Kecelakaan Usai Tujuh Bulanan

0
166
views

Harapan didalam sebuah pernikahan salah satunya adalah diberi keturunan. Tidak hanya kami sebagai pengantin baru, kedua orang tua kami pun mempunyai harapan yang sama, dapat menimang cucu di usia mereka yang mulai senja.

Alhamdulillah, dengan usaha dan juga doa akhirnya penantian kami terwujud. Allah memberi amanah pada kami setelah tiga bulan usia pernikahan. Beruntung, itu yang ada dalam pikiranku saat itu. Mengingat ada banyak wanita di luar sana yang masih menanti kehadiran seorang bayi dalam pernikahan mereka, bahkan bukan hanya hitungan bulan, ada yang usia pernikahan mereka sudah memasuki usia dua, tiga, empat, bahkan mungkin sepuluh tahun mereka masih dengan sabar menanti kehadiran sang buah hati.

Terlepas dari doa dan usaha, jodoh, mati juga kehadiran seorang anak adalah ketentuan Allah yang tidak bisa kita tawar. Kita sebagai manusia hanya bisa pasrah dan berdoa semoga segala kebaikan juga keberkahan menaungi kehidupan kita.

Mengadung bukanlah hal yang mudah bagi seorang ibu. Banyak kendala-kendala yang mereka rasakan selama masa kehamilan, salah satunya diantaranya adalah mual atau muntah-muntah. Dalam hal ini, aku merasa sangat beruntung tidak pernah mengalami mual atau pun muntah-muntah. Setiap hari pun aku bisa mengerjakan pekerjaanku dengan leluasa.

Mengajar adalah kegiatanku setiap hari, dimana aku dituntut untuk berjalan dari ruang guru sampai ke kelas dengan jarak yang tak dekat dan itu kulakukan hampir setiap dua jam sekali hingga jam pulang sekolah. Lelah, pasti. Namun hal itu sangat menguntungkan buat seorang ibu yang sedang mengandung seertiku, dimana berjalan adalah salah satu olah raga yang sangat disarankan. High heel yang biasa kukenakan pun sekarang kuganti dengan sepatu flat. Aktivitas itu berlangsung lama hingga usia kehamilanku memasuki usia ke tujuh bulan.

Jauh dari suami menuntutku agar bersikap lebih mandiri. Setiap hari aku mengendarai sepeda motor menuju tempat kerja dengan perut yang semakin membesar juga jalanan yang tak begitu mulus hingga menimbulkan rasa nyeri di perut bagian bawah. Tanpa berpikir panjang, setiap akan berangkat kerja, akhirnya kuputuskan untuk menyangga perut dengan mengikat bagian bawahnya menggunakan kain panjang agar tidak merasakan getaran di sepanjang perjalanan menuju tempat kerja.

Aku pun rutin mengontrol kehamilanku di dokter spesialis kandungan hampir setiap bulan sekali dan alhamdulillah janinku sehat, kuat, berat janinpun tidak terlalu kecil juga tidak terlalu besar. Dokter hanya memberikan vitamin dan penguat hamil agar janin tumbuh dengan sehat dan sempurna

Saat kehamilanku masuk di usia tujuh bulan, aku dan keluarga besar mengadakan acara “tujuh bulanan” atau biasa disebut “mitoni” oleh orang jawa. Tepatnya pada hari minggu siang tanggal 16 tahun 2012 di rumah ibu mertuaku. Sampai pada pertengahan acara, yakni ketika suami memasukan seekor belut kedalam kain yang di lingkarkan ditubuhku, belut tersebut keluar dalam keadaan tidak bergerak meski belut tersebut masih hidup. Hingga samar-samar bisikan tak mengenakan dari beberapa tamu dapat kudengar tak jauh dari tempatku berdiri.

“Heh, welute kok ora obah?” (Heh belutnya kok tidak gerak?)

Lalu ditimpali oleh tetangga yang lainnya.

“Iyo kok ra obah yo? Mugo-mugo selamet jabang bayi.” (Iya tuh, kok nggak gerak ya? Semoga selamat jabang bayinya.)

Prosesi memasukkan belut lalu membiarkannya keluar dalam acara nujuh bulan itu diartikan oleh sebagian penduduk jawa sebagai harapan agar diberi kelancaran, kesehatan pada si ibu hamil dan juga janin yang di kandungnya.

Setelah mendengar bisikan-bisikan itu, seketika aku merasakan nyeri diulu hati. “Memangnya kenapa jika belut yang keluar itu tidak bergerak dengan lincah? Apakah itu merupakan pertanda buruk buatku atau janinku? Naudzubillah himindalik, astaghfirullah, semoga Allah senantiasa menjagaku dan bayiku aamin,” batinku.

Pukul 4 sore, akhirnya acara nujuh bulanan itu selesai dan berlangsung dengan lancar. Kami pun berberes-beres dan membersihkan rumah. Setelah semuanya selesai. Aku dan suami kembali ke rumah kedua orang tuaku. Setelah menikah, kami memang tinggal dengan orang tuaku. Keterbatasan gaji dari suami yang bekerja sebagai seorang honorer begitu juga dengan aku membuat orang tuaku bersikeras meminta kami agar tinggal sementara dengan mereka sebelum mempunyai cukup uang untuk membeli rumah atau mengontrak.

Senin pagi pukul 06.00 suamiku berangkat ke tempat kerjanya, tepatnya di Semarang dengan menggunakan sepeda motornya. Begitu pun denganku, kembali mengajar seperti biasanya. Aktivitas mengajar berjalan dengan lancar dari hari senin sampai rabu aku berangkat dan pulang dengan menggunakan sepeda motor juga dengan kondisi jalan yang tidak mulus. Lelah dan rasanya semakin payah karena perutku yang kian membesar. Tidak ada keluarga yang bisa mengantarku pergi ke tempat kerja karena kesibukan mereka masing-masing. Aku pun menyadari itu, aku juga berpikir bahwa aku mampu melakukannya sendiri.

Kamis sore setelah jam pulang sekolah, aku pulang dengan perasaan biasa-biasa saja tanpa firasat apapun seperti hari-hari sebelumnya. Aku pun mengendarai sepeda motorku dengan pelan melewati jalannan yang bergelombang. Dari sisi kiri kulihat ada sebuah mobil pickup yang hendak memotong jalan, kupikir sang supir melihatku jadi kuputuskan untuk tidak berhenti. Ternyata aku salah, mobil itu tetap menerobos hingga akhirnya hantaman yang cukup keras dari sisi kiriku benar-benar membuatku terjebak. Tubuhku tak dapat kugerakkan, aku duduk dengan posisi telungkup, satu kakiku masuk ke sela-sela bodi mobil dan tidak bisa aku tarik. Sang supir panik, ia pun memundurkan mobilnya namun naas, kakiku justru ikut tertarik. Hingga orang-orang disekitar lokasi kejadian pun menghambur ketakutan. Mereka berteriak,

“Stop, pak. Stop. Kakinya terjebak.”

Hingga beberapa gebarakan yang dialamatkan pada mobil itu pun di lakukan oleh masyarakat sekitar.

Semua orang panik melihat kondisiku yang hamil besar itu, tak terkecuali aku. Badanku lemas seketika, rasa takut akan kehilangan bayiku pun tiba-tiba muncul dalam benakku. “Ya Allah lindungilah bayiku, ijinkan dia tetap hidup dan sehat ya Allah,” doaku dalam hati bermasaan dengan rasa cemas juga nyeri hebat di bagian perut.

Kaki yang terluka parah tidak dapat kugerakkan sama sekali. Sebagian orang membopongku, sebagian orang lagi memberhentikan mobil yang melintas untuk mengantarku ke rumah sakit. Panik. Didalam mobil pun aku nangis sesenggukan. Hingga salah seorang yang mengantarku mengkhawatirkan keadaanku, “Mba, tenang dulu ya, sebentar lagi sampe.”

Setelah mobil itu tiba di rumah sakit, aku langsung dibawa ke ruang UGD. Di ruangan itu, aku langsung mendapatkan penanganan. Salah seorang perawat datang, ia langsung mengecek kenadunganku. “Alhamdulillah, detak jantungnya masih normal mba.” Setelah mendengar ucapan sang perawat, aku pun meneteskan air mata, lega dan merasa bahagia yang teramat sangat. “Alhamdulillah ya Allah, terimakasih Engkau sudah menjaga janinku,” ucapku dalam hati seraya menyeka bulir bening yang tak kunjung reda.

Setelah lima menit, dokter jaga pun datang. Ia mengecek kondisi janinku dan hasilnya baik-baik saja. Setelah itu melihat luka sayatan dikakiku, menggerakan telapak kakiku namun aku justru merasa kesakitan. “Lukanya cukup besar, mba. Ini harus di jahit dulu ya. Untuk beberapa minggu mungkin mbak tidak bisa jalan, karena bengkak. Untuk sementara, mbak bisa menggunakan kursi roda.” jelas dokter.

Aku hanya mengangguk pasrah. Tidak ada hal lain yang membuatku semangat menjalani hari-hari di kursi roda nanti kecuali setelah mengetahui janinku dalam keadaan baik-baik saja.

Sesaat ada sebersit pikiran tentang belut yang tak bergerak pada saat acara nujuh bulanan itu. Aku menghela nafas, lalu beristighfar mencoba mengeyahkan pikiran sirik itu. “Ya Allah ampuni aku, aku yakin semua ini sudah menjadi ketentuanmu, kehendakmu bukan semata-mata karena belut itu. Sekali lagi ampuni aku ya Allah.” mohonku dalam hati.

******

Setelah melewati hari-hari yang begitu menguras air mata juga kesabaran yang tiada batasnya. Akhirnya pada bulan November, aku melahirkan secara caesar. Bayi itu lahir dengan berat 2,9 kilogram, panjang 50 cm dan fisik yang sempurna juga cantik. Saat itu aku menangis, mengucap syukur tiada henti pada Allah yang Maha Kuasa. Atas kuasaNya lah bayi kami tetap hidup meski sebuah kecelakaan menimpaku. Atas kuasaNyalah bayi kami lahir sehat dan sempurna tak kekurangan suatu apapun. Tidak ada yang mustahil bagi Allah, jika Dia sudah berkendak maka terjadilah.

End…

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here