Kepergiannya..

0
199
views

Pukul 02.00 batuk-batuk, gak berhenti. Pukul 03.00 kritis, gak sadarkan diri dan dilarikan kerumah sakit.

Sampai dirumah sakit, hanya 5% kemungkinan akan sadar dan normal. Karena denyut nadi sudah tak ada lagi. Tapi, jantung masih berdetak. Jantung masih panas. Otak sudah tak bekerja lagi, sudah hilang kesadaran total, kata dokter yang menangani.

Pukul 03.20 kami semua diminta berdiri didekatnya, membisikkan ke telinganya, kami disuruh ikhlas. Kulihat kakak sudah setengah berteriak. Adik perempuan ku juga. Yang laki-laki sudah meraung dibawah tempat tidur. Aku? Masih setengah sadar. Antara percaya dan tidak. Cairan bening itu mengalir, tanpa henti.

Padahal, malam harinya masih kulihat dia tertawa terbahak-bahak. Masih kuingat senyum terakhirnya saat ingin memasuki kamar agar segera terlelap. Dan aku? Entah lah. Malam itu kedua netraku susah untuk dipejamkan.

Sekitar pukul 02.00, Aku beranjak ke kamar mandi, dengan niat ingin membasuh muka. Seingatku, sempat aku shalat dan berdo’a agar Allah panjangkan umurnya dan bahagiakan mereka selalu. Ayah dan ibuku.

Ketika beranjak ingin ke kamar, kudengar ia terbatuk. Tak mau berhenti. Katanya, ada yang mengganjal tenggorokan nya. Kuberi minum sembari mengusap punggungnya. Rasa khawatir tiba saat batuk tersebut tak kunjung reda. Kubangunkan Ayah, kakak serta adikku yang telah lebih dulu terlelap.

Masih, batuk itu masih susah berhenti. Ibu, apa yang terjadi?

Aku menatap adikku yang telah meraung-raung dibawah tempat tidur. Kupeluk dia, kudekap tubuhnya. Masih, dengan tangan gemetar tak berdaya. Masih sempat bertanya-tanya, apa ini sebuah mimpi? Ah, pasti mimpi. Rasanya aku ingin segera bangun. Tapi, cairan bening itu kembali mengalir dari netraku. Aku segera sadar, ini bukan mimpi. Ini nyata.

Adikku yang satu lagi terus berupaya membangunkan ibu, kuyakin, hatinya pasti hancur. Sama seperti hatiku dan yang lainnya. Hancur berkeping-keping. Kenapa harus tiba-tiba? Padahal belum sempat kami meminta maaf karena Ramadhan hanya beberapa jam lagi.

Kupegang kakinya yang sudah membeku, dingin. “Ibu.. Secepat inikah kau pergi? Kemana lagi tempat kami mengadu?” Kedua netra ku kembali mengeluarkan cairan itu. Hidungku tersumbat, sesekali sesegukan.

Kulihat Ayah, yang matanya pun sudah memerah, pasrah.

Aku terdiam, saat dokter mengatakan “Waktu kematian pukul 03.45”

Peluk, kasihi, hormati, cium bila perlu.. Jika masih diberi kesempatan untuk melakukan segalanya yang tak bisa kulakukan lagi dengan ibundaku.

Seorang ibu mampu merawat 10 anaknya, tapi sangat jarang 10 anak mampu merawat satu orang ibundanya.

Silahkan Komentar
Berita sebelumyaReuni
Berita berikutnyaHarta Suamiku
Gangguan terbesar saat menulis itu adalah MENGANTUK. Baru dapat segini sudah sangat lengket ini mata😭😭coba kalau di ajak ngebucin? Pasti melek sampai tengah malam😫
BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here