Jodoh untuk Selina #06

0
45
views

“Mama sakit, kak.” ucap Panji diiringi helaan napas berat. Pandangannya menerawang entah kemana?

Selina mendongak, raut wajahnya menunjukkan gelisah akan apa yang Panji ungkapkan.

“Kamu enggak … bohong kan, Ji?” Selina bertanya ragu.

Panji menarik napas sekali lagi.”Untuk apa bohong, Kak? Mama enggak pernah ngajarin anak-anaknya berbuat demikian hanya untuk mendapatkan sesuatu!” tukasnya membuat Selina merasa tidak enak karena pertanyaan yang ia ajukan membuat Panji yang rela jauh-jauh menjemput dirinya ke kampung itu tersinggung.

“Oh, maaf.” ucap Selina lirih.

Pria itu tersenyum,”nggak apa-apa kak. Yang penting kak Selin mau ikut pulang.”

.
Selina berjalan pelan mengikuti Panji dari belakang. Perasaan was-was menghantui dirinya ketika harus bertemu kembali dengan Bu Riana dan juga … Azka.

“Ayo masuk, kak!” ajak Panji saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar mamanya.

Selina hanya mengangguk. Merasakan hati bak tercabik-cabik saat dirinya berhasil pergi. Mau tak mau harus masuk kembali pada masalah yang sama.

“Assalamu’alaikum, Ma.” Panji mengucap salam seraya mendorong daun pintu dari luar.

Anak laki-laki itu masuk ke dalam ruang pribadi Bu Riana dan Selina masih mengekor dengan kepala tertunduk lesu.

“Ma, lihat siapa yang Panji bawa.” ungkapnya ceria.

Selina mendongak. Memberanikan diri mendekati Bu Riana yang baik hati kini terlihat lemah terbaring di atas ranjang dengan selang infus di tangan kirinya.

“Tante, maafin Selin!” gumam Selina menahan sendu yang bertalu dalam kalbu.

Menggenggam erat telapak tangannya yang dingin. Selina semakin diliputi rasa bersalah.

Panji menceritakan kesehatan Bu Selina menurun setelah dirinya pergi dari rumah ini. Sungguh batinnya tidak mengira niatnya untuk meninggalkan keluarga ini malah membuat semuanya semakin rumit.

.
Selina tidak beranjak dari tempat Bu Riana dari sejak ia datang. Sebisa mungkin dirinya menjaga orang yang paling disayanginya itu sebaik mungkin. Seperti menyuapinya makan, mengantarnya ke kamar mandi dan mengajaknya mengobrol sejenak, sebelum ia beristirahat.

“Kak makan dulu, yuk.” ajak Panji menerobos masuk ke dalam kamar.

“Tante?” ucapnya lirih.

“Mamanya juga udah tidur lagi!”

Selina menoleh pada Bu Riana lalu mengangguk dan ikut keluar bersama Panji yang baik hati.

Sering kali Selina berpikir, kenapa Panji dan Azka begitu berbeda? Tapi dirinya tetap gagal menemukan jawabannya. Karena memang sifatnya manusia demikian beragam.

Jika ada yang membenci, diamkan.
Ada yang baik, sambutlah setulusnya dan ada yang biasa saja. Maka bersikaplah sewajarnya. Jangan terlalu berharap pada sesama manusia, karena sebaik-baiknya pasti ada sisi lain yang ia tutupi.

Selina menatap diri dari pantulan cermin besar di dalam kamarnya. Menyisir rambut panjangnya yang basah.

“Apa yang kulakukan sepertinya memang serba salah.” Selina mendesah lalu membaringkan tubuhnya yang lelah di atas ranjang empuk di dalam kamarnya yang luas dan nyaman.

Ketika pagi datang menyapa dari sorot matahari begitu hangat. Selina masih duduk di atas sejadah. Masih bingung harus berbuat apa? Sementara hatinya bimbang akan keputusan yang ia ambil.

“Apa Azka akan tetap dengan pendiriannya jika aku menyanggupi syarat yang ia ajukan bersama kekasihnya itu? Atau kalau aku tetap menolak, bagaimana dengan tante Riana?” keluhnya dan itu sangat membuat kepalanya berdenyut sakit.

Saat Selina hendak keluar dari dalam kamar. Secara kebetulan, Azka juga menutup pintunya. Mata keduanya bertembung sesaat dan inilah kali keduanya bertemu kembali sejak Selina pergi diam-diam dua minggu silam.

Hawa mendadak begitu dingin, sakan membekukan tulang belulang hingga sulit untuk sekedar menggeser kaki untuk melangkah. Dan semakin membuat Selina gusar, ketika merasakan tatapan Azka masih saja sama.

Merasa tak nyaman karena Azka dengan pakaian santainya tetap bergeming di tempatnya. Selina memilih untuk pergi lebih dulu.

“Ayo kita menikah!” Suara parau Azka menghentikan langkah Selina yang seakan dapat membuat jantungnya berhenti berdetak.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here