Lia Si Pembantu Kecil #04

0
1335
views

Keesokan paginya aku bangun lebih awal dari biasanya.Ku atur jam beker kecil yang ada dikamar agar bisa membangunkanku jam tiga dini hari. Selesai menjalankan ibadah sholat sunah dua rakaat aku lanjut membaca beberapa surat pendek. Walaupun dirumah ini cuma aku saja yang beragama muslim, semangatku untuk beribadah tetap kuat. Aku ingin mendekatkan diri kepada sang pencipta dan mensyukuri semua riski yang aku dapatkan. Bersyukur ditempatkan diantara orang-orang non muslim yang nyatanya mereka baik dan tidak pernah melarangku menjalankan kewajiban. Bahkan Ibu menyediakan mukena dan sajadah lengkap dengan tasbihnya untuk ku pakai.

Selesai sholat subuh, aku langsung memulai kegiatan rutin membersihkan rumah dan membereskan semua bagian dapur. Ku kerjakan semua dengan penuh semangat. Di fikiranku terus terbayang betapa senangnya aku akan sekolah lagi. Kalo ada kesempatan bahkan aku bisa kuliah dan menggapai mimipiku menjadi seorang guru. Tak bisa ku bayangkan wajah bangga kedua orang tuaku nanti. Karena saking semangatnya jam lima pagi semua pekerjaanku sudah selesai. Sekarang tinggal menunggu bapak dan ibu bangun lalu menyiapkan teh untuk mereka berdua. Aku layani mereka dengan baik, agar mereka senang.

Tapi pada kenyataanya, pagi ini bapak sama sekali tidak membahas masalah sekolah itu dengan ibu ataupun dengan ku. Mungkin saja hari ini adalah hari yang sibuk untuk bapak, jadi aku juga harus tau diri untuk sabar menunggu.

****

Sudah sebulan semenjak bapak menjanjikanku untuk mendaftar sekolah, tapi belum juga ada tanda-tanda bahwa aku akan segera bersekolah. Tapi semua tidak menyurutkan semangatku, aku tetap bekerja dengan baik dan melakukan semuanya dengan sepenuh hati. Ku temani Arya belajar dan bermain sama seperti adik kandungku sendiri, ku temani dia saat hendak tidur. Bahkan saat Arya buang air pun aku yang menyeboki nya. Semua benar-benar kulakukan dengan tulus. Mungkin ini lah alasan para orang kaya lebih memilih mengambil pembantu dari desa, kebanyakan gadis desa itu masih lugu dan polos. Selain itu mereka benar-benar tulus menukarkan seluruh waktunya untuk sebuah gaji yang di dapat hanya setiap sebulan sekali.

Hari ini adalah hari dimana aku mendapatkan gaji pertamaku, uang tutup mulut dari bapak semua aku simpan rapi. Dalam satu bulan ini sudah enam kali bapak bertemu dengan lelaki berkumis itu, dan otomatis sudah 300ribu pula uang itu ku dapatkan. Aku tak pernah berfikir untuk apa aku harus tutup mulut, yang ku tahu bapak berjualan sesuatu kepada lelaki berkumis itu dan bapak melarangku untuk memberitahu ibu. Mungkin bapak gak mau kalo laba hasil jualannya diminta ibu. Hanya itu yang ada dalam fikiranku sampai saat ini.

Dan ibu sendiri terlalu sering keluar rumah untuk sekedar nonton dan jalan-jalan. Sampai dirumah langsung masuk ke kamar dan hanya keluar untuk mandi dan makan.

Tak pernah ada waktu untuk mengecek isi rumahnya sendiri. Bahkan tak pernah sempat melihat isi dari tempat pengering baju yang beralih jadi tempat penyimpanan dagangan bapak itu.

Hari ini waktunya mbak Dini tetanggaku yang juga sebagai penyalur PRT mengunjungiku. Menanyakan kabarku, apakah aku kerasan tinggal bersama majikanku. Kuceritakan semua kepada mbak Dini, dia lega karna aku kerasan kerja disini. Artinya mbak Dini juga mendapat uang sangu dari majikanku. Sebelum pulang ku titipkan semua uang gajiku untuk ibu dikampung. Gaji pertamaku, spesial untuk ibuku tersayang, sedang uang pemberian bapak sebagian ku belikan baju dan mainan untuk adikku. Ku titipkan semuanya, karna kudengar mbak Dini akan pulang ke desa untuk mencari calon pembantu baru untuk tetangga sebelah rumah majikanku. Kabar gembira untukku pula, karna itu artinya akan ada teman yang aku kenal di komplek perumahan ini.

Malam hari seperti biasa ibu menunggu kedatangan bapak, tapi sudah sampai larut bapak tidak pulang juga. Aku sudah lelah bekerja seharian, menemani Arya main dan bersepeda membuat kakiku capek. Aku meminta ijin kepada ibu untuk istirahat, tadinya aku menemani Ibu dan Arya di depan televisi. Arya juga sudah tertidur dan akupun langsung masuk kekamarku.

Kira-kira tiga atau empat jam setelah aku tidur, ku dengar suara ribut-ribut dari ruang tengah.

“Jujur sama aku Pak, selama ini bapak ada usaha sampingan apa kenapa selalu pulang terlambat?”.

“Sudah diam..!”

Kali ini sangat jelas semua yang dibicarakan oleh bapak dan ibu, bukanya aku berniat menguping, tapi karena suara mereka yang begitu lantang membuat aku jadi mendengar semuanya. Rupanya ibu sudah mulai tau kalo selama ini bapak berjualan, dan uangnya tidak pernah sekalipun di berikan kepada ibu. Mungkin itulah penyebab ibu marah-marah.

“Kalo bapak gak mau jujur sama Ibu, lebih baik ibuk pulang saja ke tegal, kerumah orang tua ibu”.

Terus saja ibu menangis, dan mengomel. Katanya dia membaca beberapa pesan singkat di ponsel bapak tentang transaksi yang akan dilakukan. Tapi sampai sekarang bapak masih enggan menjelaskan apapun.

Suara mereka semakin ribut, Arya tiba-tiba datang ke kamarku dan memelukku.

” Mbak, Arya takut”.

Aku berusaha menenangkan Arya, padahal aku sendiri juga merasa takut. Pertengkaran antara bapak dan ibu semakin menjadi, ibu mengancam akan bunuh diri kalo tidak di izinkan untuk pergi dari rumah.

Door…!
Terdengar seperti bunyi tembakan, setelah itu tak ada lagi suara ribut antara keduanya. Aku terus mendekap Arya, dalam hati kecilku aku ingin pergi saja dari rumah ini aku takut. Tapi aku tak punya cukup keberanian. Bahkan untuk mengintip apa yang terjadi saja aku tak berani. Hingga akhirnya aku dan Arya ketiduran dikamarku.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here