Kencan Kedua #03

0
114
views

“Rania, kamu bisa tahan Dewa, kan?” pinta Mama beberapa menit tadi.

“Mama

akan jemput dia,” lanjutnya. Antara sedikit bimbang akhirnya aku

mengiyakan, walaupun kebingungan tetapi aku merasa senang karena sudah

lama tidak melihat Bonar kebahagiaan di matanya. Mata Mas Dewa.

Ibu menunggu hingga sore sebelum akhirnya meninggalkan kami berdua di rumah.

Sepoi-sepoi angin yang berhembus membuat Mas Dewa mengerjap-ngerjapkan

matanya karena mengantuk.

“Mas, kalau ngantuk tidur saja. Nanti kubangunin,” kataku memintanya untuk

sedikit bersantai di rumah, apalagi Mama belum datang menjemput maka akan susah jika Mas Dewa pergi.

“Tidak, aku ingin duduk di sini bersamamu, rasanya seperti sudah lama kitatidak seperti ini, apa aku hanya merasa sangat merindukanmu saja ya.”

Dia menolak saranku dan mulai mengatakan banyak hal.

“Aku ingin menghabiskan waktuku denganmu seperti ini. Karena … aku merasa sepertinya aku sering kehilangan waktu. Juga kehilanganmu.” Dia

memandang ke depan, kemudian beralih ke arahku.

Lalu ….

Cup. Kecupan lembutnya di pipi mendarat dengan indah.

“Aku, bahkan sepertinya pernah menciummu seperti ini sebelumnya, tapi aku lupa,” katanya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Maaf,  jika aku kurang ajar,” pintanya dengan pelan. Dia seperti baru pertama kali menciumku dan akupun juga, kepalaku mengangguk ke arahnya sedangkan tanganku menyentuh pipi yang tadi telah di kecupnya.

Aku ternyata masih merindunya.

“Ehem.” Suara dehem tiba-tiba terdengar dari arah depan.

Aku terkejut, hatiku berdebar tak karuan.

“Rupanya ada yang sedang kasmaran di sini,” kata seorang lelaki berpostur jangkung dengan jenggot tipis di sekitar dagu. Dia sama tampannya dengan  Mas Dewa.

“Eh, Mas Anjas. Kapan datang?” tanyaku bodoh. Sudah jelas dia berdiri baru saja di depanku eh, malah bertanya basa-basi.

“Sudah lumayan lama untuk melihat kalian saling bercumbu,” jawabnya asal. Kami  hanya sekedar mencium di pipi, itupun aku yang dikecup bukan saling.

Mas Dewa bangkit dan mendekati Mas Anjas.

“Maaf, anda siapa?” tanya Mas Dewa tanpa dosa. Dia menanyakan nama sahabat terbaiknya sewaktu kuliah dulu.

“Oh, jadi setelah melepaskan Rania, maupun mulai amnesia.”

“Mas!” teriakku, saat tangan keduanya saling mencengkeram.

“Berhenti,  kalian sudah dewasa. Jangan bertingkah seperti anak-anak,” lanjutku sambil menarik tangan Mas Anjas dan membawanya menjauh.

“Sudah cukup. Sialan. Mau apa lelaki itu datang?” tanya Mas Anjas geram.

“Dan, apa-apaan itu tadi. Dia pura-pura lupa padaku.” Suara Mas Anjas meninggi menandakan rasa kesalnya. Ada wajah tak suka yang diperlihatkannya.
“Lalu, kau. Dengan mudahnya dirayu begitu saja.”

“Mas.”

“Dia memang lupa pada semua, kecuali beberapa hal.” Aku menjelaskan sedikit yang kutahu kepada Mas Anjas.

“Oh, jadi dia memilih lupa padaku dan hanya mengingat mu?” tanyanya yang aku tak tahu bagaimana menjawabnya.

“Hah. Modus,” lanjutnya kesal.

“Tapi, aku yakin dia tidak sedang mencari alasan.” Aku mengatakan analisisku kepadanya dengan sedikit ragu, tetapi entah kenapa aku merasa Mas Dewa tidak berbohong.

“Bagaimana kau tahu?”

“Aku tak tahu, belum. Setidaknya kita tunggu sampai Mama datang menjemputnya.”

“Mama?” tanya Mas Dewa yang begitu saja sudah datang di belakang kami.  “I-iya. Mas,” jawabku gugup.

“Tadi Mama menelpon katanya mau menjemput Mas Dewa.” Aku mengatakan percakapan kami.

“Kenapa menjemputku? Bukankah aku ke sini membawa mobil sendiri?” tanyanya.

“Dasar pikun!” Suara Mas Anjas meninggi lagi.
“Hanya satu mobil yang terparkir di depan. Itu mobilku!” Mas Anjas menjawab sambil mendekat ke arah Mas Dewa kemudian menaruh tangannya di atas dahi Mas Dewa.

“Kau memang sakit,” katanya penuh dengan ejekan. Mas Dewa mengepalkan tangannya di samping tubuhnya yang jenjang. Dia menahan amarahnya.

Refleks, aku menyentuh tangannya dan menenangkan. Kepalaku menggeleng mencegahnya marah.

“Kau yakin aku pernah mengenalnya?” tanyanya  kepadaku dan anggukan kepalaku membuatnya tak suka.

“Mungkin karena dia menyebalkan, makanya aku melupakannya,” ucapnya santai.

Apakah aku dulu juga menyebalkan Mas, hingga kau melupakan kehadiranku dulu.

Pikiranku melayang mengingat kenangan pedih itu, dulu.

Namun, wajah lelaki di depanku ini membuatku  tak berdaya. Dia masih saja mampu menumbuhkan rasa cinta yang sama di hatiku.

“Dewa.

Kita pulang,” ucap Mama menyapa kami semua. Ada kebingungan di wajah Mas Dewa tetapi dia tetap menghormati Mama dan berpamitan.

Esok hari Mama berjanji akan menerangkan kepadaku, sebenarnya apa yang terjadi?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here