itu tersenyum lebar melihat Tia sedang berjalan cepat ke arahnya.

“Pagi sekali kau datangnya?” tanya Tia sambil merangkul pundak Anhi. Mereka berjalan beriringan.

“Aku tidak mau dihukum seperti sabtu kemarin. Gara-gara terlambat piket, ketiban piketan orang lain, kamu sendiri ga mau bantu,” timpal Anhi dengan bibir dikerucutkan.

Tia terkekeh melihat bibir Anhi yang di kerucutkan terlihat lucu, “tenang saja, kali ini aku akan membantumu.”

“Ya, iyalah, kamu dan aku sama-sama bagian piket sekarang, kok.”

Tia tertawa ngakak, ” kirain kamu ngga inget, kalau sekarang aku bagian piket bareng kamu,” cibirnya.

“Uuhh … dasar dodol ….”

“Pagi Anhi, Tia,” sapa Candra sambil menghampiri Anhi dan Tia yang sedang duduk menikmati jajanan yang mereka beli setelah selesai piket.

Anhi menyempatkan membeli sarapan sebelum bel masuk, mengingat di rumahnya tadi ia tidak sempat mengisi perut.

“Pagi juga, Can,” balas Anhi dan Tia bersamaan sambil menggeser duduk memberi tempat untuk Candra.

“Jangan lupa nanti senin jangan sampai salah masuk kelas,” kata Candra mengingatkan.

“In Syaa Allah, tidak akan lupa,” jawab Anhi menganggukkan kepalanya.

“Maksud kalian apaan? kenapa Anhi mesti di ingetin masuk kelas, kan sudah biasa.” Tia mengernyitkan dahi heran dengan ucapan Candra dan Anhi.

“Maaf Tia, aku belum cerita sama kamu. Mulai hari senin aku pindah kelas.” Anhi memandang Tia dengan tatapan sedih.

“Apaaa …? kok kamu ga bilang-bilang sama aku,” ujar Tia sewot sekaligus terkejut mendengar kepindahan kelas sahabatnya.

“Jangan dulu sewot, aku yang meminta Anhi supaya pindah ke kelasku,” sanggah Candra menjelaskan.

“Iya, tapi kenapa harus pindah?” protes Tia.

“Aku tidak mau Anhi jadi bulan-bulanan Bayu. Aku tidak mau saudara sepupuku itu terus mengganggu Anhi.”

Tia mulai memahami maksud Candra, ” iya juga sih. Lebih baik seperti itu memang, biar si Bayu tidak bully kamu terus,” ujarnya dengan nada pasrah berpisah kelas dengan sahabatnya.

“Makasih ya Tia, kamu sudah dukung aku,” ucap Anhi sambil mengusap bahu Tia.

Tia tersenyum tulus, “aku mendukungmu, karena aku tidak mau kau diganggu terus sama si biang onar.”

Bruuggh ….

“Aawww ….”

“Aduuhh ….”

Sebuah bola basket melayang ke arah Anhi dan mendarat tepat di rok seragamnya mengakibatkan makanan yang digenggam Anhi tumpah semua mengenai seragamnya.

Semua mata memandang ke arah si pelempar bola

“Bayuuuu …!!!”

Baca selanjutnya

Baca halaman sebelumnya

Prolog

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here