Love Story Anhi #01

0
207
views

Warung Bu Emi terlihat riuh seperti biasa di jam istirahat. Siswa siswi saling berlomba memesan berbagai makanan dan minuman, siapa cepat dia dapat itu lah yang tepat menggambarkan situasi dalam kantin tersebut.

Sering kali si pemilik kantin kewalahan melayani para murid yang istirahat, meskipun sudah dibantu suami dan anaknya. Namun hal tersebut sudah biasa malah membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarga Bu Emi.

Pembeli adalah raja harus dilayani dengan sabar, meskipun kalian tahu bagaimana riwehnya anak sekolah. Namun seperti inilah sumber rezeki keluarga Bu Emi mengalir.

Selain Kantin Bu Emi, ada juga pedagang yang lain, menjajakan berbagai macam jajanan, tanpa harus saling bersaing siapa yang paling laku. Mereka sadar rezeki sudah ada yang ngatur tanpa perlu menarik simpati pembeli apa lagi merebut hak orang lain.

Di sebuah bangku kantin agak di sudut, Anhi asyik menikmati menu istirahatnya, bakso Mang Komar langganannya. Di sebelahnya duduk Tia, sahabat dekat Anhi.

Suasana Kantin yang cukup luas dan terbuka ini semakin heboh dengan kedatangan Tiga Biang Onar, begitulah Anhi dan yang lain menyebutnya. Siapa lagi kalau bukan, Panca, Dion dan Bayu sebagai ketua dari dua kunyil tersebut.

Kepala Bayu celingak celinguk mencari bangku kosong. Bayu mencari tempat yang sesuai dengan keinginannya. Pemuda itu melengkungkan sebelah sudut bibirnya membentuk senyum miring begitu melihat Anhi berada di bangku pojok.

Entah kenapa Bayu sangat menyukai menggoda gadis manis satu itu, bahkan tak bosan selalu ingin membullynya.

“Minggir … minggir … minggir kau! ini tempatku,” seru Bayu dan teman-temannya sambil menarik baju seragam murid yang duduk bersama Anhi, supaya menyingkir agar tempatnya bisa di duduki mereka.

Tak ada yang berani membantah, semua mengalah menyingkir dari usiran Bayu dan temannya.
Anhi dan Tia mendelik tidak suka dengan sikap si tiga biang onar itu.

“Eehh … bisa ngga sih kalian ngga mengganggu ketenangan orang lain,” bentak Tia.

“Emang masalah buat kamu, suka-suka aku lah …” timpal Bayu sambil menaik turunkan alisnya pada Anhi dengan sikap dibuat genit.

Anhi berdecak pelan menanggapi sikap genit Bayu. Bayu sangat menyebalkan, sering membullynya, dan tak segan sering membuatnya menangis karena keusilannya yang kelewat batas. Namun sisi lain hati Anhi ada desiran halus yang Anhi sendiri tidak tahu apa arti desiran hatinya itu.

Bayu memang tampan dengan potongan rambut sedikit di mowhawk, kulitnya putih, dengan mata agak sipit namun menyorot tajam. Badannya tinggi tegap. Siapa yang tidak mengenal Bayu Ketua kelas, si Kapten basket anak dari kepala sekolah SMA Yudha Bakhti, sekaligus salah satu donatur terbesar di sekolah tersebut.

Mungkin merasa dia adalah anak dari kepala sekolah, anak dari orang yang cukup terpandang, sifat arogan dan usilnya ia manfaatkan, karena tak ada seorangpun yang berani macam-macam. Siapa juga yang berani melaporkan keonaran anak pemilik sekolah, sama saja mencari masalah sendiri.

Kepala sekolah sekaligus Ayah dari Bayu, sangatlah tegas, tidak membedakan murid manapun, termasuk anaknya sendiri. Tak segan Pak Yohan menghukum Bayu dan temannya, jika ada laporan dari murid yang berani melapor tentang ulah tiga konco biang onar itu.

“Hei … itu milikku!” seru Anhi sambil menyambar gelas minuman yang di seruput Bayu.

Bayu menangkap tangan Anhi yang hendak menyambar gelas minumnya. Bayu menggenggam kuat tangan Anhi tanpa menghentikan seruputannya.

“Lepaskan …!” Anhi menepiskan tangan Bayu agar terlepas dari pergelangannya. Bukan terlepas malah semakin kuat.

Anhi mulai meringis kesakitan. “Lepasin tanganku! sakit tau …!”

“Sorry, apa aku menyakitimu?” kata Bayu dengan nada lembut.

Jantung Anhi berdegup kencang mendengar suara lembut Bayu yang tidak biasa. Panca dan Dion saling berpandangan, merasa ada yang aneh dari sikap Bayu.

“Jangan-jangan, gara-gara minum, minuman punya Anhi,” bisik Panca pada Dion.

Dion mengangguk setuju dengan ucapan Panca, “minumnya dikasih jampi, kayanya si Anhi tau minumannya bakal di sambar Bayu, makanya sempat di kasih jampi,” balas Dion sambil berbisik pula

“Eehh … ngapain kalian bisik-bisik tetangga segala, kaya emak-emak kurang kerjaan,” sentak Tia, sedikit mendengar bisikkan duo konconya Bayu.

Bayu menarik tangan Anhi, sontak badan Anhi condong ke depan begitu juga badan Bayu. Wajah mereka saling berdekatan, mata Bayu menyorot tajam mata Anhi.

Di tatap sedemikian rupa jantung Anhi serasa mau copot dari tempatnya. Wajahnya merah melebihi udang direbus, matanya membelalak tidak percaya dengan sikap spontan Bayu yang menarik tangannya hingga tubuh dan wajahnya bisa sedekat ini dengan Bayu.

“K-kamu mau a-apa?” tanya Anhi gugup tingkat dewi.

“Ternyata kau cantik juga kalau di lihat dengan jarak sedekat ini.”

Blushing. wajah Anhi serasa panas, perutnya serasa di hinggapi banyak kupu-kupu.

Semua mata memandang ke arah Bayu dan Anhi sambil menahan nafas. Moment seperti itu sangat langka. Bayu yang super jahil dan Anhi yang super benci dengan ulah Bayu, seperti sedang saling mengungkapkan perasaan dengan romantis.

“Tapi …!”

Suara Bayu begitu lembut menggelitik telinga Anhi.

“T-tapi apa?” tanya Anhi semakin gugup tak kalah lembutnya.

“Matamu banyak kotorannya, sepertinya kau tidak pernah cuci muka, uueekk …” ucap Bayu, sambil menyentilkan jarinya di kening Anhi.

“A-apaaa …?”

Geerrrrr …

Seluruh kantin riuh, terbahak dengan ulah Bayu, semua penonton tertipu dengan sikap romantis Bayu.

Panca dan Dion tertawa terpingkal-pingkal.

“K-kamu … keterlaluan,” desis Anhi, air matanya mulai meleleh. Anhi berlari ke luar kantin saking malunya, sambil mengusap air mata dengan kasar.

Baca selanjutnya

Prolog

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaMy Bos… I Love U #40
Berita berikutnyaMy Bos… I Love U #41
Jadikan imajinasi kita membawa kesuksesan dalam bentuk tulisan yang bisa membawa hati para pembaca merasa berada dalam dunia yang kita ciptakan. Jika kita bermimpi jadi seorang penulis wujudkan tanpa ragu dengan kerja keras kita, dengan imajinasi kita untuk pencapaian yang terbaik bagi seorang penulis. Tak ada yang tak mungkin jika Tuhan menghendaki.
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here