LIEFDE (Cinta)

0
265
views

Mata lentiknya terus saja memperhatikan sosok itu, bola matanya mengikuti alunan tawa tatapannya dan tanpa ia sadari lengkung senyum ia hadirkan.

“Ganteng ya?”

“Banget…” jawabnya spontan dengan tetap terus terfokus ke tengah lapangan

“Ingat! Astagfirullah jaga pandangan Arsilah.” perempuan berkerudung panjang itu tersentak dan segera menundukkan pandangannya mengucap istigfar beberapa kali

“Kamu tuh ya, saking sukanya sama Kak Farhan natap segitunya. Mending pacaran aja sana sama dia!”

“Kamu apaan sih! Pacaran apanya? Kamu mau nanggung dosa aku kalau pacaran sama Kak Farhan!” gerutunya, kemudian berlalu meninggalkan sahabatnya itu

“Silah! Saya bantuin kamu deh, nembak Kak Farhan”ucapnya menggebu-gebu sambil mensejajarkan langkahnya dengan Arsilah

“Nembak? Kamu mau ditangkap polisi ya” perempuan berambut sebahu itu mengerutkan keningnya, bingung.

“Kok polisi! Kitakan bahas tentang Kak Farhan”

“Katanya kamu mau bantu aku nembak Kak Farhan, emang enggak takut apa ditangkap polisi? Nanti kalau Kak Farhan mati gimana, lagian Syifa? Kamu punya pistol”

Perempuan bernama Syifa itu menepuk jidatnya,

“Ya Allah,kenapa saya harus punya teman sepolos ini.”ucapnya frustasi sambari menegakkan tangannya layaknya berdoa sehabis shalat.

“Kamu gila Syifa! Masa mau nembak Kak Farhan!” setelah mengucapkan itu Arsilah meninggalkan sahabatnya itu sendirian.

Sedangkan Syifa hanya menggelengkan kepalanya dan melanjutkan langkahnya menuju kelas.

****

“Han, lo engga ngerasa gitu perempuan berjilbab panjang itu kayaknya suka deh sama lo,” ucap laki-laki bernomor punggung 15 pada laki-laki bernomor punggung 02

“Ngerasa sih, cuman gue bodoamatlah dari penampilannya aja dia engga pantas banget buat gue, taulah gimana sikap dan kelakukan gue. Entah mengapa rasanya engga pantas gitu ngarepin perempuan se-sholehah dia,” jelasnya sambari memantulkan bola ke lapangan.

“Sejak kapan lo jadi nilai sendiri kayak gini biasanya engga perduli soal beginian. Jangan bilang lo ada rasa sama dia? Siapa sih namanya tuh perempuan kayaknya gue harus cari tau.” sedang yang ditanya hanya diam tak menjawab pertanyaan temennya membuat segerombolan laki-laki disana menatapnya penuh tanya.

“Gue ganti baju dulu setelah itu mau out. Gue mau sendiri,” setelah mengucapkan itu kakinya melangkah keluar lapangan menuju ruang ganti pakaian. Mengabaikan sorot tanya dari temannya.

“Itu  anak kenapa sih? Semenjak siswa kelas sepuluh tahun ini aktif belajar jadi berubah kayak gini. Apa ada hubungannya sama perempuan berjilbab panjang itu?”gumamnya sambari menatap satu persatu wajah temannya

“Enggak usah sok serius gitu deh yo, lo engga cocok banget jadi detektif bukannya ada gantengnya muka lo malah makin burik engga jelas.” sedang orang yang bernama satriyo hanya melototkan matanya mendengar ‘pujian’ tak berguna dari orang tersebut.

“Tapi engga usah pake hina gue segala dong, jangan mentang-mentang lo punya pacar selusin jadi asal ceplos kayak gitu. Dengar ya arjuna si playboy! Tobat wooii tobat, nanti kena karma lo” laki-laki yang bernama arjuna bukannya tersinggung dikatai seperti itu ia malah tertawa cengengesan ditempat.

Laki-laki lain yang ada diantara mereka hanya memutar bola matanya malas. Udah biasa, biasa.batinnya. melihat pertengkaran keduanya sepertinya masih ingin berlanjut ia memilih berjalan menjauh lapangan.

“Ehhh, Nando… Woii Nando! Ini semua gara-gara lo jun, si nando replikanya Farhan jadi ngambek”

“Kok malah gue sih, ya elo lah yo.”

“Elo.. ”

“Elo.. ”

“Kak.. Kak Nando menyuruh saya memanggil kakak. Katanya harus segera ganti baju terus masuk kelas” pertengkaran mereka dipotong oleh datangnya siswa diantara mereka.

“Eehh cantik, nama kamu siapa? Boleh minta nomornya engga?”

“Jangan peduliin dia dek! Diatu playboy pacarnya selusin dan dimana-mana kami permisi dek, ayo cepetan nanti nando ngamuk baru tau rasa lo” setelah melihat adik setingkatnya mengangguk laki-laki bernama satriyo itu menarik temannya menjauh.

****

“Syifa…. “

Perempuan berambut sebahu itu menoleh kebelakang dan menemukan sahabat polosnya sedang berlari kecil kearahnya.

“Pasti mau ngomong polos lagi.. “Gumamnya

“Kamu ngomong apa Syifa?” perempuan sebahu itu hanya menggeleng pelan sebagai jawaban, percayalah ia sudah sangat malas menanggapi ucapan Arsilah si polos ini.

“Temenin aku ketoko buku ya! Please. Janji deh besok kamu aku teraktir permen yupi 1000 deh” ucapnya senang seakan apa yang ia tawarkan adalah hal yang sangat berharga

“Apaan yupi, saya juga bisa belli kali, engga usah banyak omong deh saya mau pulang pengen istirahat, santai-santai di rumah Bukan malah jalan kesana-sini” ucapnya geram, percayalah Syifa sangat ingin melempar arsilah ke antartika sana

“Kalau engga mau yupi aku kasi kopiko deh! Aku tambahin 1000 jadinya 2000. Mau yaa.. Yaa..”

Perempuan bernama Syifa itu menghentikan langkahnya dan menatap tajam perempuan pendek dan mungil didepannya.

“Arsilah yang mikirnya lambat banget dan entah hidup dizaman apa! Dimana-mana temen nraktir temen itu ya bakso, pergi ke cafe atau nongki-nongki sana-sini bukan malah permen yupi atau kopiko!”

Arsilah hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, merasa sangat paham apa yang sahabatnya itu ucapkan. Melihat respon perempuan berwajah imut itu Syifa mengembuskan napasnya lega.

“Yaudah, nanti aku beliin bakso sebutir deh. Udah cukup kan?” ucapnya tenang dan menatap senang syifa

“Bodo amat silah, bodo amat. Saya engga perduli terserah lo aja. Saya mau pulang titik, jangan ngikutin saya atau kamu saya terkam!” setelah mengucapkan itu syifa berjalan menjauh dengan emosi menggebu.

“Syifa emang kamu singa pake terkam segala..aneh” teriaknya.

“Bodoamat. ” hanya perkataan itu yang arsilah dengarkan sebelum tubuh Syifa menghilang di belokan lorong sekolah.

“Arsilah… ” perempuan berkerudung hitam itu menoleh dan menemukan laki-laki yang beberapa jam lalu ia lihat ditengah lapangan, Farhan.

Ia sesegera mungkin menundukkan pandangannya dan melihat sepatu tali hitam yang sedang melekat di kaki laki-laki itu dan itu pertanda jarak mereka hanya beberapa senti saja.

“Boleh mundur engga kak? Kita terlalu dekat nanti jadi bahan gosip. Arsilah engga mau jadi bahan gosip engga jelas gitu” bukannya melakukan apa yang arsilah katakan Farhan hanya tertawa pelan. Merasa sangat terhibur dengan perkataan polos perempuan itu.

“Kalau saya engga mau?”

“Ya harus mau dong, karena… Ehh” arsilah memukul pelan mulutnya karena kelepasan bicara panjang lebar dan tidak sopan. Dan lagi ditanggapi senyuman kecil dari laki-laki penyebab jantungnya berdetak kencang saat ini.
“Kenapa belum pulang?”

“Maunya tadi langsung pulang tapi ternyata lupa mau ke toko buku dulu tadinya mau ngajak Syifa tapi dia katanya mau terkam aku” jelasnya dengan tatapan yang tetap menunduk kebawah sana.

“Yaudah, kamu langsung pulang ya! Titip salam untuk abi dan ummi kamu.” ucapnya lembut seakan yang diajaknya bicara adalah perempuan paling berharga untuknya.

“Iya kak, saya permisi assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh” tanpa melihat Farhan, arsilah berbalik dan berjalan dengan tergesa-gesa sangat mudah ditebak kalau saat ini perempuan itu sedang gugup.

Farhan hanya terdiam menatap tubuh perempuan mungil itu menjauh darinya, menatapnya seakan ada arti dalam tatapan kosong itu.

****

Lagi?

Matanya hanya menatap kosong rumah bagai tak berpenghuni ini, sesuatu yang begitu ia inginkan bahkan adalah hal yang paling mustahil terjadi mereka hanya menatap kepolosannya bukan kehidupannya dirumah.

Hatinya begitu ingin ada pelukan hangat saat kakinya melangkah kedalam rumah mewah ini, terdapat senyum teduh yang begitu menenangkan menghapus lelahnya menghadapi dunia luar.

Tetapi tidak, itu hanya teriaknya dalam hati sedang nyatanya selalu seperti ini. Abi dan umminya mempunyai kesibukan dunia luar mereka mempunyai sesuatu yang harus tetap dijalankan bagaimanapun keadaannya.

“Aku harus pergi, kabur dari rumah. Daripada berteman sepi terus-menerus” ucapnya lirih dan berjalan gontai menuju kamarnya.

Sesampainya dikamar ia menatap gamang koper yang telah ia sediakan subuh tadi, keputusannya untuk pergi sudah difikirkan dengan matang dengan seperti ini maka mereka bisa bebas melalukan apapun yang mereka mau.

Tanpa mengganti seragam sekolahnya tangannya meraih koper tersebut dan membawanya keluar, tak ada yang perlu arsilah takutkan abi dan umminya pasti pulang jam 10malam nanti.

Tepat didepan pintu ia berhenti sejenak, menatap sekali lagi rumah yang akan ia tinggalkan. Sangat intens dan menyimpannya rapat-rapat dalam memorinya untuk ia kenang dimasa depan.

Melihat mereka selalu bertingkah konyol dan banyak membuat lelucon bukan berarti hidupnya juga sebahagia itu, itulah seorang arsilah rasakan. Mulai umur 9 tahun sampai berumur 16 tahun temennya hanya sepi.

Tingkah polos yang dirinya perlihatkan hanyalah bangunan kokoh ia bangun agar tak ada yang bisa menarik mereka mengetahui seluk beluk kehidupan sebenarnya seorang arsilah. Si polos jika diluar rumah dan si rapuh jika sudah dalam rumah.

Syifa, perempuan itu sungguh membuatnya merasa sangat diinginkan. Memperdulikannya seakan syifa adalah berlian, walaupun sikapnya yang sangat pemarah dan cuek secara bersamaan tapi arsilah nyaman. Sikap perempuan yang katanya sahabatnya itu membuat fikirannya bisa teralih dari kesepian tanpa ujung ini.

Farhan, laki-laki yang berhasil menghadirkan keinginan dalam hati arsilah  yang dulunya tidak mempunyai makna apapun kini sedikit berharap bahwa dimasa depan nanti laki-laki itulah yang menjadi imamnya, panutannya serta pembimbingnya menuju jalan Allah dan jannah-Nya.

“Aku pergi ummi, abi. Semoga kepergianku bisa meringankan beban dalam keseharian kalian”

Kakinya menjauh, dengan kemantapan hati dan pertimbangan ia memilih melepaskan segalanya dan memulai kehidupan baru diluar sana tanpa seorangpun disisinya.

“Arsilah, kau boleh ikut denganku jika mau dan aku akan menunggumu di bandara sore ini. Lekaslah datang” -someone

Pesan itu ia baca kemarin malam, dan kini selamat datang kehidupan baru.

****

“Han, Lo masih mencari arsilah sampai saat ini? Udah jalan 5 tahun tapi belum ada tanda-tanda sama sekali” tanyanya pada laki-laki berkemeja biru didepannya.

“Ortunya ngarep banyak sama gue dan lagi? Hati gue yakin dia masih ada di negara ini”

“Tapi han, Indonesia itu luas, apalagi…. ”

“Udahlah yo, inikan maunya Farhan kita sebagai sahabat hanya perlu dukung dia” melihat farhan yang sangat terlihat frustasi, arjuna memotong ucapan satriyo agar tidak membahas masalah arsilah terus-menerus.

“Tumben lo jadi sok bijak jun” sindir satriyo

“Guekan udah mau tobat yo, apalagi syifa itu susah percaya sama gue makanya sebelum syifa menghilang kayak arsilah….ups” arjuna sesegera mungkin menutup mulutnya dan tertawa cengengesan saat Farhan menatapnya tajam.

“Sorry han, sorry” ucapnya memohon

Tidak ada respon, farhan hanya mencoba berfikir kemana lagi ia harus mencari arsilah sedang pencariannya selama 5 tahun ini nihil. Seakan perempuan itu benar-benar menghilang entah kemana.

“Ya halo, kenapa? ….oh yaudah saya kesana sekarang. Oke” farhan menoleh dan menatap satriyo yang sedang bersiap-siap ingin pergi.

“Guys gue pamit dulu. Kapan-kapan kita kumpul lagi. Byee arjuna jangan kangen” arjuna hanya menampakkan wajah jijik mendengarkan perkataan satriyo sedang laki-laki berkaos oblong navi itu tertawa kecil sambil berjalan keluar ruangan.

“Jun, lo benar-benar udah serius sama syifa. Jangan mainin anaknya org tobat dong. Nanti lo kena karma lagi” farhan menatap arjuna setelah mendengarkan pertanyaan Nando yang sadari tadi diam kini bersuara dan hanya menanyakan soal keseriusan arjuna terhadap sahabat arsilah, syifa.

“Kali ini gue bicara dengan tegas. Perasaan gue terhadap syifa benar-benar perasaaan suka bahkan gue udah Cinta banget sama dia. Entahlah bagaimana ini bisa terjadi playboy kayak gue bisa jatuh Cinta sejatuh-jatuhnya sama perempuan bar-bar kayak si syifa itu. Tapi gue engga nyesel atau apapun itu  gue malah bersyukur bisa dipertemukan sama dia”

Farhan berdiri dan menepuk pundak arjuna dua kali, sebagai tanda merasa bangga atas perubahan sahabatnya itu kearah lebih baik seperti ini.

“Kalian boleh pergi, gue mau ke rumahnya Arsilah dulu”

Nando dan arjuna hanya mengangguk mendengarkan perkataan farhan. Dan mereka berjalan keluar dari ruangan kerja farhan sebagai pemilik cafe yang sebelumnya milik ayahnya.

Melihat kepergian kedua sahabatnya farhan segera merapikan meja-nya dari berkas hasil laporan cafe milik ayahnya hari ini. Setelah wisuda setahun lalu ayahnya langsung menyuruh farhan mengambil alih usaha milik keluarganya, penopang hidup mereka.

Farhan bukan orang kaya tetapi Juga Bukan orang tidak berada, bisa dikatakan cukup imbang dalam keuangan. Tetapi selaku anak sulung farhan juga harus tetap bekerja agar kehidupan keluarganya tetap dalam kondisi stabil.

Melihat jam yang melingkar ditangannya menunjukkan jam 8 malam farhan segera bergegas keluar dan hanya menampakkan senyum simpul kepada tiap pegawai yang berpas-pasan dengannya.

****

“Apa belum ada niat untukmu menampakkan diri dihadapan mereka? Kulihat farhan sudah cukup frustasi mencarimu selama 5 tahun ini sedang ibumu sudah seperti mayat hidup sejak kepergianmu tanpa kabar sama sekali” tak ada jawaban, dan orang yang diajaknya bicara hanya terdiam tanpa ada niat sama sekali untuk menjawab perkataan itu.

“Aku merasa kasihan dengan ibumu, kulihat dialah yang paling terpukul sejak hilangmu secara mendadak. Mereka sibuk juga untukmu bukan karena tidak sayang padamu tapi pekerjaannya-lah menuntut untuk sesibuk itu” jelasnya lagi, mencoba memberikan pencerahan pada perempuan berkerudung tosca yang berjarak 2 meter darinya.

Untuk mengatakan kata sebijak ini bukanlah dirinya sendiri, terbiasa menggunakan bahasa santai adalah kebiasaannya tetapi saat bersama perempuan sederhana didepannya ia rasanya harus sopan.

“Tidak perlu mengurusku, urus saja perasaanmu terhadap syifa!” setelah beberapa detik terdiam akhirnya arsilah mengeluarkan suaranya dan mengucapkan kalimat yang tidak ada hubungannya dengan lawan bicaranya.

“Aku baru tau kalau arsilah si polos ternyata aslinya adalah orang yang lebih menyeramkan Dari syifa” sebagai jawaban arsilah hanya mendengus pelan dan tetap fokus pada tugas kuliahnya. Kebiasaan seorang mahasiswa yang tak pernah jauh dari kata tugas.

“Yasudah, aku mau ketemu syifa dulu. Oh iya si cintamu itu pergi ketemu calon mertuanya sekaligus mengabarkan kalau pencariannya belum mendapatkan hasil”

“Pergi arjuna, sebelum buku tebal ini mencium wajahmu dan kau akan ditertawakan di ruang perpustakaan ini” balasnya geram sambari tangannya meraih buku berjudul ‘SASTRA INDONESIA’ didepannya,

Arjuna yang melihat pergerakan itu segera menjauh dan berlari keluar perpustakaan. Setelah kepergian arjuna Arsilah menghembuskan napasnya lelah, 5 tahun lalu ia memutuskan ikut dengan arjuna beserta keluarganya ke london liburan tetapi itu hanya seminggu setelah itu kembali kejakarta tanpa sepengetahuan mereka. Bersembunyi dengan segala bantuan keluarga arjuna membuatnya bertahan selama 5 tahun.

5 tahun bukan waktu yang singkat untuk melewati semuanya sendiri, keluarga arjuna menawarkannya untuk tinggal dimension mereka tapi dengan tegas arsilah menolak dan memilih tinggal di apartemen .tentu saja ditanggung oleh keluarga arjuna.

Arjuna memang pernah menemukannya menangis ditaman dekat kompleks perumahan dan mendengarkan setiap perkataan yang arsilah lontarkan.

Dan beginilah sekarang dengan segala bantuan keluarga arjuna dan kecerdasan mereka menutupi identitasnya kini arsilah telah berada di semester 5 dan sebentar lagi menjalani masa paling sulit untuk seorang mahasiswa.

Melihat jam sudah menunjukkan jam 5 sore arsilah memutuskan pulang ke apartemen, setelah membereskan semua segalanya ia berjalan keluar tepat setelah langkahnya melewati pintu perpustakaan matanya membulat menatap seseorang yang sedang menatapnya dengan sorot kerinduan.

“kenapa bisa… ”

“Saya sudah sebulan ini mencurigai arjuna dan benar. Ia menyembunyikan seseorang yang paling saya cari selama ini. Kenapa arsilah, apakah perasaanmu kepada saya telah berpindah ke arjuna?”

“Kakak apaan sih, emang perasaan saya barang pake kata pindah-pindah segala.”

“Berhenti betingkah polos arsilah. Pulang dan lihat keadaan ibu kamu dan juga saya telah melamarmu” Arsilah bungkam, hanya bisa terdiam mematung ditempatnya.

“Apa arjuna yang …”

“Bukan. Tapi saya yang mengikutinya sampai disini dan benar, kau kuliah disini bahkan sembunyi dengan begitu hebatnya.” arsilah hanya mengembuskan napasnya lelah.

“Saya tidak bisa ikut kakak, maaf saya permisi pulang” arsilah berjalan menjauh tetapi perkataan farhan selanjutnya membuatnya mematung ditempat.

“Ummi kamu masuk rumah sakit”

****

Setelah melihat kondisi umminya disinilah arsilah sekarang, sedang menuggu farhan mengucapkan sesuatu yang katanya sangat penting untuk diucapkan.

“Kamu taukan tadi saya sudah mengatakan bahwa saya sudah melamarmu dihadapan abi kamu” arsilah hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Apakah kau menerimanya? Ia hanya menyuruh saya mendengarkan jawabanmu langsung arsilah jika kamu menerima maka mereka juga menerima begitupun sebaliknya” ada nada rendah saat farhan mengucapkan kalimat akhir itu. Membayangkan arsilah menolak dirinya adalah hal mengerikan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Apa kakak tau arti mencintai yang sesungguhnya? Apa kakak tau makna pernikahan? Kita harus pandai bahkan mempelajari kedua kata itu sebelum memutuskan menjalaninya. Kakak tau! Betapa mengerikannya sebuah pernikahan yang hanya dilandaskan modal kebersamaan. Pernikahan bukan hanya tentang bahagia, tawa atau sebagainya. Kita harus… ”

“Arsilah. 5 tahun tanpa kamu mengajarkan saya banyak hal baik dari tentang makna kehidupan ataukah arti dari keinginan diri saya sendiri” potongnya cepat. Farhan dapat merasakan ketakutan mendalam dari setiap kalimat yang perempuan itu katakan. Arjuna sudah mengatakan padanya alasan sahabatnya itu menyembunyikan arsilah selama ini.

“Cinta bukan hanya tentang dua hati yang saling mengatakan bahwa aku Cinta kamu atau perkataan sebaliknya. Cinta berisikan banyak hal bahkan logika sangat diperlukan untuk saling menyeimbangkan. Cinta adalah kata sederhana tetapi mampu mematahkan ego setiap orang. Cinta adalah fitrah dari sang kuasa agar kita mampu mengenali apa arti kenyamanan,patah, kecewa, luka, bahagia,bahkan jiwa kita sendiri… ”

“Tapi kak… ”

“Biarkan saya menyelesaikan perkataan saya arsilah. Cinta adalah harapan yang kadang orang selingi dengan keegoisan untuk menguasai perasaan orang lain. Dan apa yang saya lakukan saat ini adalah saya ingin egois memiliki kamu untuk saya pribadi, Cinta adalah batas kemampuan seseorang tetapi Bisa juga menjadi asal kelemahan seseorang” farhan memejamkan matanya sejenak. Meresapi setiap perasaan yang sedang bergejolak dalam dirinya.

“Pernikahan adalah jalur terbaik yang Allah hadirkan sebagai jalan keluar atas Cinta. Agar keegoisan dalam diri manusia tetap dalam batasnya, pernikahan bisa dijadikan jalur agar nantinya Cinta itu tetap dalam jalannya tdk berjalan menyimpang sehingga menciptakan hal yang tidak seharusnya. Saya menyesal andaikan dulu saat perasaan ini mulai tumbuh seharusnya saat itu saya langsung memintamu kepadamu abimu bukan malah memendamnya hingga saya harus melewati fase yang disebut patah” farhan terdiam menunduk. Mengingat kembali fase itu membuat perasaanya seakan abu-abu. Hampa. Dan terasa begitu diuji oleh jarak.

“Maka dari itu, biarkan saya menuntaskan keegoisan ini untuk memilikimu. Biarkan saya terbebas dari belenggu mencintai sesesak ini. Terima saya agar saya dapat membuktikan betapa nyatanya perasaan ini. Terima saya agar perasaan ini bisa saya salurkan padamu saat ikatan itu telah hadir. Dan bebaskan saya dari mencintai seseorang tanpa adanya sebuah ikatan. Bebaskan saya dari hal berujung dosa ini jika tidak dituntaskan segera” sekali lagi. Farhan mencoba meredakan emosi yang seakan ingin terluapkan.

“Tapi jika kamu tidak bisa menerima saya maka beritahu segera” kata itu adalah kata terakhir farhan menutup perbincangan yang cukup menguras emosi ini.

Keduanya sama-sama terdiam. Membiarkan orang lalu lalang dihadapan mereka, kondisi taman rumah sakit sepertinya sangat ramai saat ini tetapi mereka tidak perduli kedua insan yang sedang dibelenggu oleh sebuah perasaan masing-masing.

Farhan tersentak saat mendengarkan tawa seseorang, wajahnya yang sadari tadi menunduk kini menatap perempuan mungil didekatnya. Ia tertawa cukup lepas, seakan sebuah beban dalam dirinya baru saja terlepas bahkan pergi menjauh. Dia arsilah, perempuan yang berhasil meluluhlantakkan hati seorang farhan si badboy nakal beberapa tahun lalu.

“Terimakasih kak farhan, sudah mengajarkan aku bagaimana arti cinta yang sesungguhnya. Dari ucapan kakak aku bisa menyimpulkan bahwa perasaan kakak pada saya adalah keseriusan.”

“Jadi?”

“Kakak terlalu to the point yaa!”ucapanya sambari tersenyum geli

“Kau tidak tau ya, berapa lama waktu yang saya habiskan untuk mengendalikan perasaan menyebalkan ini”

“Iya, saya menerima kakak, tapi untuk acara lamarannya kita tunggu ummi keluar dari rumah sakit dulu. Yaudah saya masuk dulu kak mau ke kamar ummi. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ”

“Wa’alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh” jawabnya.

****

Mengenalmu, akhirnya aku tau bahwa Cinta bukan hanya tentang hati saja tetapi jika harus menghadirkan fikiran baik dalam meresapi setiap keegoisan karena Cinta.

Cinta itu mudah datang tetapi sulit untuk diterapkan.

-farhan-

~~~~ Ending ~~~

Note : konfliknya engga terlalu mencolok karena saya hanya mencoba menjelaskan kata Cinta melalui farhan & arsilah. Sesimpel itu.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here