Lia Si Pembantu Kecil #07

0
67
views

Setelah menginap semalam di rumah mami, keesokan paginya aku bangun dan mengerjakan pekerjaan seperti biasa. Menyapu dan membereskan rumah. Mami sudah bangun dan keluar kamar dengan keadaan rapi, lalu menyuruhku untuk mandi dan bersiap. Katanya aku akan diajak pergi ke suatu tempat.

Dengan menaiki mobil sewaan, Mami membawaku ke suatu tempat yang ramai, banyak orang-orang berlalu lalang dengan membawa tas besar dan koper. Rupanya ini adalah bandara, mau apa Mami membawaku kesini. Aku mulai cemas, keringat dingin menetes satu persatu membasahi keningku. Kemana Mami akan membawaku.

“Lia kamu nurut saja, semua akan baik-baik saja. Mami janji gak akan terjadi apa-apa sama kamu. Kita cuna jalan-jalan saja dan pastinya kamu akan dapat uang lebih banyak dibandingkan jadi pembantu kecil”.

Mendengar omongan Mami aku semakin cemas, apakah semua ini sudah direncanakan sebelumnya. Ya Alloh kumohon lindungi aku dari orang-orang yang berniat jahat.

Setelah menunggu kurang lebih satu jam akhirnya Mami mengajakku untuk masuk kedalam pesawat, entahlah pikiranku kacau sampai sekarang aku belum tau akan dibawa kemana. Haruskah aku lari dan meminta tolong kepada securuti yang ada disana. Atau aku diam saja menurut kepada Mami. Mungkin benar Mami tidak punya niat buruk kepadaku.

Entah berapa jam aku di pesawat, saat turun kulihat asing tempat disekelilingku. Banyak orang berkulit putih dan bermata sipit. Kalo bukan Cina, ini pasti Jepang, atau mungkin Hongkong. Sekitar lima belas menit kami menaiki taksi, lalu sampai disebuah tempat penginapan. Mami menyuruhku untuk beristirahat dan setelah itu mandi. Belum ada sesuatu yang aneh sampai saat ini. Aku mulai sedikit lega.

Aku benar-benar tidak pernah menyangka kalo gadis kampung sepertiku ini bisa sampai ke tempat ini. Untuk membayangkan saja aku tidaj pernah. Selesai mandi ku nyalakan televisi yang tersedia dikamarku, udaranya sangat dingin jauh berbeda dengan di indonesia. Tak lama, Mami masuk membawakanku semangkok mie rebus dengan aneka isian, ada telur, daging ayam dan udang. Aromanya sangat lezat, ditambah lagi udara yang dingin sangat pas untuk menyantap makanan berkuah seperti ini.

***

Keesokan paginya, Mami menyuruhku bersiap karna kita akan kembali ke Indonesia. Ah kenapa sesingkat ini liburanya, aku kan belum berjalan jalan lama disini. Menurut Mami kita kesini untuk jalan-jalan tapi ternyata ada sesuatu hal yang membuat kita harus segera kembali ke Indonesia. Ada yang gawat disana.

Sebelum menuju bandara, mobil berhenti disebuah rumah makan, mungkin itu yang sebut kafe. Kebanyakan dari tamu disini hanya memesan minuman saja. Mami menemui seorang pria bermata sipit yang ternyata sudah menunggu lama disudut kafe.

Pria itu memberikan dua puluh butir kapsul berukura besar kepadaku, lalu menyuruhku menelannya. Rasanya sedikit mengganjal di tenggorokanku. Setelah semua tertelan Mami cepat cepat mengajakku menuju bandara, yang ternyata jaraknya tidak jauh dari kafe itu. Di dalam pesawat fikiranku kacau, aku takut. Obat apa yang aku minum tadi. Apakah aku diracun, tapi kenapa aku tidak merasakan hal yang aneh kalo memang obat itu berbahaya. Atau setidaknya over dosis atau apalah.

***

Sesampainya di Indonesia, cepat cepat Mami mengajakku mencari mobil jemputan yang sebelumnya sudah pesan. Mobil dikendarai sangat cepat, dan setibanya di depan rumah Mami langsung menyuruhku untuk turun dan menuju kamar mandi. Rupanya semua benar benar sudah diperhitungkan oleh Mami, sesampainya dikamar mandi, perutku mulas dan aku ingin buang air besar. Mami melarangku buang air di kloset, dan justru menyuruhku untuk diam di kamar mandi. Rasa mulas diperutku sudah tak tertahan lagi, aku menurut saja, akhirnya kotoran dalan perutku keluar semua. Aneh sekali semua kapsul yang aku telan tadi masih utuh. Dan mami langsung menyuruhku untuk mengambilinya. Aku jijik, tapi mami mengancam kalo aku tidak mau melakukan itu dia akan menyakitiku. Sekarang mami menjadi jahat.

” Bos, semua berjalan lancar. Bocah itu melakukan tugasnya dengan baik”.

Kudengar pembicaraan Mami melalui telefon. Setelah itu Mami memanggilku dan memberikan uang satu juta kepadaku. Jumlah yang sangat banyak hanya untuk pekerjaan buang air besar di toilet. Belum ku tahu apa sebenernya tujuan Mami.

Seminggu kemudian bapak datang, tanpa sengaja ku dengar percakapan mereka.

“Besok Lia akan beraksi lagi, tapi kali ini aku yang berangkat, bisnis ini sungguh menguntungkan. Dari operasi kemarin aku dapat untung empat puluh juta”.

***

Setelah hari itu, setiap minggunya aku terus saja pergi keluat negeri bersama Bapak dan Mami. Kini aku tak lagi menjadi pembantu cilik, tabunganku juga sangat banyak. Bisa untuk kubelikan sapi dan juga kambing di desa. Tapi lama- lama aku mulai paham kalo yang aku lakukan ini tidak benar. Aku menjadi bagian dari bandar obat-obatan terlarang. Aku harus lapor polisi agar aku bisa berhenti dari pekerjaan ini. Walaupun punya banyak uang, rupanya ini tak membuatku jadi bahagia. Belum sempat aku mencari cara agar bisa lapor kepolisi, Mami sudah menjadwalkan kepergianku. Kali ini ada 30 kapsul yang akan aku bawa masuk ke Indonesia, upahku pun sudah diberikan. Tak sedikit, lima juta yang mami berikan kepadaku.

Mungkin ini adalah hari sial untuk kami, pesawatnya delay dan kami harus menunggu lebih dari tiga jam di bandara. Sesampainya di indonesia Mami langsung mengajakku masuk kedalam mobil yang biasa. Dalam perjalanan perutku terasa perih, rasanya berbeda dengan biasanya, aku tak merasa ingin buang air besar. Kugenggam erat tangan Mami dan meremasnya. Mami juga mulai panik, lalu menelfon Bapak. Sial… Ku dengar bapak menyuruh Mami meninggalkan aku begitu saja ditempat yang sepi. Kebetulan saat ini kami sedang di tol, tanpa fikir panjang Mami menyuruh pak sopir menepi dan menurunkanku begitu saja di bahu jalan. Inikah akhir kisahku sebagai pembantu kecil, keringat terus mengucur, tubuhku lemas mataku mulai berkunang kunang. Aku tergeletak di tepi jalan tol seorang diri hingga aku tak ingat lagi apa yang terjadi semua jadi terlihat gelap.

Kemungkinan salah satu dari kapsul itu bocor dan bereaksi dalam lambungku, membuatku over dosis. Inilah akhir perjalanan hidupku Lia si pembantu kecil.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here