Lia Si Pembantu Kecil #01

0
3067
views

Usiaku masih empat belas tahun saat aku memutuskan untuk bekerja. Waktu itu aku sudah lulus dari sekolah menengah pertama. Dengan modal ijasah yang ku miliki aku mengadu peruntungan di Ibukota. Saat itu lulusan SMP sepertiku mudah saja mendapatkan pekerjaan di toko, rumah makan dan mall. Tapi karna belum banyak pengalaman dan tidak ada teman yang mengajak, aku cuma bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Babu atau pembantu adalah sebutanku waktu itu, bukan seperti sekarang yang lebih keren diganti dengan ART.

“Bu, nami kulo Lia restiani, umur 14 tahun”.

Ku perkenalkan dengan singkat siapa diriku kepada calon majikanku.

“Apa kamu bawa ijasah kamu?, umur 14 tahun kok sudah lulus SMP emang dulu kamu masuk SD usia 5 tahun ya?”.

“injih bu”.

“Nilai ulangan kamu bagus, smua diangka 8 dan 9, kenapa tidak melanjutkan sekolah saja biar masa depan lebih baik”.

Mulutku sudah tak bisa lagi berkata-kata, hanya airmata yang terus menetes dari sudut mata kecilku sambil terus kutundukkan pandanganku.

Dalam hati kecilku aku ingin sekolah, aku punya mimpi sebagai pengajar di tempat-tempat terpencil. Mengabdikan diriku untuk orang lain dan berbagi ilmuku. Tapi yang kudengar biaya sekolah itu mahal, kalo mau jadi seorang guru haruslah kuliah dulu. Sedangkan bapak hanya buruh tani dan ibupun sama.

“Bawa masuk bajumu kedalam kamar itu dan istirahatlah, itu sekarang adalah kamarmu”.

Segera ku kusalami tangan majikan baruku, tempat dimana aku akan mengabdikan diri untuk mendapat sesuap nasi.

Sekitar jam sepuluh malam, kudengar ada sebuah mobil berhenti dan ada suara pintu dibuka. Pasti itu adalah tuanku, ternyata bapak pulang bekerja selarut ini.

Brakkkk….

Baru saja aku hendak memejamkan mata, tiba tiba ku dengar suara benda dibanting. Rupanya ada sedikit pertengkaran antara Bapak dan Ibu.

“Kamu kemana pak, sampai selarut ini baru pulang?. Nggak ada pegawai negeri yang pulang selarut kamu, jam kerja itu dari jam 7 sampai jam 5 saja.”

Terdengar suara ibu berteriak sambil menangis, darahku rasanya mengalir lebih cepat. Keringat dingin mulai mengucur, aku takut sekali.

Brakkk…

Terdengar lagi suara benda di banting, kali ini lebih keras dan di ikuti lagi suara tamparan.

“Apa kamu bilang, kamu menuduh aku selingkuh. Aku pulang kerja capek-capek malah kai berondonh dengan pertanyaan nggak masuk akalmu itu”.

“Aku muak bu, setiap hari kau selalu saja cemburu buta, menuduhkan macam-macam. Dicintai, disayangi, masih saja kurang. Tadi ada acara ulang tahun teman, ponselku habis batrainya mangkanya aku gak bisa telfon kamu”.

“Sekarang sudah malam jangan buat kegaduhan, kasian anak kita terganggu tidurnya”.

Ku dengar Ibu masih menangis, di susul suara rengekan anak kecil. Aku tak berani mengintip, rasanya tubuhku masih gemetar. Ini pertama kalinya aku melihat pertengkaran orang dewasa. Walaupun hidup dalam keadaan susah, Bapak dan Ibuku dikampung sangatlah rukun. Walaupun cuma makan lauk tempe dan sambal tak pernah ku lihat mereka bertengkar seperti ini, semua damai.

***

Esok paginya selesai sholat subuh, ku mulai pekerjaan rumahku. Aku sedikit bingung, biasanya dikampung saat bangun tidur aku membantu ibu manyapu halaman depan. Apa yang harus aku kerjakan sekarang. Kuputuskan untuk keruang tamu tempat dimana pertengkaran semalam terjadi, aku penasaran benda apa yang kira kira dibanting semalam sama Ibu bosku.

Aneh, semua bersih tak ada satupun yang berantakan. Semuanya rapi seperti saat aku datang. Mungkin sebelum tidur ibu membereskan semuanya.

Aku mulai mengelap meja, dan semua perabotan yang ada di ruangan itu. Satu persatu ku hilangkan debunya. Setelah itu aku lanjut menyapu dan mengepel lantainya.

Setelah semua beres, aku menuju ke bagian belakang. Ku sapu dapur dan meja makan. Selesai itu ku kumpulkan semua piring kotor dan mulai mencucinya. Selesai mencuci piring aku di kejutkan sosok pria tinggi berbulu dada lebat yang bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana kolor pendek diatas lutut.

“Pagi Pak, saya Lia”

“pagi juga, kerja yang bener nanti kamu akan dapat hadiah dari bapak”.

Majikan laki-lakiku ini mengagetkanku saja, dia bangun sepagi ini padahal semalam pulangnya sudah sangat larut. Sedangkan majikan perempuanku malah masih tertidur.

Rumahnya tidak terlalu luas hanya berukuran 10×12 meter saja. Ada dua kamar tidur berjejer, ditambah 1 ruang tamu, tepat disamping ruang tamu ada sebuah ruangan kecil seperti gudang berisi semua baju dan mainan Arya, anak dari majikanku. Diruang belakang ada dapur, ruang makan, tempat cuci piring dan kamar tidurku. Tepat disampingnya ada gudang lalu kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untukku membersihkan semua bagian rumah ini.

Tapi mataku terbelalak ketika membuka sebuah benda berbentuk kotak, biasanya benda ini digunakan sebagai pencuci baju.
Astagfirullah….!

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here