Kencan Kedua #02

0
144
views

“Lho, kok rambutmu jadi pendek?” Mata Mas Dewa memandangku lekat, ada rasa tak enak membayang di wajahnya.

“Apa aku membuatmu sakit hati?” Pertanyaannya selanjutnya meruntuhkan pertahananku.

Aku
ingat bagaimana dulu dia memintaku mengatakan semua perasaan dalam
hatiku kepadanya, jika memang tak sanggup maka dengan tindakan, semisal
memotong rambut panjangku menjadi pendek sebahu.

Aku terduduk diam di depan pintu, menangis dan menutup wajahku.

Pertanyaan
Mas Dewa tadi membuka luka lama, memunculkan kembali kenangan tak enak
karena digantung statusku oleh keputusannya selama setahun dan sekarang
dia datang sambil bertanya apakah dia berbuat salah dengan polosnya.

Ya Tuhan.

Cobaan apa lagi ini?

Apakah
kepala Mas Dewa baru keantuk batu, atau kejedot tembok hingga lupa
ingatan? atau jangan-jangan ini taktiknya agar setelah ketidakjelasannya
setahun ini termaafkan maka dia pura-pura amnesia?

Ah, aku tak tahu.

Namun yang jelas wajah di depanku terlalu pintar akting jika semua ini hanya pura-pura.

“Maafkan
aku, Babe. Aku benar-benar lupa atas apa yang kulakukan padamu. Tapi,
aku berjanji akan merubah semuanya dan membahagiakanmu kembali.”

Aku tertegun, kuhapus bulir-bulir air mata yang mulai mengering. Kenapa lelaki ini sama persis dengan Mas Dewa yang dulu.

Mas Dewa yang tulus mencintaiku.

Aku tersenyum samar, kemudian memegang tangannya. Jujur, aku masih merindukannya. Semoga ini bukanlah sebuah dosa.

Dia mengulurkan buket bunga yang tadi dibawanya kemudian menyuruhku menyimpannya dalam vas di atas meja.

“Kurasa bunga ini cocok dimasukkan ke situ,” katanya sembari menunjuk letak Vas. Aku mengangguk.

Detik berikutnya aku kembali dibuatnya terheran-heran.

“Babe,” panggilnya.

“Heem.” Aku menoleh melihatnya.

“Di
mana pohon mangga manalagi yang kemarin masih tumbuh di depan sini.
Kenapa sehari saja aku tak kesini kok pohonnya sudah ditebang habis,”
tanyanya lagi. Aku ikut melihat bekas letak pohon mangga manalagi yang
sudah ditebang belasan tahun lalu. Bahkan saat itu Mas Dewa lah yang
berlagak bak algojo di depan pohon. Kemudian memotongnya dengan pelan
yang membuatnya diledek oleh sepupu-sepupuku.

“Entahlah, mungkin dibawa Jin.”

“Simsalabim,” jawabku sekenanya.

Mas Dewa tertawa bahagia tanpa dosa, sementara aku menyimpan banyak tanya di kepala.

***

Hari
beranjak semakin siang dan Mas Dewa masih ada di rumahku. Ibu sengaja
menatakan makan siang untuknya sambil memandangi wajah Mas Dewa yang tak
berhenti tersenyum. Dia terlihat sangat tampan.

Wajah ibu juga terlihat bahagia, aku yakin sesungguhnya Ibu juga merindukan Mas Dewa yang ramah dan mudah bergaul.

“Jika
dia memang berubah seperti ini lagi, Ibu rela kamu balik sama dia,”
bisik Ibu sambil pura-pura mengambil daging di depanku.

Tak ada jawaban dariku. Hanya tatapan tajam yang kuarahkan padanya.

Sialnya,
usahaku mengenali ciri keanehannya malah dianggapnya main-main. Dia
mengajakku bermain ‘betah-betahan’ memandang, ya Salam.

Ada apa sebenarnya denganmu, Mas.

Mumpung
Mas Dewa ditemani Ibu, aku segera mengambil ponsel dan melakukan
panggilan ke nomer watsapp Mama. Ibu Mas Dewa sekaligus mertuaku yang
baik hati.

Untunglah
aku masih menyimpan nomernya. Menjadi mantan bukan berarti tidak lagi
menjalin hubungan pertemanan, persaudaraan. Iya, kan.

Panggilan itu tersambung.

Mama juga masih menyimpan nomerku, karena begitu diangkat dia menyapaku renyah.

“Halo, menantu Mama. Apa kabar?”

“Alhamdulillah baik, Ma,” jawabku.

“Mama bagaimana? Baik-kah?” tanyaku akhirnya.

Mama menjawab pendek, “Iya.”

“Oh ya, Ma. Maaf mau tanya.”

“Ada apa?” katanya menanggapi rasa ingin tahuku.

“Apakah
Mas Dewa baik-baik saja?” Mulut Mama kurasa tercekat, karena ada jeda
di sana yang menandakan dia berpikir sebelum memberiku jawaban konkrit.

“Kau tahu di mana Dewa sekarang, Rania?” tanya Mama lebih ke arah interogasi. Aku mengangguk walaupun Mama tidak melihatku.

“Dia datang ke rumahku,” jawabku jujur.

“Benarkah? Tadi pagi aku mengantarnya ke rumah sakit tetapi sayang dia malah kabur,” lanjut Mama.

“Jadi, Mama tahu apa penyakit Mas Dewa?” Mama terdiam, menggantungkan jawabannya di udara.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here