Lia Si Pembantu Kecil #02

0
105
views

Bukanya ini namanya mesin cuci, kenapa isinya obat-obatan. Ada banyak sekali obat berbentuk kapsul dan tablet disini. Apa mungkin bapak sedang sakit?. Aku kembali menutup mesin cuci itu, karna kurang hati-hati terdengar suara terbanting yang membuat bapak keluar dari kamar mandi.

“Kamu lihat apa, Lia!”

“Anu pak pil, pil besar-besar didalam mesin cuci, tadinya kulo mau nyuci baju pak”.

Wajah bapak terlihat sedikit menegang, seperti ada rahasia yang tak boleh diketahui siapapun.

“Jangan bilang apa-apa sama ibu tentang apa yang kamu lihat barusan, akan bapak kasih kamu hadiah nanti kalo kamu nurut”.

“Nggeh pak”.

Dalam hatiku masih saja terus berfikir, siapa yang sakit? Siapa yang minum obat itu?.
Biasanya kalo aku sakit, Bu dokter di puskesmas cuma kasih obat di plastik kecil bertuliskan 3×1. Kalo diminum untuk tiga hari jadi jumlahnya cuma sembilan butir. Kenapa obat tadi banyak sekali, ada ratusan butir sepertinya. Apa bapak sakit parah ya?.

Kudengar pintu kamar Ibu dibuka, alhamdulillah ibu sudah bangun dan baik baik saja. Tapi matanya masih tampak sembab, mungkin karna menangis semalam. Atau mungkin ibu yang sakit ya, tiba-tiba mulutku ingin mengeluarkan pertanyaan itu. Tapi ku urungkan karna melihat bapak yang datang menghampiri kami berdua.

“Buatkan aku teh manis, lalu siapkan bajuku”.

“Nggeh pak”, segera kutinggalkan mesin cuci dan bergegas membuat teh untuk majikanku itu. Jangan dipikir aku tinggalkan mesin cuci dalam keadaan hidup, mesin cucinya masih sama seperti semula. Belum juga menyala, karna aku memang belum tau cara menyalakannya.

Selesai menyuguhkan teh, dan menyetrika baju bapak. Aku menemui ibu yang masih terlihat kurang bersemangat.
“Bu, kulo bade nyuci baju. Niku bajue ten mesin cuci dicuci sedoyo mboten?”

” Baju itu kamu cuci semua, disamping kamar mandi ada bak kosong. Kamu cuci pakai itu ya, sabunnya ada di kardus samping kulkas”.

“Kulo mboten saget nyetek mesine bu”.

“Nyucinya pakai tangan saja biar hemat listrik, jangan pakai mesin cuci”.

Mateng nak, cucian satu kotak penuh ini harus dicuci pakai tangan. Kukira orang kaya kalo punya mesin cuci itu dipakai nyuci. Ternyata cuma buat tempat pil sama baju kotor saja. Kenapa beli mahal-mahal kalau gak dipakai.

Jam enam pagi bapak sudah bersiap berangkat kerja, sebelum pergi kudengar bapak berpesan kepada ibu supaya tidak lagi curiga dan menuduh yang aneh-aneh kalo bapak pulang terlambat.

Arya, anak tunggal ibu sudah bangun. Ibu mengenalkanya kepadaku. Selain bersih-bersih aku juga harus menemani Arya bermain. Anak berusia 4 tahun itu sangat tampan, matanya bulat bersinar, rambutnya lurus hitam lebat, kulitnya putih bersih dan hidungnya mancung. Sangay cocok jadi anak orang kaya, tidak sepertiku yang berkuliy gelap karna kebanyakan mandi di kali.

Rupanya Arya sudah sekolah, jam 8 pagi Ibu mengantar Arya kesekolah dan menungguinya sampai selesai. Karna aku belum pandai memasak tugasku dirumah itu cuma sekedar bersih-bersih dan menemani Arya bermain. Tapi janhan dikira semua itu mudah, untuk anak berusia 14 tahun mencuci 2 ember penuh baju kotor itu sangay melelahkan.

Sekitar jam 10 pagi, ada sebuah mobil berhenti di depan rumah. Loh bukanya bapak sedang bekerja, kenapa kok sudah pulang. Segera ku bukakan pintu dan mempersilahkan majikaanku itu masuk.

Tak berapa lama, ada mobil berwarna putih yang parkir tepat dibelakang mobil bapak. Seorang lelaki bertubuh tinggi besar turun dari mobil bagus itu. Wajahnya terlihat menakutkan, kumisnya tebal dan hitam. Bajunya sangat ketat melekat pada tubuhnya.

Setelah membuka pintu bapak memintaku untuk ke dapur dan melarangku ke depan. Samar-samar ku dengar lelaki itu bilang ke bapak, kalo jumlah uangnya semua ada 20juta. Entah apa yang dibeli lelaki itu, dengan jumlah uang sangat besar. Aku membanyangkan berapa lama aku harus bekerja supaya bisa dapat uang 20juta itu, sedangkan upahku bekerja disini hanya 350ribu sebulan.

Bapak kembali berpamitan setelah lelaki itu melaju dengan mobilnya. Sebelum kembali berangkat bapak memberikanku uang 50ribu, dan memintaku untuk tutup mulut dan merahasikan semua dari Ibu.

Uang jajan yang sangat besar, setara gajiku beberapa hari hanya untuk tutup mulut.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here